Otoriterisme Itu Pelecehan Kemanusiaan



Tuhan menciptakan manusia sejajar. Agama mengajarkan, manusia yang paling mulia disisi-Nya hanyalah karena ketakwaannya, bukan yang lain. Hukum dibuat agar sesama manusia tidak saling memangsa, tidak saling menindas, tidak merasa tinggi dan sok kuasa, tidak saling merendahkan dan sewenang-wenang, maka hukum menyatakan, semua warga negara sama posisinya di depan hukum.

Banyak pemerintahan di berbagai negara, apalagi negara demokrasi, yang para pemimpinnya dipilih oleh rakyatnya sebagai wakil-wakil mereka mengatur negeri, mengatur hajat hidup orang banyak, menegakkan keadilan dan mensejahterakan mereka, tapi malah sok kuasa dan memerintah secara otoriter. Maka, hukum sejarah yang paling logis adalah perlawanan rakyat. Tak seorang pun manusia menerima pemerintahnya berlaku otoriter, sok kuasa, hukum diabaikan dan premanisme legal mengendalikan pemerintahan.

Otoriterisme itu menghina derajat dan merendahkan kemanusiaan, para pemimpin dipilih untuk bertugas melaksanakan amanat rakyat tapi malah menindas rakyat itu memang menyakitkan dan menyesakkan dada. Jangankan orang lain, orang tua saja yang otoriter, anak-anaknya tidak suka padahal orang tua yang mengandung dan melahirkannya, apalagi orang lain yang diberi amanat kepemimpinan. Pendidikan pun tak membenarkan orang tua yang otoriter.

Maka, tak ada kepantasan lain terhadap otoriterisme kecuali harus tumbang untuk membuat sesama manusia dan hubungan warga negara normal lagi, sejajar lagi, terhormat lagi, bermartabat lagi. Hukum yang harus suprematif dan keadilan yang harus berkuasa bukan kekuatan dan senjata. 

Maka di dalam demokrasi, perlawanan itu, misalnya demonstrasi atau gugatan, diberikan ruang dan dilindungi hukum dan UU sebagai hak warga negara. Keniscayaan adanya oposisi adalah hukum keseimbangan dalam demokrasi agar kekuasaan terkontrol dan tidak sewenang-wenang.

Negara demokrasi meniscayakan begitu. Maka, otoriterisme sebagai warisan feodalisme di seluruh negara di dunia tumbang dan muncullah era demokrasi dan pemerintahan-pemerintahan demokratis. Indonesia pun mengalami itu. Orde Lama dan Orde Baru keduanya terjebak pada otoriterisme, maka harus tumbang. Kesalahannya, pemerintah merasa sebagai negara. Merasa sebagai negara itu pasti membentuk sikap mental sok kuasa. Itulah logika Indonesia memilih demokrasi sejak awal. 

Bila kemudian muncul otoriterisme lagi, hukum kemanusiaan dan hukum sejarahnya akan tumbang lagi, karena otoriterisme itu tak diterima rakyat, merendahkan kemanusiaan, menghina martabat, melecehkan hukum dan mendurhakai kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan kesetaraan. Bukan kebencian tapi pemeliharaan kehidupan. Bukan kebencian tapi melaksanakan dan menjaga amanat Tuhan.[]


Oleh: Moeflich Hasbullah
Sejarawan, Penulis, dan Pengamat Kehidupan

Posting Komentar

0 Komentar