Masuk Daftar 20 Ektrimis, Pengamat Internasional: Absurd! Mahathir Korban Propaganda Kebrobrokan Barat



TintaSiyasi.com-- Menanggapi masuknya Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad ke dalam daftar 20 ekstrimis yang paling berbahaya di dunia, Pengamat Politik Internasional Budi Mulyana S.IP., M.Si., menilai hal tersebut  hanyalah suatu hal yang absurd (konyol) dan merupakan propaganda Barat dalam menutupi kebrobrokannya.

List (daftar) ini hanya propaganda tanpa dasar yang sangat absurd demi menutupi kebobrokan Barat yang sejatinya telah menghancurkan tatanan nilai fitrah manusia sejati menjadi kerusakan yang menghempaskan nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya,” ujarnya kepada Tintasiyasi.com, Kamis (14/01/2021).
 
Menurutnya, mayoritas yang dimasukkan dalam list ini adalah berlatar belakang organisasi Islam, Mahathir  adalah nomor empat belas dari dua puluh nama. Bahkan, katanya, ulama Yusuf Qardhawi pun masuk dalam list tokoh ekstremis urutan keenam. 

Counter Extremism Project (CEP), itu mendasarkan daftarnya dari berbagai spektrum ideologi dan kepercayaan. Mereka membuat daftar mulai dari ISIS, Ikhwanul Muslimin, Hizbullah, maupun kelompok Budha anti-Muslim di Myanmar yang dianggap ancaman bagi keamanan dunia,” paparnya.

Ia mempertanyakan, bagaimana dengan tindakan Israel terhadap Palestina, atau kebijakan global Amerika Serikat yang juga telah memakan korban diberbagai penjuru dunia? Menurutnya, list tersebut hanya propaganda tanpa dasar yang sangat absurd, demi menutupi kebobrokan Barat yang sejatinya telah menghancurkan tatanan nilai fitrah manusia sejati menjadi kerusakan yang menghempaskan nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya.

“Dari Mahathir masuk dalam list nomor 14 dalam 20 tokoh ekstremis paling berbahaya di bumi dikarenakan Mahathir kerap mengkritik Barat, LGBT, dan Yahudi,” tandasnya.

Ia menduga, Mahathir  adalah pengkritik keras Israel dan telah dituduh anti-Semit. Katanya, Mahathir dianggap telah mendukung ambisi untuk membentuk wilayah yang dikelola sendiri bagi umat Islam di Mindanao, Filipina, wilayah yang dilanda kekerasan ekstremis dan perang separatis.

“Pendapatnya yang kontroversial telah menimbulkan kecaman internasional karena Mahathir diduga mendukung kekerasan ekstremis terhadap Barat,” pungkasnya [] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar