Korporasi Membajak Potensi Generasi


Generasi menjadi ujung tombak suatu peradaban. Karena dipundak merekalah estafet kepemimpinan suatu negara. Generasi berlimpah dan berkualitas menjadi dambaan setiap negara. Hanya saja seiring perubahan jaman paradigma mulai berubah, sistem sekuler kapitalis menyulap generasi sebagai komoditas demi mengisi pasar kerja. Lihat saja bagaimana pendidikan vokasi menjadi anak emas di dunia pendidikan. Tujuannya mencetak SDM yang lihai menghadapi era Industri 4.0.

Tujuan itu tampak pada kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim dengan slogan Merdeka Belajar. Bahkan Ditjen Dikti Kemendikbud bersama Google, Gojek, Tokopedia dan Traveloka mengadakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021.Target 9 juta talenta digital hingga tahun 2023. Bahkan sekolah SMK pun tak ingin ketinggalan, mencanangkan program link and match. Agar lulusan pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhannya (kompas.com, 08/01).


Mengkritisi Program Merdeka Belajar

Merdeka Belajar adalah program kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim yang esensinya adalah kemerdekaan berpikir. Tujuannya agar guru, murid dan orangtua murid bahagia serta mendorong siswa untuk menguasai berbagai keilmuwan yang berguna untuk memasuki dunia kerja.

Program ini telah merilis 6 episode yaitu: Pertama, Penghapusan UN hingga penyederhanaan RPP guru; kedua, Kampus Merdeka; ketiga, Fleksibilitas dan otonomi soal dana BOS; keempat, Program Organisasi Penggerak (POP); kelima, Guru Penggerak; keenam, Transformasi dana pemerintah untuk pendidikan tinggi.

Episode yang ke-6 ini yang saat ini ramai diperbincangkan. Diantaranya terkait insentif kinerja berdasarkan capaian 8 IKU (Indikator Kerja Utama) yaitu mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus melalui magang, wirausaha dan lain-lain; dosen berkegiatan di luar kampus dengan mencari pengalaman industri; praktisi mengajar di dalam kampus atau merekrut dosen yang berpengalaman di bidang industri dan lain-lain. Tujuan dari episode ini adalah mengawinkan perguruan tinggi dengan dunia kerja. Menyiapkan SDM menghadapi era industri 4.0.

Industri 4.0 merupakan momen penting dalam pemerataan kualitas pendidikan. Sebab pada tahun 2030 menjadi puncak bonus demografi Indonesia dengan 64% penduduk adalah angkatan kerja. Potensi usia produktif penduduk Indonesia menjadi incaran banyak pihak.

Bangkit (Bangun Kualitas Manusia Indonesia) 2021 merupakan suatu proyek independen untuk mendapatkan kompetensi di bidang machine learning, mobile development dan cloud computing. Itu implementasi dari keahlian teknologi dan soft skill yang dibutuhkan untuk sukses berpindah dari dunia akademis ke tempat kerja di perusahaan terkemuka. Target awal 3000 mahasiswa, keseluruhan 9 juta talenta digital hingga tahun 2023. 

Tak hanya itu, bahkan Kemendikbud berkolaborasi Kementrian Perindustrian dengan adanya program pendidikan vokasi link and match antara SMK dengan industri. Menargetkan 2.600 SMK dan 750 industri yang akan terlibat pada program itu. Ini bukan hanya wacana, tapi sudah terealisasi selama 2 tahun sejak 2019. Bahkan angkanya melampaui target awal.  

Melihat berbagai terobosan itu, tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa Kebijakan Merdeka Belajar berorientasi pada pasar tenaga kerja yang kapitalistik. Pendidikan ada agar lulusannya  bisa terserap dalam bursa tenaga kerja sebesar-besarnya. Pendidikan membentuk mental buruh, bukan mental pemikir. Nampak tuntutan kapitalis telah membajak dunia pendidikan.

Mengapa dikatakan kapitalistik? Karena pemerintah menerapkan teori trickle down effect. Jika dunia pendidikan mencetak generasi entrepreneurship yang bisa membuka lapangan pekerjaan maka otomatis masyarakat akan ikut terbantu ekonominya.

Lantas apakah problem kemiskinan terselesaikan? Big No. Karena hal ini merupakan strategi kapitalisme global dalam menstimulus daya beli masyarakat agar meningkat sehingga mereka bisa menjadi customer yang setia membeli produk yang dihasilkan korporasi. Inilah jahat dan serakahnya kapitalisme.

