Ormas Islam Dibubarkan, Aktivis 98: Ada Upaya Habisi Kelompok Kritis?

 

TintaSiyasi.com-- Menanggapi pembubaran organisasi masyarakat (ormas) Islam yaitu FPI (Front Pembela Islam), Pengamat Politik dan Aktivis 98 Agung Wisnu Wardana buka suara. Ia menduga ada upaya untuk menghabisi kelompok kritis.

"FPI, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan gerakkan 212 adalah kelompok yang masih tersisa, yang berani untuk mengkritisi penguasa yang zalim, untuk mengkritisi kebijakan-kebijakannya yang zalim. Sehingga di sisi politis, patut diduga (ada) upaya yang dilakukan hari ini adalah upaya untuk mengeliminasi atau boleh dikatakan menghabisi kelompok kritis terhadap kebijakan zalim penguasa," tuturnya dalam acara Kabar Malam dan Kajian Online, Kamis (31/12/2020) di kanal YouTube Khilafah Channel.

Menurutnya, hal ini dimungkinkan terkait isu kegagalan-kegagalan rezim, walaupun sifatnya masih sangat asumsi. "Saya akan mencoba masuk di ranah yang lebih faktual saja. Bahwa paling tidak saya melihat dari dua aspek," katanya.

"Pertama, dari sisi politis. Kita tahu bahwa dari sisi politis, hari ini hampir sebagian besar yang partai politik yang ada di parlemen, itu sudah tunduk patuh kepada rezim Jokowi. Istilahnya mereka mengamini apa yang dilakukan Jokowi dan tidak ada kritik sama sekali terhadap kebijakan-kebijakan Jokowi, artinya sikap oposisional itu sudah tidak ada lagi," bebernya.

Ia menambahkan, kebetulan kelompok kritis itu adalah FPI yang memiliki Imam Besar Habib Rieziq Syihab (HRS). "Itu aspek pertama undertable pertama yang saya duga kuat menghabisi kelompok kritis," ujarnya.

"Kedua, menurut saya yang clear juga dari aspek ideologis. Patut diduga bahwa, hal ini dilakukan untuk semakin mengebiri Islam dalam konteks politik. Atau dalam bahasa saya untuk mengarus utama sekulerisme yang ada di Indonesia," ungkapnya.

Lanjutnya, rezim yang zalim ini sangat menyenangi Islam yang kemarin diungkapkan oleh Menteri Agama terbaru Ya'qut Cholil Qoumas yaitu agama sebagai inspirasi bukan aspirasi.

"Islam yang dipisahkan dalam ranah politik, kemudian Islam yang mungkin duduk manis, berpikir saja tidak melakukan kritik terhadap kebijakan-kebijakan penguasa. Itulah Islam yang diinginkan oleh mereka (rezim ini)," imbuhnya.

Menurut Bung Agung sapaan akrabnya, Islam yang diinginkan oleh mereka inilah yang disebut dengan sekulerisme, karena memisahkan Islam dengan politik itu. Ia menjelaskan, inilah pengokohan, sementara kita tahu bahwa FPI dan HTI menginginkan penegakan syariah, seperti yang disampaikan HRS yaitu ayat suci di atas ayat konstitusi. Menurutnya, itu cukup meresahkan secara ideologis di kalangan mereka itu.

"Kalau saya menyebut, kenapa kok sekulerisasi ini perlu dibangun oleh mereka? untuk penopang kapitalisasi. Ideologi kapitalisme yang ada di negeri ini. Paling tidak saya mencatat ada dua. Rezim hari ini itu telah menyisakan PR tumpukan utang luar negeri hampir enam ribu triliun, kemudian rezim hari ini pula yang melegalkan UU Omnibus Law Cipta Kerja, (membuka) investasi yang memberikan karpet merah untuk investasi asing," bebernya.

Ia menambahkan, sementara Morgan Stanley itu telah membuat satu analisis terhadap kerapuhan ekonomi Indonesia. Termasuk katanya, Morgan Stanley menjadikan Indonesia itu sebagai fragile countries (negara yang sangat rapuh) mudah terkena krisis global.

"Kenapa itu bisa terjadi? Karena Indonesia itu mengandalkan pembangunannya itu dari utang luar negeri yang mencapai enam ribu triliun itu, dan investasi asing," tuturnya.

Menurutnya, kedua ciri  tersebut lahir dari sebuah kebijakan yang kapitalistik dan pro lapitalisme. Ujarnya, hal itu tidak ada hubungannya dengan Islam, sementara yang diperjuangkan oleh HRS FPI dan HTI adalah mengganti kapitalisme yang telah merusak negeri ini dengan sistem Islam.

Menurutnya, tren dunia ke depan adalah tren menuju perubahan sistem sistem Islam. "Sehingga di dalam tulisan saya di Facebook hari ini, saya menyebutkan, kayaknya rezim hari ini kurang dolan (baca: main), sehingga tidak bisa memahami tren global yang sebenarnya sudah terjadi. Tren global, orang udah jengah dengan kapitalisme sebenarnya," ucapnya.

"Dua undertable yang boleh saya duga bahwa, rezim hari ini sebenarnya ada dua yang ditarget, yaitu secara politis untuk menghabisi kelompok oposisi kritisi yang tersisa, dan yang kedua secara ideologis untuk menghabisi Islam politik, agar tidak punya kritik sama sekali terhadap arah kedepan terhadap sekulerisme dan kapitalisme yang dibangun di Indonesia, itu latar belakang yang saya lihat cukup kuat," pungkasnya.[] Amah Muna

Posting Komentar

0 Komentar