Mewujudkan Keluarga Muslim yang Tangguh


Isu radikalisme akhir-akhir ini terus saja mencuat kepermukaan. Baik itu di luar negeri maupun di dalam negeri. Adapun di dalam negeri masih hangat dalam ingatan kita tentang anak ‘Good Loking’. Serangan yang terus dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menyerang Islam, salah satunya adalah isu radikalisme. Isu ini selalu dipandang negatif. Sehingga keluarga muslim menjadi takut untuk melaksanakan Islam dengan sempurna. 

Ini diungkap Ustadz Slamet Ma’arif  (Ketua Persatuan Alumni 212), “Kalau kita tela'ah lebih jauh ini adalah grand design yang luar biasa, sehingga masuk kepada negara kita tercinta ini virusnya yang dinamakan Islamophobia (fobia Islam), masuk kepada negara dan bangsa kita yang pada akhirnya dibuatlah skenario secara sistematis dan terstruktur bagaimana menghancurkan Islam” dalam diskusi Online Media Umat di kanal Youtube Media Umat, Ahad (20/9/2020).

Padahal jika kita tinjau secara etimologis, kata radikal sesungguhnya netral. Radikalis, kata sifat ini berasal dari bahasa latin, radix atau radici. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), istilah radikal berarti ‘akar’, ‘sumber’, atau ‘asal-mula’. Dimaknai lebih luas, istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas beragam gejala, atau bisa juga bermakna “tidak biasanya” (unconventional).

Istilah radikal bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki tiga arti, yang salah satunya adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Jadi yang patut digarisbawahi adalah penyebab paham itu muncul, karena ketikdakadilan, diskriminasi dan sikap tercela (news.detik.com, 04/09/2020). 

Jadi yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana negara bisa memberikan keadilan yang seadil-adilnya pada keluarga muslim, yaitu salah satunya adalah menjalankan seluruh aturan agama bagi para pemeluknya.
Ditengah maraknya isu radikalisme dan paham-paham yang menyesatkan umat. Keluarga adalah benteng terakhir dalam menjaga agama Islam. Karena hari ini negara tidak lagi menerapkan aturan islam. Tapi malah menerapkan aturan demokrasi-sekular yang memuja paham kebebasan dan memisahkan agama dari kehidupan. Maka menjadi wajar tugas keluarga semakin berat. Kurangnya pemahaman akan agama yang menjadikan visi hidup, mejadi salah satu faktor lemahnya keluarga. Gagalnya peran anggota keluarga juga menjadi faktor penambah lemahnya ketahanan keluarga. 

Peran ayah dalam menafkahi keluarga di tengah pandemi ini semakin berat, ibu yang harusnya jadi pendidik anak-anak juga harus terjun membantu perekonomian keluarga, akhirnya anak-anak tak dapat pengawasan yang ketat dalam agamanya dan pergaulannya. Akhirnya gempuran pemikiran asing masuk ke keluarga. Mejadikan keluarga muslim mulai jauh dari Islam itu sendiri.

Sebagai seorang muslim wajib menjalankan aturan Islam secara keseluruhan. Tidak memilih menjalankan aturan yang mudah-mudah saja. Karena Islam adalah agama yang sempurna sebagaimana terdapat di firman Allah SWT dalam surah al-Anbiya ayat 107: “Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.”

Maka beberapa langkah dapat diwujudkan agar menjadi keluarga Islami. Pertama, memahami Islam lebih dalam. Kewajiban setiap muslim adalah menuntut ilmu. Terlebih ilmu Islam yang hukumnya fardhu ain (wajib setiap individu). Sehingga dengan mempelajari islam lebih dalam, akhirnya dapat memperoleh makna kehidupan dan tahu akan visi hidup. Dari sini terbangunlah ketakwaan individu yang menjadi bekal untuk taat pada syariah Allah. Jika orangtua paham agama maka mereka tahu akan peran masing-msing di dalam sebuah keluarga. Sehingga mereka akan saling bersinergi untuk terwujudnya keluarga Islami. Dan akan membentuk anak-anak yang sholeh/ah.

Kedua, menerapkan aturan Islam secara keseluruhan. Setelah paham akan agama Islam maka selanjutnya adalah menerapkan aturan Islam dalam seluruh sendi kehidupan. Walaupun pada faktanya kita tak bisa melaksanakan secara keseluruhan, paling tidak kita bisa memulai dengan apa yang bisa kita upayakan. Mengajak seluruh keluarga dan lingkungan agar taat syariah, sehingga bersinergi dalam ketaatan kepada Allah adalah kewajiban kita. Termasuk membiasakan anak-anak kita untuk taat syariah mulai mereka belia.

Ketiga, peran negara dalam menjamin keluarga islami. Peran negara sangat penting dalam hal ini. Yaitu menjamin seluruh aturan Islam terlaksana. Sistem ekonomi, sosial, pendidikan, peradilan, hubungan luar negeri dan lain sebagainya. Termasuk peran negara dalam hal memastikan pendidikan yang layak pada setiap muslim agar terbangun ketakwaan yang kuat. Negara juga menjamin kebutuhan pokok bagi rakyatnya agar mereka bisa fokus ibadah. Disini negara wajib menyediakan pekerjaan jika para lelaki yang telah baligh kesulitan mencari pekerjaan. Kemudian negara juga wajib mengatur SDA sesuai dengan aturan Islam. Dan banyak lagi peran negara dan kepemimpinan yang sudah diatur lengkap dalam Islam. Kaum Muslimin tinggal menerapkan aturan itu untuk terwujudnya Islam Rahmatan Lilalamin.

Indahnya keluarga muslim yang hidup di dalam aturan negara yang menerapkan aturan Islam mejadikan kita rindu. Maka penting bagi kita untuk memperjuangkan agar itu semua bisa terwujud. Sehingga bukan saja menyelatkan satu atau dua keluarga muslim tapi seluruh keluarga dalam sistem Islam.[]

Oleh: Meita Ciptawati

Posting Komentar

0 Komentar