Lulusan Havard Medical School: Saatnya Agenda 2021 Ikuti Aturan Allah



TintaSiyasi.com-- Menanggapi berbagai kebijakan pemerintah selama tahun 2020, terutama dalam penanganan pandemi, Konsultan Independen Genetika Molekular, Doktor lulusan Havard Medical School, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo Ph.D mengajak tahun 2021 mengikuti ukuran-ukuran yaitu aturan yang sudah ditetapkan Allah SWT.

"Padahal untuk bisa membangun kepedulian, membangun suatu solusi supaya kita bisa selesai ke depannya perlu kepercayaan dan kerja sama. Dan di sinilah bagaimana Allah menciptakan ukuran-ukuran dan ini saatnya agenda kita 2021 apapun yang kita rencanakan ikuti ukuran Allah yang telah ditetapkan tadi,” ujarnya dalam Catatan Awal Tahun 2021 Antara Fakta dan Idealisme, Menyongsong Perubahan Masa Depan, Ahad (03/01/2021) di Channel YouTube Suargo.

Lanjutnya, kepercayaan rakyat nampaknya sudah tidak ada, baik antara masyarakat dengan pemimpin, pemimpin dengan masyarakat, antara ulama dengan ilmuannya, sesama masyarakat pun sudah tidak lagi percaya. 

Menurutnya, resiko kematian Covid-19 tidak selalu nampak secara jelas angkanya, bahkan relatif kecil. Ia menegaskan, jika ingin menyelesaikan masalah Covid-19 itu mudah, karena yang membuat frustasi adalah kepercayaan rakyat sudah hilang. 

Selanjutnya ia menjelaskan terkait qadar virus corona Covid-19. “Virus Covid-19 memiliki qadar yakni mengenali reseptor pada manusia. Selama dia manusia pasti bisa tertular, dan selama manusia berkerumun juga bisa tertular,” katanya.

Menurutnya, skema virus bekerja dimulai dari paparan kepada sebagian kita, kemudian kita akan terinfeksi. Lalu menurutnya, ada sebagian yang memiliki gejala dan ada yang tidak. Ia menjelaskan, di situlah qadar virus Covid-19 itu unik berbeda dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) setiap orang yang terinfeksi pasti ada gejala, berbeda dengan flu burung orang yang terinfeksi pasti bergejala sedangkan Covid-19 orang yang terinfeksi belum tentu bergejala. Tambahnya, Covid-19 bisa dikatakan tidak bergejala atau belum bergejala. 

“Ironisnya orang Cina yang mayoritas ingkar kepada Allah SWT, tapi dia paham dengan qadar virus. Karena, mereka paham qadar virus akan menular ke orang yang terdekat maka dilakukan lock down. Mereka melakukan massive testing (pengetesan yang masif). Kemudian melakukan isolasi yang terpusat, tidak boleh isolasi mandiri. Bahkan, militer turun tangan untuk memastikan orang melakukan isolasi terpusat," bebernya.

Lanjutnya, sementara di kalangan umat Islam sendiri ternyata memahami konsep qadar agak rumit. Ia mengungkap, pada bulan Maret ada cluster Goa. "Untungnya teman-teman di sana membatalkan acara yang harusnya 3 hari hanya sehari, tetapi sudah cukup untuk membangun suatu cluster, apalagi ada narasi kenapa takut corona bukan takut Allah dan mereka lupa bahwa Allah sudah menciptakan qadar pada corona. Bukan salah corona bisa menyebar, yang salah kita sendiri. Maka menjadi satu catatan, grafik orang yang terinfeksi meningkat terus," paparnya.

Ia heran, pada awal bulan Maret pemerintah justru impor besar-besaran rapid anti body. "Kita baru belajar bahwa rapid anti body kurang akurat untuk memutus rantai penularan. Menjadi hal yang tidak logis ketika harus bepergian yang dicari justru rapid yang tidak reaktif padahal kalau reaktif itu relatif lebih aman karna dia harus disuntik anti body," jelasnya. 

Menurutnya, inilah sains dari qadar virus yang tidak dipahami dan memahaminya tergantung kepada masing-masing. "Jika masyarakat harus melakukan 3M  (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak), jika penguasa harus memberikan fasilitas testing yang memadai dan kontak telusur, ini bukan SARS jika SARS ada yang bergejala kalau ini OTG (Orang Tanpa Gejala),” ungkapnya.

Ia menambahkan, ada kalimat-kalimat 'corona penyakit yang akan sembuh sendiri’. Menurutnya, kalomat tersebut  menjadi masalah yang membuat seseorang itu abai, karena meskipun akan sembuh sendiri 10-20 persen rekan-rekan kita yang terinfeksi, perlu ruang isolasi di rumah sakit. Ia merasa miris, karena sekarang beberapa RS di Jakarta sudah penuh, tidak lagi menerima pasien untuk isolasi.

“Kemudian yang disayangkan adanya tebang pilih hukum, yang namanya kerumunan virus tidak bisa membedakan apakah ini kerumunan menyambut seorang habib atau kerumunan yang akan mencari calon wali kota. Akhirnya kita tahu, Ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Tangerang ada yang meninggal, yang menjadi masalah bukan hanya pilkada di hari H tapi rangkaian acara pilkada yang menyebabkan orang berkerumun di sanalah nanti akan menjadi masalah,” tandasnya.

Ia bilang, di tahun 2021, karena sudah ada vaksin sebagai pelengkap tidak boleh melupakan 3M dan 3T (Tracing, Testing, Treatment). Ia merefleksikan bagaimana dalam beragama dan bermasyarakat dan baagimana memahami konsep qadar.[] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar