Nadiem Minta Pecat Pihak Sekolah Wajibkan Siswi Berjilbab, Pengamat: Berlebihan dan Tidak Fair



TintaSiyasi.com-- Menanggapi respon Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud) Nadiem Makarim yang meminta sanksi hingga pecat kepada pihak Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Padang Sumatera Barat yang mewajibkan jilbab, Pengamat Politik Luthfi Afandi nilai hal itu terlalu berlebihan dan tidak fair (adil).

"Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan statement (pernyataan) yang menurut saya berlebihan dan tidak fair," tuturnya kepada Tintasiyasi.com, Selasa (26/1/2021).

Menurutnya, pernyataan Nadiem yang meminta pemberian sanksi hingga pemecatan bagi pihak sekolah yang terlibat membuat aturan seragam jilbab sangat berlebihan. Ia memberi catatan penting bahwa pihak yang protes hanya 1 (satu) sedangkan di SMKN 2 Padang ada 46 siswa non Muslim.

"Kecuali satu orang, mereka semua tidak menolak aturan tersebut karena alasan mengikuti aturan sebagai atribut atau seragam sekolah dan menyesuaikan dengan lingkungan tempat mereka belajar," jelasnya.

Ia mengingatkan, mantan Wali Kota Padang Fauzi Bahar Effendi sudah menjelaskan sejak zaman dirinya menjadi wali kota, yakni tahun 2005 sekitar 16 tahun yang lalu, seragam jilbab diwajibkan hanya untuk Muslimah.

"Artinya, setelah belasan tahun, dari sekian banyak sekolah di Padang, yang terang-terangan menolak hanya satu orang," terangnya.

Menurutnya, pernyataan Nadiem yang mengatakan, sekolah tidak boleh sama sekali membuat peraturan atau himbauan kepada peserta didik untuk menggunakan model pakaian kekhususan agama tertentu sebagai pakaian seragam sekolah, adalah bukti ketidakadilan.

Apalagi di saat yang sama, ia mengetahui, Nadiem tidak mengeluarkan pernyataan pemberian sanksi kepada sekolah yang melarang pelajar Muslimah mengenakan busana sesuai ketentuan agamanya. "Ini yang saya sebut tidak fair dan tidak adil," pungkasnya.[] Dewi Srimurtiningsih

Posting Komentar

0 Komentar