Pakar Biomolekuler Beberkan Polemik Keraguan Vaksin



TintaSiyasi.com-- Menanggapi program vaksinasi yang telah digulirkan pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19, Pakar Biologi Molekuler lulusan Harvard University Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph. D, menjelaskan polemik keraguan vaksin tersebut. 

“Pertanyaan-pertanyaan seputar vaksin apakah ada babinya, apakah ada konten najis yang lain seperti bayi hasil aborsi, kandungan kera dan anjing, bagaimana sih produksinya, dan sisi keamanannya,” ungkapnya dalam , Ahad (10/01) di YouTube Ngaji Shubuh.

“Kita ketahui juga ini adalah gambaran bagaimana sistem produksi Sinovac. Vaksin dari negara Cina itu memang menggunakan virus yang utuh dan dalam pembiakannya atau reproduksinya membutuhkan yang dinamakan pembiakan sel. Sel ini berasal dari satu kera dinamakan green monkey, monyet hijau tapi bukan berwarna hijau,” ungkapnya.

Ia mengatakan, media ini penting untuk mengembangbiakkan virus tersebut. Tapi setelah dibiakkan lalu dimatikan dengan beta-propiolakton, sehingga rusak materi genomnya. 

“Jadi ini namanya inaktivasi. Bukan dilemahkan. Jadi betul-betul dirusak tidak aktif lagi. Setelah dirusak nanti akan difiltrasi atau disaring. Semua sel kera itu akan terpisah dan kalau dilihat dari produk finalnya tidak lagi ada sel kera sudah bersih. Makanya dalam produknya tidak terdeteksi barang-barang yang haram,” tegasnya. 

Ia menjelaskan, konsepnya virus benar-benar dimatikan dan jika menginfeksi tidak bisa mereplikasi, tapi masih bisa dikenali sebagai musuh, sehingga tubuh bisa membuat antibodi.

Ia memaparkan, vaksin tersebut relatif aman, karena sudah melewati uji klinis fase satu dan dua. Tambahnya, Sinovac sudah mengetes 700 warga negara Cina sekitar bulan Maret hingga Agustus. 

Ia mengingatkan, yang namanya efek samping memang ada dan menjadi tantangan buat semua terkait dengan vaksin ini. Menurutnya, vaksin tersebut tidak bisa memproteksi dari efek samping atau gejala, hanya saja masih membawa manfaat lebih bagi yang divaksin daripada yang tidak divaksin. 

"Jadi, orang yang di vaksin kemungkinan ia mendapat gejala Covid-19 itu kecil, dibandingkan yang tidak divaksinasi. Tapi dia belum bisa mencegah apa yang disebut penularan. Jadi orang masih bisa terpapar. Minimal dia tidak akan sakit. Masih ada benefit atau manfaat sebetulnya," jelasnya.

Menurutnya, polemik pembahasan vaksinasi bisa dilihat dari sisi fikih, yaitu dari konsep istihlak, istihalah, serta  dhorurat dan hajat. Pertama, istihlak adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang jumlahnya lebih banyak, sehingga menghilangkan sifat najis dan keharaman benda yang sebelumnya najis, baik rasa, warna, dan baunya. 

Ia memaparkan, mengenai konsep vaksin halal atau tidak, ada konsep yang disebut istihalah dan istihlak. “Istihlak, dua qullah (dua bak air), misalnya ada najis kecemplung (tercebur) dalam air tapi airnya jumlahnya 2 qullah, air dalam qullah itu suci dan mensucikan. Karena jumlah airnya jauh lebih banyak daripada tetesan najis," jelasnya.

Kedua, istihalah adalah berubahnya sesuatu dari tabi'at asal atau sifatnya yang awal. Jadi ia menjaelaskan, suatu zat yang najis yang berubah (dengan istihalah) menjadi zat lain yang baru, dihukumi suci. 

Menurutnya, istihalah ini adalah satu konsep ketika satu zat berubah menjadi zat lain (transformasi), contohnya yang paling klasik adalah khamr.  “Khamr itu mengandung alkohol. Secara alami dia bisa berubah menjadi cuka. Cuka adalah halal. Padahal awalnya alkohol. Ketika berubah berarti zatnya berubah. Ini menjadi penting dalam konteks vaksin," jelasnya.

Ia memisalkan, terkait bahasan gelatin. Ia katakan, gelatin ini sumbernya bisa berasal dari babi atau sapi. "Kalau misalnya dia berubah, sebagian ulama menganggap proses terjadinya gelatin ini sudah melalui proses transformasi dan berubah. Kenapa mereka bisa mengatakan berubah karena tidak mudah atau bisa dikatakan impossible untuk membedakannya lagi dari sumbernya,” jelasnya.

"Jadi, kalau kita bicara konten gelatin dalam vaksin, 2 hal masuk di sini, yaitu konsepnya transformasi dan terdilusi. Misalnya dites kita tidak bisa mengatakan ada apa tidak, yang jelas tidak terdeteksi,” imbuhnya.

Menurutnya, anggapan proses pembuatan vaksin masih bersinggungan dengan bayi. “Aborsi (bukan ribuan bayi dibunuh tapi dari satu selnya), ketika dimurnikan sudah tidak ada lagi sel-sel tersebut," ujarnya.

Ketiga, dhorurat dan hajat adalah keadaan yang membolehkan sesuatu yang terlarang. "Karena saat ini mengalami kondisi yang darurat maka fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Muhammadiyah sama merekomendasikan vaksin bisa digunakan," pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

1 Komentar