Mampukah Vaksin Atasi Pandemi?


Indonesia sudah merencanakan pengadaan dan pelaksanaan vaksin (Covid-19). Vaksin yang di beri nama merah putih ini ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021 (bisnis.com, 08/12).

Mengingat kondisi indonesia dalam 3-6 bulan kedepan memasuki masa kritis yaitu angka kematian (Covid-19) di Indonesia semakin meningkat. Langkah pemerintah dalam beberapa waktu ke depan sangat menentukan nasib rakyat.

Ada kehawatiran terhadap pemahaman masyarakat terhadap vaksinasi, ditakutkan masyarakat mengira bahwa dengan vaksinasi semua akan selesai, padahal vaksinasi hanyalah salah satu cara pengobatan untuk membangun kekebalan imum tubuh individu dan masyarakat. Sebagian kecil penerima vaksin masih memungkinkan untuk tertular (Covid-19), berdasarkan data sejarah sejauh ini tidak ada pandemi yang selesai dengan vaksinasi. Hanya saja dengan vaksinasi diharapkan dampak penularan (Covid-19) tidak terlalu parah.

Keberhasilan vaksinasi lebih mudah terjadi jika kondisi kurva pandemi sudah melandai. Sementara fakta yang terjadi di indonesia kurvanya masih terus meningkatkan dan membutuhkan waktu yang lama untuk menciptakan herd immunity  kata Dicky Budiman melalui tirto.id (02/01).

Protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan meningkatkan imun tubuh masih terus digemborkan di tengah pandemi. Selain itu islam punya panduan dalam penanganan supaya wabah ini dapat dihentikan, yaitu dengan cara karantina virus, sedangkan vaksinasi statusnya hanya untuk meningkatkan imun.

Di masa Rasulullah Saw pun juga pernah terjadi wabah penyakit menular, wabah itu penyakit kusta yang mematikan sebelum diketahui obatnya. Model karantina virus yang dicontohkan Rasulullah Saw pun salah satunya dengan tidak mendekati orang yang sedang terkena penyakit. Rasulullah Saw pun juga memperingatkan umatnya untuk jangan berada di wilayah yang sedang terkena wabah atau sebaliknya, jika berada dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. 

Rasulullah Saw bersabda, 

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu bagaimana pengobatan dengan cara vaksinasi dalam Islam, mampukah menyelesaikan masalah wabah penyakit. Vaksinasi sebenarnya sudah pernah dilakukan pada masa kekhilafahan Utsmani untuk mencegah penyakit cacar (small pox) yang di sebabkan oleh virus. 

Dalam Islam, berdasar hadist sunan at-Tirmidzi 2038, pengobatan dengan cara vaksinasi untuk mencegah penyakit hukumnya sunnah (mandub) tidak wajib. dan berdasar hadist shahih bukhari 5.328, shahih muslim 2.576, seseorang juga boleh menolak pengobatan vaksinasi ini dalam rangka menahan penyakit dan memilih bersabar untuk mengharap pahala dari Allah Swt. 

Tapi hari ini faktanya yang tidak mau ikut atau menolak pengobatan vaksin, sesorang terkena pasal 30 yaitu: setiap orang  yang dengan sengaja menolak untuk dilakukan pengobatan atau vaksinasi (Covid-19) dipidana dengan denda paling banyak sebesar Rp 5 juta, subhanallah sungguh ini bisnis yang sangat menggiurkan di sistem kapitalis hari ini. 

Di sistem pemerintah Islam, pemerintah memiliki kewajiban untuk mengurusi urusan umat, termasuk menyediakan layanan kesehatan di situasi pandemi (Covid-19) ini, kemudian untuk meningkatkan imun tubuh pemerintah juga mengembangkan vaksin dan memfasilitasi pendistribusianya, kemudian memisahkan orang yang sakit dengan yang sehat untuk mengurangi penyebaran penyakit, selain itu juga meningkatkan tes-tes pada individu-individu yang tanpa gejala dan orang yang telah kontak pasien yang positif (Covid-19) lalu memisahkanya dengan karantina mandiri. Ketika karantina mandiri, penderita diperiksa secara detail, kemudian dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang karantina ketika dinyatakan sudah sembuh total. 

Demikianlah solusi dari Islam yang seharusnya dioptimalkan sembari pemerintah mengupayakan pengadaan vaksin yang benar-benar aman, halal, efektif, dan efisien. Tidak hanya mengandalkan vaksinasi sebagai satu-satunya solusi ajaib, dan cenderung meremehkan upaya lain yang sebenarnya juga penting dan genting untuk menghentikan penularan virus (Covid-19).

Semua itu hanya mampu diterapkan pada sistem yang berasal dari Allah yaitu islam, peran khilafah sangat dibutuhkan ummat untuk menyelesaikan masalah pandemi (Covid-19) ini, hanya dengan khilafahlah syari'at-syariat islam itu bisa terlaksan
dengan sempurna. Dengan khilafah negara akan berkoordinasi dengan negara lain untuk menahan laju penyebaran penyakit seperti lockdown dan bekerja sama untuk pengembangan obat serta menolong negara-negara yang lemah dalam hal pengobatan dan perawatan pasien (Covid-19) seperti yang sudah terbukti dalam sejarah. Udah saatnya ummat kembali pada aturan sang IIahi yang benar-benar membawa rahmat bagi manusia dan seluruh alam. Wallahu’alam.[]

Oleh: Maylina Isnaini 
(Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar