Menilik Solusi Manajemen Bencana dalam Islam

Negeri indah nan kaya raya tengah mengalami kepiluan yang mendalam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai lembaga pemerintah Nonkementrian telah mencatat 185 bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang 1-21 Januari 2021. Bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir dan angin puting beliung mendominasi kejadian bencana. Sebanyak 166 jiwa meninggal dan 1.210 jiwa luka-luka belum lagi yang hanyut karena banjir dan korban yang diakibatkan oleh gempa bumi M6,2 Sulawesi Barat per 21 Januari 2021 (bnpb.go.id, 21/1/2021).

Kita memang tidak dapat menyalahkan bencana yang terjadi. Terlebih bencana yang disebabkan oleh faktor alam. Seorang mukmin akan senantiasa yakin bahwa tidak ada satupun bencana yang terjadi di muka bumi baik karena faktor alam maupun ulah dari tangan manusia sudah menjadi qadha Allah SWT atas izin-Nya. Sebagai mukmin yang taat dan menyadari kekuasaan Allah SWT, ia akan memuhasabah diri dan memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT sebagai al-Mudabbir (Sang Pengatur).


Bencana di Masa Rasulullah SAW dan Sahabat

Gempa bumi pernah terjadi di Madinah pada masa Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah, belum datang saatnya bagimu”. Lalu Rasulullah SAW melihat ke arah sahabat dan berkata “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buat Allah ridho pada kalian)”.

Dzulhijjah di tahun ke 18 Hijriyah terjadi paceklik di seluruh wilayah Hijaz. Tahun ini disebut juga dengan tahun ramadah karena permukaan tanah menjadi hitam mengering sehingga warnanya sama dengan debu akibat tidak turunnya air hujan. Tahun ini telah menyebabkan wabah penyakit dan kematian.

Penduduk banyak yang mengungsi ke Madinah, berharap mendapatkan makanan karena di wilayah mereka tidak ada lagi persediaan makanan. Berada dekat dengan Amirul mukminin yakni Umar bin Al Khattab diharapkan mampu berkeluh kesah dan meringankan penderitaan mereka. 

Di masa pemerintahan Umar bin Al Khattab juga pernah terjadi gempa bumi, dan Umar mengingat akan sabda Rasulullah SAW tatkala terjadi gempa di masa Rasul SAW masih hidup. Lantas Umar berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (maksiat kepada Allah SWT). Andai kata gempa ini terjadi kembali, aku tak akan bersama kalian lagi”.


Perlakuan Para Pemimpin Islam Tatkala Bencana

Ketika gempa bumi terjadi, Rasulullah SAW dan para pemimpin setelahnya telah memperingati bahwa bencana terjadi karena maksiat yang meraja lela di bumi. Sebagaimana firman Allah SWT, 

ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali.” (TQS Al Rum: 41).

Juga firman Allah SWT,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (TQS Al A’raf: 96).

Para pemimpin Islam (Khalifah) setelahnya betul-betul menyadari bahwa kepemimpinan mereka kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Mereka akan bertindak sebagai pelayan bukan pejabat Negara, sehingga mereka akan melayani rakyatnya dengan pelayanan yang terbaik. Karena dengan dorongan akidah mereka memahami ketidakbolehan sifat abai dan lalai atas kekuasaan yang berada di tangan mereka. 

Umar bin Al Khattab pun ketika menghadapi tahun ramadah telah bersumpah untuk tidak memakan daging dan minyak samin. Makanannya sehari-hari hanya roti keras dan mentega. Hal ini dilakukannya untuk merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Umar tahu persis, kalau ia tidak berada di posisi yang sama dengan rakyatnya maka ia tidak akan dapat merasakan apa yang diderita oleh mereka. Sampai-sampai warna kulit Umar bin Al Khattab berubah karena kurangnya asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun ia tetap ridho melakukannya tanpa iming-iming berbagai gelar di hadapan manusia.


Penanganan Bencana di dalam Islam

Penanganan bencana di dalam Islam akan senantiasa tegak pada dasar akidah Islamiyyah, sebagaimana dasar negaranya. Kemaslahatan dengan konsep kemanusiaan yang bersumber dari Ke-Ilahian akan menjadi prinsipnya. Islam adalah ajaran yang sempurna, sejak awal sebelum terjadi bencana amar ma’ruf nahi mungkar akan senantiasa menjamur di negeri kaum muslimin. 

Manajemen bencana akan dibagi menjadi tiga fase, yang pertama fase pra bencana. Pembangunan sarana fisik akan dilakukan untuk mencegah bencana seperti pembangunan bendungan, kanal, tanggul dan sebagainya. Pemeliharaan wilayah aliran sungai dari pendangkalan, relokasi, menjaga kebersihan, tata kelola sampah, tata kelola kota berbasis amdal, reboisasi dan relokasi untuk wilayah yang tidak layak huni akan dilakukan sebelum bencana terjadi.

Fase kedua, yakni pada saat terjadi bencana. Negara secara sigap akan melakukan seluruh aktifitas yang dapat menekan jumlah korban. Evakuasi korban secepat-cepatnya, berkomunikasi langsung dengan korban, membentuk dapur umum dan posko kesehatan, termasuk pembukaan akses komunikasi oleh tim penyelamat seperti halnya tim SAR pada hari ini. Sebagaimana dahulu Umar bin Al Khattab segera membentuk tim dari 4 orang sahabat yakni Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Yazid bin Ukhtinnamur, Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Al Qari.

Keempat sahabat ini melaporkan secara mendetail kepada Umar bin Al Khattab sekaligus melaksanakan rancangan yang telah ditetapkan oleh Umar apa yang akan dilakukan besok. Mereka ditempatkan di perbatasan kota Madinah termasuk menghitung jumlah orang yang memasuki kota Madinah. Sehingga dengan kepastian total pengungsi yang masuk, lebih memudahkan di dalam pelayanan kepada mereka selama terjadinya musim paceklik.

Fase ketiga pasca bencana, kegiatan yang dilakukan pada fase ini memiliki tujuan untuk me-recovery korban bencana agar mendapat pelayanan terbaik. Negara akan memperhatikan kebutuhan pokok dan pemulihan psikis mereka sehingga tidak muncul dampak psikologis yang tidak baik. Semua ini dilakukan dengan proses yang mudah, tidak berbelit-belit apalagi dengan menunjukkan kartu pengenal diri yang bisa saja telah musnah atau beresiko untuk diambil pasca bencana. 

Negara juga akan melakukan recovery tempat tinggal dan fasilitas pendukung mereka dengan kemandirian keuangan negara tanpa mengambil hutang yang mengandung ribawi yang dimurkai oleh Allah SWT. Tempat-tempat vital seperti rumah, rumah sakit, sekolah, tempat ibadah dan sebagainya akan dibangun kembali oleh Negara sehingga diharapkan kehidupan masyarakat akan kembali berjalan normal sesegera mungkin. Bahkan jikalau diperlukan, Negara akan melakukan relokasi jika memang daerah tersebut rawan terjadi bencana.

Inilah manajemen bencana di dalam Islam, sebuah manajemen yang luar biasa dalam memperhatikan rakyatnya bahkan sebelum bencana itu datang. Saat ini kita memang belum merasakannya, namun Allah SWT telah menjanjikan terwujudnya manajemen ini di dalam bingkai Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang insya Allah tidak akan lama lagi. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Novida Sari, S.Kom
(Ketua Forum Muslimah Peduli Mandailing Natal)

Posting Komentar

0 Komentar