Mampukah Vaksin Menjawab Pandemi?


Hampir satu tahun pandemi virus corona menyelimuti dunia. Jutaan manusia tumbang oleh makhluk super kecil yang sangat berbahaya ini. Seluruh dunia terguncang pada sektor ekonomi dan kesehatan yang akhirnya berimbas juga pada sektor-sektor lainnya.

 Roda produksi perusahaan-perusahaan besar nyaris berhenti sehingga banyak terjadi pengurangan jam kerja bahkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang berimbas pada meningkatnya angka penggangguran. Tak hanya berhenti sampai di sini, imbas pandemi pun merambah pada meningkatnya angka kemiskinan yang secara otomatis berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak, sehingga masalah stunting pun tidak bisa dihindari. 

Saat ini, jumlah angka kematian akibat infeksi Covid-19 terus merangkak naik. Dilansir dari CNN Indonesia data terbaru Corona per 5 Januari 2021, jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 23.109 orang, jumlah pasien positif naik sebanyak 7.445 orang sehingga total positif covid-19 menjadi 779.548 orang serta jumlah pasien yang dinyatakan sembuh sebesar 645.746 orang.

Belum lagi pada musim libur panjang pasca Natal dan Tahun Baru yang mana pemberlakuan aturan PSBB dinilai tidak efektif. Terbukti dengan membludaknya jalan-jalan menuju tempat pariwisata yang terpantau sibuk dan ramai. Aturan tidak lagi dipatuhi, anjuran pemerintah dengan penerapan 3M pun banyak yang melanggar. Sehingga situasi  bertambah parah dengan terus bertambahnya zona merah di berbagai daerah.

Epideimolog Griffith University, Dicky Budiman, menyebut situasi pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini akan memasuki masa kritis. "Kondisi Indonesia saat ini dan dalam 3 sampai 6 bulan ke depan memasuki masa kritis mengingat semua indikator termasuk angka kematian semakin meningkat," kata Dicky (tirto.id, 2/1/2020).

Meskipun saat ini pemerintah tengah mendatangkan vaksin dari sinovac asal Tiongkok dan sudah sebagian disuntikkan terutama untuk para tenaga medis, keberadaan vaksin itu sendiri pun masih menimbulkan pro dan kontra. Keraguan terhadap kehalalan dari bahan vaksin pun muncul, juga mengenai keamanan vaksin terhadap kesehatan tubuh. Terlebih lagi tersebar kabar burung bahwa siapa saja yang menolak untuk divaksinasi akan dikenakan denda sebesar Rp 5 juta. Namun kabar ini belum bisa dipastikan kebenarannya.

Dalam pandangan Islam, vaksin bukanlah sebuah solusi dalam mengatasi pandemi atau wabah melainkan hanya berfungsi untuk membagun kekebalan tubuh secara individual, yang diharapkan mampu menciptakan kekebalan dalam komunitas. Solusi yang diambil untuk kasus pandemi atau wabah menular adalah dengan menghentikan penularan virus itu sendiri melalui lockdown, tracing dan karantina serta pengobatan.

Menurut Hadist yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf bahwa beliau mendengar Rosulullah SAW bersabda;

فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا، فِرَارًا مِنْهُ

"Jika kalian mendengar tentang thoún di suatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ maka janganlah keluar karena lari dari thoún tersebut." (Muttafaqun 'alaih).

Dari Abu Hurairah ra, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit.”

Kedua Hadist di atas merupakan rujukan untuk menangani pandemi atau wabah dalam dunia Islam. Pemerintahan atau Daulah Islamiyah yang menerapkan hukum syariat pastinya akan melakukan tes pada setiap individu untuk memastikan siapa saja yang sakit dan siapa saja yang sehat. Memisahkan antara yang terinfeksi dan yang sehat serta mengisolasi mereka untuk mendapatkan perawatan intensif. Memberikan bantuan kepada keluarga yang terimbas dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari mereka selama anggota keluarga berada di bawah perawatan dan pengawasan medis.

Setiap muslim harus menyikapi wabah atau pandemi virus corona ini sebagai bagian dari keimanan. Mempercayai bahwa seluruh kejadian yang ada di muka bumi ini, termasuk pandemi Covid-19 merupakan kehendak dari Allah SWT. Harus ikhlas dan sabar dalam menerima takdir dari Allah SWT. Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dari-Nya. Namun, seorang muslim juga tidak boleh pasrah begitu saja menghadapi pandemi, setiap muslim harus mematuhi ketentuan protokol kesehatan untuk menghindari terjadinya penularan. Hukum sebab akibat pasti berlaku bagi setiap peristiwa terhadap makhluk Allah azza Wajalla. 

Rosulullah SAW bersabda;

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.”

Sudah seharusnyalah setiap individu menjaga kebersihan, senantiasa mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan bersikap hati-hati. Insya allah dengan ikhtiar dan do'a tidak akan terjangkiti. Sebaliknya, apabila bersikap masa bodoh dan acuh terhadap kesehatan diri sendiri maka yang terjadi adalah kerugian dan penyesalan.

Maka dari itu umat Islam wajib untuk berusaha menegakkan hukum syariat, hukum yang didasarkan pada Al-Quran, Al-Hadis, Qiyas, dan Ijmak Sahabat. Umat Islam wajib terikat dengan hukum syara' dalam  setiap tingkah laku dan perbuatan baik dalam tingkat individu, keluarga, sosial bahkan dalam bernegara supaya segala problematika yang ada termasuk pandemi covid-19 dapat teratasi atas ijin Allah SWT. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Siti Fatimah
(Pemerhati Sosial dan Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar