Muhasabah Atas Musibah dan Kembali pada Syariat-Nya


Belum usai pandemi, duka kembali menyelimuti tanah air. Beragam musibah terjadi di awal tahun 2021. Mulai dari longsor di Cimanggung Kab. Sumedang pada Sabtu, 9 Januari 2021. Longsor ini juga mengakibatkan banjir di daerah sekitarnya. Pada hari yang sama, pesawat Sriwijaya jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Kemudian disusul dengan banjir di Kalimantan Selatan (13/01/2021) serta gempa bumi di Mamuju dan Majene (14/01/2021). Selain itu, pada 16 dan 18/01/2021 telah terjadi erupsi Gunung Semeru dan Merapi. 

Peristiwa ini tentu membuat rakyat berduka. Terlebih para korban yang mengalami musibah secara langsung. Mereka harus kehilangan tempat tinggal, harta, juga keluarga yang dicintai. Mereka harus rela mengungsi untuk menyelamatkan diri. Bantuan untuk korban bencana pun terus mengalir. Meski belum maksimal dirasakan. 

Sebagai seorang muslim kita harus mengimani bahwa bencana adalah qadha. Ia telah ditakdirkan oleh Allah swt. Namun, kurang tepat jika bencana yang terus menerus terjadi disikapi sebagai fenomena alam biasa. Apatah lagi tanpa adanya rasa empati dan merenunginya.

Sebagai manusia yang lemah dan penuh dosa, kita pun harus introspeksi diri. Berbagai musibah bisa jadi merupakan teguran atas kemaksiatan yang telah kita lakukan. Selain sudah ditetapkan Allah, bencana terjadi karena ada peran manusia yang merusak alam. Berbagai kerusakan yang terjadi adalah akibat keserakahan manusia. 

Alam tak lagi seimbang dan harmoni karena telah dirusak. Seperti halnya banjir dan longsor terjadi karena banyak hutan yang gundul. Dalam sistem kapitalis sekuler, penguasa dengan mudah memberikan izin pembangunan kepada para investor. Pembukaan lahan di hutan pun semakin massif dilakukan. Akibatnya tanah tak bisa lagi menyerap air ketika curah hujan tinggi. 

Bukankah Allah Swt telah berfirman, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41).

Untuk itu, sudah semestinya kita bertaubat kepada Allah Swt, memohon ampun kepada-Nya. Menghentikan segala dosa dan kemaksiatan. Menghilangkan kesombongan dan ketamakan pada diri. Serta berupaya untuk menerapkan aturan-Nya secara sempurna di muka bumi. 

Bukankah kita amat mengharapkan pertolongan dan keberkahan dari-Nya? Berbagai musibah yang telah terjadi jangan hanya diratapi tanpa adanya renungan atau muhasabah. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh azab-Nya sangat pedih bagi orang-orang yang dzalim. Saatnya untuk  kembali pada syariat-Nya yang mulia. Campakkan aturan dan ideologi buatan manusia yang telah menimbulkan kerusakan. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Nina Marlina, A.Md
(Penulis Bela Islam)

Posting Komentar

0 Komentar