Mengatasi “Irreligiusitas” Agama dan Politik



Tanggapan Atas Tulisan Prof. Azyumardi Azra di Harian Republika

TintaSiyasi.com-- Menarik mencermati tulisan yang berjudul “Irreligiousitas Agama dan Politik” buah pena Prof. Azyumardi Azra (AA) diharian Republika. Meski tulisan tersebut berjudul Irreligiusitas Agama dan Politik, dalam pembahasannya secara spesifik AA mengupas “Irreligiousitas Islam”.

Tulisan tersebut terdiri dari dua artikel yang sudah terbit. Pada artikel bagian pertama, dengan mengutip berbagai referensi, irreligiousitas didefenisikan sebagai sikap kurang keimanan; indifference or opposition to religion' (tidak peduli atau menentang agama); sikap tidak bersahabat atau bermusuhan terhadap agama.

AA kemudian mengungkapkan sejumlah data hasil survey bahwa telah terjadi peningkatan Irrelegiusitas dari tahun ke tahun disejumlah Negara di Timur tengah dan Eropa. AA menulis, bukan hanya hanya ‘irreligiusitas’ yang meningkat, tetapi juga ‘sekularitas’ dan ateisme bahkan meningkat disejumlah Negara yang melarang keras Ateisme. 

Secara deduktif beliau paparkan diawal artikel bahwa peningkatan 'irreligiusitas’ di kalangan kaum Muslim boleh jadi adalah gejala baru _alarming._ Sehingga artikel bagian pertama tidak ada yang perlu ditanggapi sebab merupakan bentuk keprihatinan penulis terhadap realitas yang ada.

Pada artikel bagian kedua, AA mengupas seputar sejumlah penyebab terjadinya Irreligiousitas. Diidentifikasi ada tiga sebab yakni yakni politik; ketidakpercayaan pada penguasa yang berkuasa atas nama agama; dan disrupsi kehidupan social akibat arus informasi komunikasi instan melalui media digital.

Penulis merasa perlu menanggapi artikel bagian kedua karena secara intelektual belum puas. AA berupaya menyajikan realitas dengan didukung data, tapi belum mengurai lebih jauh ke akar persoalan. Menurut penulis AA baru sebatas menyajikan problem akibat belum menyentuh problem sebab.

Sebagaimana AA yang memulai artikel dengan pola deduktif, penulis juga menulis dengan pendekatan yang sama. Penulis berpandangan bahwa ketiga persoalan yang diidentifikasi tersebut merupakan problem akibat, problem sebabnya adalah penerapan sekulerisasi dalam seluruh aspek kehidupan termasuk kehidupan politik. Sehingga maraknya Irreligiousitas merupakan alarming untuk meninggalkan sekulerisme.
 
Secara ringkas penjelasannya adalah sebagi berikut. Pertama, terkait dengan kekuasaan yang dijustifikasi agama, hal ini memang buruk. Kenyataannya memang tidak satupun penguasa di negeri muslim baik Timur Tengah ataupun negeri muslim lain termasuk negeri ini yang menjalankan kekuasaan atas dasar Islam. Agama hanya dijadikan justifikasi, fatwa “ulama” akan dibeli sesuai kepentingan penguasa.

Maka jelas pada titik ini masalah utamanya adalah sekulerisme politik yakni pemisahan agama dari kehidupan politik. Agama tidak dijadikan pedoman dalam setiap keputusan/kebijakan namun dimanfaatkan untuk menutup bobrok kekuasaan. Seperti yang ditulis AA, penguasa (baca: sekuler) lebih senang main mata/berkolaborasi dengan pemimpin agama untuk menjalankan agenda politik masing-masing.

Islam yang sejatinya merupakan rahmat terbesar yang diturunkan ke bumi, tidak menjadi rahmat karena tidak dijalankan kecuali bagian-bagian yang disuka. Atau dijadikan kamuflase dimasa kampanye, dimana masyarakat menyaksikan kemunculan orang sholeh musiman seperti dinegeri ini. Yang tidak biasa memakai sorban akan bersorban; yang tidak biasa ke masjid akan ke masjid; yang tidak biasa hadir dimajelis kajian akan ramai-ramai duduk paling depan bahkan memberikan “tausiyah”. Image sholeh yang dibangun pada masa kompanye sangat jauh dengan praktek ketika berkuasa.

Realitas tersebut berdampak pada poin kedua, penurunan kepercayaan pada penguasa yang berkuasa dinegeri-negeri Muslim, yang berakibat pada memburuknya relasi antara penguasa dan rakyat. Penguasa yang semestinya menjadikan kekuasaanya sebagai alat untuk menjaga tiap-tiap jiwa rakyat, berubah menjadi penguasa otoriter bertangan besi dihadapan rakyat yang semakin hari sudah makin merasakan beban berat hidup dibawah sistem sekuler. 

Adapun terkait dengan disrupsi kehidupan sosial akibat arus informasi komunikasi instan melalui media digital. Seperti yang diurai oleh AA, media sosial ibarat pisau bermata dua, yang banyak mengandung muatan positif untuk memperkuat keimanan tapi juga banyak informasi sebaliknya yang mengguncang keimanan yang membuat orang menjadi irreligious.

Kekuasaan yang dibangun diatas asas sekulerisme akan memperburuk hal ini. Konten-konten keagamaan akan diawasi bahkan dilarang, jika tidak sejalan dengan kekuasaan. Sedangkan konten apapun akan dibiarkan dengan alasan kebebasan ekspresi sekalipun konten itu sangat merusak seperti konten porno. Sehingga tidak heran jika ada politisi sekuler yang mengatakan bahwa situs Islam lebih berbahaya dari pada situs porno.

Jadi persoalan “irreligiousitas” Agama dan Politik merupakan problem akibat; problem sebabnya adalah system kehidupan yang dibangun diatas asas sekulerisme. Jika ingin keluar dari berbagai persoalan yang membelit termasuk persoalan irreligiousitas adalah tinggalkan sekulerisme. Berpedoman pada Islam, maka "agama dan politik akan menjadi religious".

Islam rahmatan lil 'alamin bukan hanya sebatas teori yang dijelaskan dengan gagap. Tapi mesti diwujudkan tanpa keraguan dengan penerapan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan sehingga seluruh makhluk bisa merasakan dampak kehidupan yang baik. []

Oleh: Dr. Erwin Permana
Depok, 1 Januari 2021

Posting Komentar

0 Komentar