Musibah Terus Melanda, Saatnya Terapkan Syariah-Nya


Indonesia berduka, musibah demi musibah terus melanda, baik di darat, di laut dan udara. Tak sedikit korban yang mengalami luka-luka, bahkan hingga hilang nyawa. Ini bukan yang pertama kali terjadi di negeri ini, melainkan sudah berulang kali. Ada kesalahan yang masif dilakukan, sehingga Allah tak segan terus menerus menurunkan musibah sebagai alarm agar kita (manusia) bermuhasabah dan kembali pada syariat-Nya.

Rentetan musibah ini diawali dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pada tanggal 9 Januari. Dan di hari yang sama terjadi longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Kemudian, Pada tanggal 12 Januari, terjadi banjir di berbagai lokasi di Kalsel mencapai ketinggian 3 meter diakibatkan tingginya curah hujan. Dua hari berikutnya, pada tanggal 14 Januari, terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. (m.cnnindonesia.com, Sabtu,16/01/2021 09:02 WIB).

Sejak beberapa tahun terkahir Indonesia memang terus dilanda berbagai musibah. Gempa, longsor, banjir, pandemi yang tak kunjung berakhir. Akan tetapi tak banyak manusia yang menggapnya sebagai teguran dari Allah agar kembali kepada syariat-Nya. 
Pelanggaran demi pelanggaran atas perintah Allah masih terus dilakukan. Korupsi, zina, riba, mengumbar aurat, LGBT, kerja sama pemerintah dengan kaum kafir yang berujung menzalimi rakyat, dan masih banyak lagi perbuatan yang melanggar perintah-Nya. Sungguh tatanan kehidupan bernegara yang sangat  jauh dari syariat-Nya.

Begitulah hakikat hidup di bawah naungan sistem kapitalisme yang berasaskan sekuler-pemisahan agama dari kehidupan. Kehidupan menjadi jauh dari aturan (syariat) Allah. Agama sebatas status yang tak perlu diaplikasikan dalam kehidupan. Agama hanya dijalakan oleh individu saja, bukan secara sistemis yang diajalankan oleh negara. Dengan itulah fungsi agama dipinggirkan. 

Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia; Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Ar-Ruum: 41)

Allah telah memperingati kita sejak dulu kala, bahwa segala kerusakan atau musibah yang terjadi di suatu negeri adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Yakni manusia yang tidak menerapakan aturan Allah dalam kehidupannya, manusia yang melupakan Al Quran sebagai pedoman hidupnya. Allah turunkan berbagai musibah agar manusia kembali kepada Allah, kembali menerapkan syariat-Nya, menjalankan segala isi Al Quran.

Jika kita menjalankan apa yang Allah perintahkan, menerapkan segala syariat-Nya, menyatukan agama dengan kehidupan. Maka, insyaa Allah kerberkahan akan dilimpahkan kepada kita, hidup menjadi sejahtera, aman dan damai sentosa. 

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raf yang artinya: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-A’raf: 96).

Oleh karena itu, marilah kita kembali pada aturan Allah, menerapkan syariat-Nya secara kaffah (menyeluruh), tidak menerapkan sebagiannya saja dengan hanya mengambil yang disuka demi kepentingan dunia.
Tentu harus ada sistem yang bisa menjamin diterapkannya syariat secara kaffah. Dan satu-satunya yang bisa merealisasikan hal tersebut hanya sistem Islam dalam bingkai Khilafah. 

Khilafah memiliki 3 pilar dalam mengatur tatanan kehidupan bernegara untuk menjamin pelaksanaan syariat kaffah, yaitu:

Pertama. Ketaqwaan individu. Ketaqwaan individu adalah kewajiban yang diperintahkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Dengan adanya ketaqwaan individu, seseorang akan menyibukkan dirinya bertaqarrub kepada Allah, sehingga tidak akan sempat melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah SWT.

Kedua. Masyarakat yang peduli. Masyarakat harus saling peduli satu sama lain, saling mengingatkan, menyeru kepada yang makruf (baik) dan mencegah dari kemunkaran. Adanya kepeduliaan antara satu dengan yang lainnya akan mengokohkan keimanan di tengah-tengah masyarakat.

Ketiga. Negara yang menerapkan syariat. Pilar ketiga ini yang memiliki peran sangat penting. Pilar kesatu dan kedua tidak akan berjalan secara maksimal jika negara tidak menerapkan syariat. Karena hanya negara yang bisa memantau dan menjalankan semua ini.

Itulah tiga pilar negara Khilafah untuk menjamin penerepan syariat kaffah. Khilafah dengan peradabannya yang agung terbukti telah menguasai dua pertiga dunia selama empat belas abad. Hal ini mendapat pengakuan dari para sejarawan. Jacques C. Reister dalam kitab Min Rawa’i Hadharatina karya Dr. Musthafa As Siba’i, mengatakan, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.”

Will Durant seorang sejarawan barat, dalam buku yang dia tulis bersama istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, dia  mengatakan, “Para Khalifah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomema seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Maka dari itu, marilah kita kokohkan semangat perjuangan untuk menegakkan Khilafah agar syariah kaffah bisa diterapkan di muka bumi ini. Wallāhu a’lam bis Showāb.[]

Oleh: Nur Itsnaini Maulidia
(Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar