Pembelajaran Tatap Muka 2021: Bagaimana Islam Memandang?


Awal Januari 2021, Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim memberi izin pemerintah daerah membuka sekolah untuk tatap muka pembelajaran. "Pemerintah pada hari ini melakukan menyesuaikan kebijakan untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah, Kanwil atau Kemenag menentukan pemberian izin tatap muka untuk sekolah-sekolah di bawah kewenangannya. Kebijakan ini berlaku Januari 2021,". (CNBCIndonesia.com, 28/11). Pembukaan sekolah atau tatap muka harus dapat izin dari tiga pihak yaitu pemerintah daerah, kepala sekolah dan orang tua murid melalui komite sekolah. 

Pembukaan sekolah tatap muka juga harus dengan syarat yang ketat seperti persiapan protokol kesehatan dan kesiapan sistem kesehatan lainnya. "Tatap muka harus segera dilakukan, karena pemerintah menganggap PJJ tidak efektif, terutama didaerah terpencil yang sulit dijangkau akses internet." Semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi, maka semakin besar dampak negatif yang terjadi pada anak," terang Nadiem (CNBCIndonesia.com, 28/11). Ada tiga hal yang menjadi sorotan Nadiem terkait PJJ. Pertama, ancaman putus sekolah. Kedua, kendala tumbuh kembang anak. Ketiga, tekanan psikososial dan KDRT.

Ancaman putus sekolah terjadi karena anak terpaksa membantu orang tua untuk bekerja membantu ekonomi keluarga yang tertekan krisis akibat pandemi covid-19. Di sisi lain orang tua menganggap sekolah tidak ada peran jika pembelajaran dilakukan secara daring. Adapun kendala tumbuh kembang terjadi karena kesenjangan capaian belajar, turunnya keikutsertaan dalam PAUD hingga ancaman learning loss. Sedangkan yang terakhir yaitu tekanan psikososial dan KDRT karena anak stres tidak bertemu dengan orang lain seperti guru dan teman di sekolah, juga tekanan kekerasan dari orangtua.

Jika kita lihat lebih mendalam, sebenarnya masalah pendidikan negeri ini sudah menumpuk bahkan sebelum pandemi melanda. Hal ini menunjukan buruknya pelayanan pendidikan yang ada, sekaligus mengkonfirmasi buruknya penanganan wabah oleh rezim sistem kapitalisme. Tak dapat dipungkiri, negeri ini memang mengikuti negara adidaya Amerika dalam menyelesaikan masalah pandemi atas nama gerakan penanggulangan pandemi global. Padahal nyatanya, Amerika dengan kapitalismenya telah gagal merespon dalam melakukan intervensi pemutusan rantai virus Corona.

Ini wajar terjadi, karena kapitalisme sejak awal memang berorientasi pada materi. Sehingga tidak segera diambil kebijakan pemisahan antara yang sehat dengan yang sakit. Pemerintah justru mengambil kebijakan PSBB dan New normal tanpa ada tracing yang masif. Adanya komersialisasi kesehatan dalam sistem kapitalisme, membuat rakyat tidak inisiatif untuk melakukan rapid test ataupun swab test. Pada akhirnya saat kehidupan dijalankan dengan new normal dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, tetap saja penularan virus tak bisa dibendung.

Inilah yang menyebabkan dilema tatap muka pembelajaran. Di satu sisi orang tua murid menganggap PJJ tidak menjamin kualitas pendidikan, hal ini terjadi karena sulitnya akses internet terutama di daerah terpencil, juga tidak adanya fasilitas seperti laptop, gadget dan sebagainya. Di sisi lain pembukaan sekolah membuat orang tua khawatir terhadap penularan virus Corona.
Jika sejak awal rezim ini segera memisahkan antara yang sehat dan yang sakit, maka karantina akan efektif dilakukan sehingga pendidikan akan bisa dilaksanakan di daerah yang tidak terjangkit wabah. Beginilah rezim kapitalisme yang meremehkan penularan virus dan keselamatan nyawa rakyat. 

Berbeda dengan Islam sebagai ideologi, yang meletakkan paradigma kepemimpinan yang penuh dengan keberkahan dengan sistem yang mampu memberikan solusi sepanjang zaman. Inilah Daulah Khilafah Islamiyyah. Seorang Khalifah atau pemimpin di dalam Islam jika terkena wabah di wilayahnya maka akan dipisahkan segera antara yang sehat dan yang sakit. Berupaya sekuat tenaga agar penyakit di wilayah awal tidak tersebar ke daerah lain. Hal ini karena tujuan dari syariah Islam adalah menjaga jiwa.

Rasulullah Saw bersabda: "Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah, dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa Haq." (HR. An-Nasai & At-Tirmidzi)

Dengan demikian, dalam Islam nyawa manusia harus diutamakan melebihi ekonomi dan hal lainnya. Oleh karenanya jika wabah menimpa kekhalifahan seperti sekarang, Khalifah akan segera melakukan test dan tracing kepada masyarakat. Hal ini harus segera dilakukan karena jika tidak berarti membiarkan virus tersebar dan membiarkan masyarakat menghadapi kematian.

Jika positif terkena virus, dalam dua minggu negara akan segera memantau dan menyusuri kemana saja ia pergi dan bertemu dengan siapa saja. Dan orang-orang tersebut akan segera dilakukan tes. Jika terbukti positif akan diisolasi dan diobati, begitulah seterusnya.

Negara harus menentukan dimana pusat wabah, sehingga daerah lain yang tidak terkena wabah akan tetap produktif seperti biasa, termasuk sektor pendidikan. Ancaman learning loss pun dapat terhindarkan. Inilah pentingnya negara mampu memetakan dengan jelas wilayah yang terdampak dan yang tidak.

Jika memang di wilayah terdampak virus harus dilakukan PJJ secara daring maka Khalifah harus memastikan fasilitas yang memadai sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan.Juga harus dipastikan agar materi pembelajaran tidak membuat siswa, guru dan orang tua stres berkepanjangan yang pada akhirnya anak akan terhindar dari psikososial dan KDRT. Khilafah akan menjamin kualitas pendidikan tidak berbeda dengan tatap muka. 

Dengan demikian, Daulah Khilafah akan menjamin tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran tersebut. Seperti gadget, laptop yang layak serta kuota yang diberikan secara gratis kepada guru dan siswa. Guru diberikan pembekalan agar mampu menjalankan PJJ sesuai dengan tujuan.

Ancaman putus sekolah juga tidak akan terjadi. Pasalnya, khilafah akan menjamin adanya lowongan pekerjaan bagi para suami agar dapat memenuhi nafkah keluarganya. Ini dilakukan bukan hanya ketika terjadi pandemi. Adapun ketika pandemi, jika ia masuk wilayah wabah maka tidak boleh ada aktifitas termasuk mencari nafkah dan negara akan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Semua pembelajaran baik daring ataupun tidak akan dijamin oleh Daulah Khilafah Islamiyyah dengan kualitas yang baik yang diberikan kepada seluruh masyarakat tanpa memandang kaya ataupun miskin.pintar atau biasa, muslim ataupun non muslim. Inilah bentuk periayahan (pengayoman) Daulah Khilafah Islamiyyah yang merupakan sistem kehidupan dari yang maha segala Allah SWT. Wallahu'alam bi ash-shawwab.[]

Oleh: Yuliana, S.Pd. M.Pd.
(Dosen Agama Islam)

Posting Komentar

1 Komentar