Mencetak Generasi Birrul Walidain Selevel Uwais al-Qarni


Rasulullah SAW pernah berpesan kepada sahabat beliau yaitu Umar bin Khattab dan Ali bin Abu Thalib, agar mereka meminta doa jika bertemu dengan pemuda bernama Uwais al-Qarni. Mengapa sekelas sahabat Umar dan Ali yang harus meminta doa kepada seorang pemuda yang tak pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW, bukan sebaliknya? Doa Uwais lebih mustajab karena begitu besar baktinya kepada ibunya.

Uwais al-Qarni hidup di masa Rasulullah Muhammad SAW tapi tak pernah berjumpa dengan beliau bukan karena tak rindu. Uwais yang berasal dari Yaman lebih memilih menahan rasa rindunya demi merawat ibunya yang sudah tua, lumpuh dan buta. Semua keinginan ibunya, ia selalu berusaha memenuhinya, termasuk keinginan pergi berhaji. Dalam kondisi fakir tentu itu permintaan yang sangat berat. Namun Uwais tetap mewujudkan keinginan itu dengan cara menggendong ibunya dari Yaman sampai ke Mekkah. Besarnya bakti Uwais terhadap ibunya inilah yang menjadikan ia termasuk penduduk langit.

Begitulah Allah SWT memuliakan hamba Nya yang berbuat baik kepada orang tua. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (Hadits Riwayat Bukhari).

Kisah Uwais hendaklah menjadi inspirasi agar kita senantiasa birrul walidain atau berbuat baik kepada orang tua. Setiap orang tua pasti mendambakan anaknya seperti Uwais. Namun sayang hari ini malah banyak kisah kedurhakaan anak terhadap orang tua. Beberapa waktu lalu viral di media sosial seorang anak di Demak yang tega melaporkan ibu kandungnya ke polisi gara-gara berawal dari baju yang dibuang sang ibu. Ada juga di Lombok (NTB) seorang anak melaporkan ibunya karena masalah sepeda motor, juga viral.

Tentunya kedua kasus tersebut bukanlah satu-satunya peristiwa kedurhakaan anak kepada orang tua. Mari melihat lingkungan di sekitar kita. Banyak anak yang menelantarkan orang tua yang sudah udzur karena sibuk bekerja. Banyak anak mencaci maki, membentak, dan memarahi orang tua. Menyuruh-nyuruh keduanya meskipun masalah sepele. Menjelekkan keduanya di hadapan orang lain. Mengambil harta mereka tanpa izin. Tidak menjawab panggilan mereka. Malu karena orang tua miskin, pekerja kasar, tidak berpendidikan, dan sebagainya. Semua itu sudah biasa terjadi di masyarakat kita bukan?

Hilang sudah rasa sayang apalagi penghormatan. Orang tua hanya dijadikan tempat meminta pertolongan dan perlindungan. Nampaknya urusan dunia lebih penting daripada menyenangkan hati mereka. Banyak anak lalai bahwa surga di telapak kaki ibu. Durhaka terhadap ibu bapak adalah dosa besar. Tak cukup menghapusnya dengan beristighfar.

Hal itu terjadi karena generasi saat ini sedang diselimuti pemikiran kapitalisme yang menuhankan materi. Segala hal diukur dengan materi termasuk hubungannya dengan orang tua. Jika mereka berusia lanjut dan sudah tidak bermanfaat maka cepat-cepat ditinggalkan dan tidak dihiraukan lagi. 

Pemikiran kapitalisme ini tak bisa dipisahkan dari asas yang mendasarinya yaitu sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya dipakai ketika beribadah sholat, zakat, puasa, dan haji tapi tidak dipakai dalam mengatur kehidupan. Alhasil hubungan dengan orang tua diukur dengan untung rugi, bukan halal haram. Wajar jika kapitalisme sekulerisme ini menghasilkan generasi durhaka.

Lalu bagaimana agar generasi terhindar dari perbuatan durhaka? Caranya yaitu dengan meninggalkan kapitalisme sekulerisme yang menjadi sumbernya. Dan menggantinya dengan sistem islam. Hanya saja sistem islam tidak akan tegak jika hanya individu saja yang mengembannya, perlu tiga pilar yaitu:

Pertama, ketakwaan individu akan menjadi penentu keikhlasan diatur oleh aturan Allah SWT. Individu harus memahami hakikat dia diciptakan yaitu mencari ridho Allah SWT. Segala perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban disisiNya kelak. Mendurhakai orang tua akan mendapat balasan tidak hanya di akhirat tapi juga di dunia akan diazab oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan azabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zalim dan al’uquq (durhaka kepada orang tuanya).” (HR. Al Hakim)

Kedua, masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Masyarakat saling amar ma'ruf nahi mungkar. Sebagaimana perintah Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 110 yang artinya, "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Sebagian di antara mereka ada orang-orang yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."

Ketiga, negara memberikan pendidikan baik formal dan nonformal yang berlandaskan akidah Islam, sehingga muncul generasi berkepribadian islam. Negara juga memiliki seperangkat sistem aturan yang menguatkan ketahanan keluarga. Karena terkadang anak durhaka lahir dari kondisi keluarga yang rapuh. Sebelum anak durhaka orang tua lebih dulu durhaka terhadap anak karena tidak mengasuhnya dengan aturan Islam. Maka negara harus memberikan pendidikan kepada semua rakyatnya tugas dan kewajibannya dalam rumah tangga baik sebagai anak, ayah dan ibu, maupun suami dan istri. Negara juga menghilangkan sebab-sebab rapuhnya keluarga dengan menerapkan islam kaffah dalam pengurusan ekonomi, sosial masyarakat, politik, pendidikan, hukum dan sistem sanksi. Negara menghadirkan media yang mendidik dan menguatkan terhadap tsaqofah-tsaqofah islam dan menghilangkan konten-konten yang kontra produktif.

Dengan penerapan islam di tiga pilar tersebut akan lahir generasi birrul walidain selevel Uwais al-Qarni. Karena hanya aturan islamlah yang membawa kemaslahatan dan diridhoi Allah SWT. Tentunya semua orang tua menginginkan anaknya berbakti seperti Uwais bukan?. []

Oleh: Dwi Nesa Maulani
(Komunitas Penulis Jombang)

Posting Komentar

0 Komentar