Semua gebrakan dalam Merdeka Belajar sesungguhnya tidak menyentuh akar permasalahan, malah menambah ruwet. Merdeka Belajar yang bernafaskan sekuler-kapitalis secara nyata merusak potensi generasi. Karena hanya menghasilkan generasi yang pragmatis dan bermental buruh, berdaya untuk berebut remah-remah ekonomi, krisis kepribadian dan akhlak, inklusif, moderat dan pemuja kebebasan. Lantas siapa yang akan membangun peradaban dan menjadi pemimpin di masa depan jika generasi yang terbentuk bermental buruh, bukan pemikir?

Kapitalisme berhasil membuat negara berlepastangan dari tanggungjawabnya sebagai penyelenggara pendidikan untuk rakyat. Menjadikan negara bergantung pada swasta. Oleh karena itu selama Kapitalisme yang menjadi acuan, maka potensi generasi akan dibajak korporasi demi memuaskan keserakahan para kapitalis.

Pendidikan sejatinya membentuk SDM yang mampu memahami permasalahan dan kebutuhan masyarakat dan menyolusikannya serta  menghasilkan karya dan penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Faktanya justru diplot sebagai pabrik penghasil buruh untuk memenuhi kebutuhan industri atau pasar. Lagi-lagi demi kepentingan korporasi. Sementara dunia pasar adalah bisnis yang berasaskan untung rugi bukan pelayanan dan pengabdian.


Islam Menyelamatkan Generasi Dari Pembajakan Korporasi

Islam merupakan ideologi yang secara paripurna mengatur semua urusan. Khilafah menjadi institusi yang menerapkan ideologi Islam. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian serius dari Khilafah.

Pendidikan adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal dan ilmu-ilmu terapan (IPTEK) serta memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Sistem pendidikan dalam Khilafah tersusun atas hukum-hukum syara dan administrasi. Kurikulum, materi dan metode pembelajaran ditetapkan oleh Khilafah.

Kurikulum pendidikan dalam Khilafah berlandaskan akidah Islam. Materi yang diberikan seputar tsaqafah Islam dan ilmu-ilmu terapan. Metode pengajaran bersifat talqiyan fikriyan, yakni membangun konsep berpikir dan penyadaran, bukan sekedar hafalan dan transfer ilmu, tapi memahami hingga menjadi pola pikir dan pola sikap.

Pengajaran tsaqafah (ilmu) Islam diberikan pada semua jenjang pendidikan. Pada tingkat dasar (TK dan SD) ditekankan pada pengenalan keimanan dan seputar hukum syara. Pada tingkat menengah (SMP dan SMA) diberikan keilmuan lanjutan untuk mematangkan pemahaman. Sehingga ketika menginjak usia baligh siswa sudah mengetahui norma-norma agama. Melaksanakan segala perintah Rabb-nya dan menjauhi tindak maksiat dengan penuh kesadaran. Pada tingkat Perguruan Tinggi (PT) disediakan berbagai jurusan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu terapan. Disinilah siswa akan terbentuk menjadi faqihu fiddin, mujtahid, penemu, ilmuwan, pelopor industri, inovator dan lain-lain.

Berkaitan dengan ilmu terapan seperti matematika, fisika, sains, IT, teknik mesin dsb. Maka diajarkan sesuai kebutuhan tanpa terikat dengan jenjang manapun. Bisa jadi di tingkat SMP sudah disalurkan sesuai bakat dan minat dalam spesialisasi ilmu terapan yang dibutuhkan untuk berdaya guna dalam kehidupan dunia. Ketika sudah sampai pada PT, lulusannya akan sangat berdaya menjadi pemimpin, pakar dan inovator dibidangnya masing-masing.

Semua itu diselenggarakan oleh negara Khilafah secara keseluruhan. Tidak diserahkan pada swasta apalagi korporasi. Khilafah menanggung seluruh pembiayaan pendidikan termasuk fasilitas (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain). Karena pendidikan telah menjadi kebutuhan dasar kolektif yang mesti dijamin secara langsung oleh negara.

Walhasil profil pemberdayaan generasi masa Khilafah adalah generasi yang berkepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap Islam), peletak dasar keilmuwan dan pembangun peradaban manusia serta mampu menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat.

Potensi unggul generasi berdaya dalam Khilafah. Tidak akan ada pembajakan oleh Kapitalis. Mujtahid akan menyelesaikan masalah-masalah kontemporer masyarakat. Ilmuwan akan mengembangkan sains dan teknologi. Intelektual akan membentuk dan melestarikan peradaban Islam. Semua itu akan menjadikan Islam dengan Khilafahnya sebagai mercusuar dan kiblat peradaban dunia.[]

Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I

Posting Komentar

0 Komentar