Mengapa Pandemi Belum Berakhir?


Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama hampir satu tahun. Seluruh dunia telah merasakan dampaknya, terutama kemerosotan ekonomi, permasalahan politik dan sosial. Di Indonesia pun jumlah positif kasus ini terus beranjak naik. Data terakhir menunjukkan sebanyak 847 ribu kasus per 12 Januari 2021 (covid19.go.id). Lantas kita pun bertanya, mengapa pandemi ini belum berakhir?

Sebagian besar masyarakat berpendapat karena kurang tegasnya pemerintah dalam menjalankan aturan yang sudah ditetapkan. Pelaksanaan 3T yaitu tracing (lacak kasus), testing (pemeriksaan dini) dan treatment (perawatan), dirasakan masyarakat jauh dari kata baik. Sangat abainya pemerintah dalam melaksanakan hal tersebut, sudah terasa dari awal pandemi ini. Apalagi dalam masalah treatment, yaitu merawat yang terkena virus ini. Banyak kasus masyarakat harus menanggung biaya perawatan sendiri yang bisa menghabiskan ratusan juta. Kini, pemerintah Indonesia, seperti juga banyak negara lainnya di dunia, menggantungkan harapan pada ketersediaan vaksin.

Lalu dari masyarakatnya sendiri masih kurang disiplin dan cenderung mengabaikan protokol kesehatan atau peraturan lainnya. Tentu saja ini pun tidak lepas dari abainya pemerintah dalam mengawasi rakyatnya sendiri. Banyaknya kesimpangsiuran informasi mengenai virus ini dan juga vaksin yang akan diberikan kepada ratusan juta penduduk Indonesia, semakin membuat rumit permasalahan ini.

Namun, sudah tepatkah solusi pemberian vaksin untuk mengatasi pandemi ini? Bila dicermati lebih mendalam, pemberian vaksin hanyalah salah satu cara yang tidak sepenuhnya mampu mengatasi pandemi ini. Selain itu, dengan sistem yang diterapkan di negeri ini, diduga menimbulkan permasalahan baru. Keefektifan dan kehalalan vaksin yang bermasalah, dugaan adanya kapitalisasi dalam penyediaannya dan permasalahan regulasi, semakin membuat masyarakat bingung dan terpuruk.  Karena inti permasalahannya bukanlah pada sisi masalah kesehatan belaka, tetapi berkaitan erat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berdampak secara sosial dan ekonomi. Bisa dikatakan sistem ini telah gagal dalam menyelesaikan berbagai permasalahan umat.

Lantas  bagaimana solusi tuntas untuk  mengakhiri pandemi ini? Tentu saja satu-satunya adalah kembali pada sistem Islam. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui hal ini bahkan beranggapan tidak ada solusi tuntas yang mampu mengatasinya. 

Padahal Islam telah mengajarkan sejak berpuluh abad lalu, jika terjadi pandemi seperti ini maka kembali pada hadits yang mengatakan jika terjadi wabah di suatu daerah maka masyarakat di dalam daerah tersebut tidak boleh keluar dan masyarakat di luarnya tidak boleh masuk. Hal ini berarti daerah tersebut benar-benar di lockdown sampai wabah tersebut hilang. Kemudian selama lockdown, pemerintah akan menjamin kebutuhan masyarakat di daerah tersebut, memberi pengobatan dan pelayanan kesehatan secara gratis. 

Termasuk usaha-usaha dalam  menjaga ketahanan tubuh setiap warga negara, seperti pemberian vitamin dan arahan untuk melaksanakan protokol kesehatan. Umat pun akan taat dan patuh arahan ini, disertai pengawasan ketat oleh pemerintah, sehingga terjadi kerja sama yang baik dalam mengatasi pandemi ini. 

Pemerintah juga akan mendorong para ilmuwan untuk menemukan obat atau vaksin, dengan memberikan fasilitas terbaik agar dapat menghasilkan obat atau vaksin yang terjamin keefektifan dan kehalalannya. Terlebih lagi, penguasa Islam akan mengajak umat untuk senantiasa bertaubat dan memohon keselamatan kepada Allah SWT. Wallahu ‘alam bishowwab.[]

Oleh: Saffanah Ilmi Mursyidah, Mahasiswi

Posting Komentar

0 Komentar