Mewaspadai yang Lebih Ditakuti Rasulullah SAW Selain Dajjal


Akan senantiasa ada yang mengemban kebaikan, menyeru kepada jalan keimanan, kalimat tauhid sehingga menempatkan syariat sebagai penentu langkah kehidupan di dunia. Keberadaan mereka di keterasingan zaman bagaikan oase di tengah padang pasir tandus. Dengan berbagai “genre”, para penyeru kebaikan ini hadir di tengah-tengah umat mulai dari yang hobi berpantun, yang kocak, serius penuh hikmah dan yang dipenuhi dengan kelembutan.

Namun ternyata Rasulullah SAW telah memperingati umatnya tentang kekuatirannya daripada bahaya dajjal, sebagaimana yang dikutip dari Maraqi Al ‘Ubudiyyah karya Syekh Nawawi Al Bintani. Rasulullah SAW bersabda, 

أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال فقيل: وما هو يارسول الله؟، فقال: علماء السوء

Artinya: "'Ada yang lebih aku kuatirkan dari kalian ketimbang dajjal.' Beliau ditanyakan, ‘apakah itu ya Rasulullah?.' Beliau menjawab, ‘ulama yang buruk’.”

Dajjal telah jelas memiliki misi untuk menyesatkan manusia. Dengan berbagai kemampuan dan tipu daya ia akan menjerat manusia dari penyembahan kepada Allah SWT. Berbeda dengan ulama yang pada hakikatnya memiliki tugas untuk menapaki jalan kehidupan sebagaimana yang pernah diajarkan oleh baginda yang mulia Rasulullah SAW.

Namun kehadiran ulama suu’ (buruk) justru menggunakan ilmunya untuk memperturutkan hawa nafsu dunia yang pada akhirnya menyesatkan manusia dari jalan keimanan. Mewaspadai keberadaan mereka adalah satu hal yang sangat penting, agar umat dan penuntut ilmu tidak terlena dengan kefasihan mereka dalam memanipulasi agama. 

Imam Al Ghazali menjelaskan ciri-ciri dari ulama suu’ diantaranya sebagai berikut:
Pertama, ia menggunakan ilmunya untuk wasilah dalam memperbanyak harta. Ilmunya menjadi tumpuan meraih sasaran duniawi. Rasulullah SAW bersabda, “siapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

Ulama suu’ akan merapat kepada siapa saja yang akan memberikannya harta duniawi. Tak jarang mereka merapat kepada pemimpin zalim dan melegitimasi kebijakan zalim yang dihasilkan. Bahkan demi kedekatannya dengan penguasa dalam meraih duniawi, ulama suu’ akan mudah mengeluarkan fatwa. Rasulullah SAW bersabda, dari Abu Hurairah “siapa yang makan dengan (memperalat) ilmu, Allah membutakan kedua matanya dan neraka lebih layak untuknya.” (HR Abu Nu’aim dan Ad Dailami)

Ulama terdahulu enggan mendatangi penguasa, walau hanya untuk mengajar. Sebagaimana dahulu Imam Malik menolak datang ke Istana untuk mengajarkan hadits kepada Khalifah Harun Al Rasyid. Sehingga sang Khalifahlah yang datang sendiri ke rumah Imam Malik untuk belajar. Bukan tanpa sebab, para ulama akhirat ini mengetahui persis pesan Baginda SAW yang mengatakan, “Ulama adalah kepercayaan para Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para Rasul. Karena itu jauhilah mereka.” (HR Al Hakim)

Kedua, menggunakan ilmunya untuk berbangga dengan kedudukannya. Ilmu yang dimiliki justru menjadikan hawa nafsu menguasai dirinya. Dirinya terpedaya dan seakan dirinya menjadi orang yang memiliki banyak ilmu dibandingkan hamba Allah SWT yang lain sehingga menolak kebenaran yang sesungguhnya.

Ketiga, menyombongkan diri dengan banyaknya pengikut. Ketika pengikutnya kian bertambah dia semakian yakin dan berbangga. Menjadi pembenaran bagi dirinya bahwa dengan banyaknya orang yang terpedaya dengan manipulasi agama yang dilakukan sehingga kalimat taubatpun menjadi sesuatu yang jauh.

Dan yang keempat, ia masih mengira bahwa dirinya memiliki posisi khusus di mata Allah SWT karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaiannya berbicaranya seperti ulama. Padahal ia begitu tamak kepada dunia.

Semoga Allah SWT menghindarkan diri, keluarga, masyarakat dan Negara ini dari ulama suu’. Sehingga terwujudnya kecerdasan dalam mendalami ilmu agama dan terterapkannya syariat Islam secara total. Karena tanpa syariat Islam secara totallah muncul ulama-ulama suu’ yang siap menjual ilmu agama dengan sangat murah. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Novida Sari

Posting Komentar

0 Komentar