Ketika Ibu Pertiwi Berkubang Duka


Terjadi lagi. Indonesia masih setia jatuh dalam kubangan duka. Belum usai Ibu pertiwi meringis lantaran banjir mengepung tanah nusantara, kini bumi menampakkan kembali geramnya melalui beberapa bencana yang datang seolah tiada berselang.

Didahului dengan tanah longsor di Sumedang Jawa Barat, disusul jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Jakarta, banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Sulawesi Barat, hingga gunung meletus di Jawa Timur (Tribunnews, 17/01/21). Tak sampai di situ gempa kini menuju Utara pulau Sulawesi dengan guncangan magnitudo 7,1 pukul 19.23 WIB (CNN Indonesia, 21/01/21).

Merujuk data Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB per hari Senin (18/1) pukul 20.26 WIB, total korban meninggal yang berhasil ditemukan mencapai 40 jiwa korban longsor Sumedang Senin malam (18/1). Seluruh korban yang sudah ditemukan itu pun sudah berhasil diidentifikasi dan diserahkan ke keluarganya masing-masing. 

Sedangkan menurut data Pusdalops BNPB, sebanyak 1.119 warga masih mengungsi di Lapangan Taman Burung dan mengungsi mandiri di tempat kerabat yang aman dari dampak longsor (Merdeka.com, 19/01/21).

Di hari yang sama, Indonesia dikejutkan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Pesawat Sriwijaya Air itu membawa 62 orang. Sebanyak 50 orang merupakan penumpang dan 12 lainnya adalah kru (Tempo.co, 20/02/21). 

Sementara itu dilansir dari tirto.id, pada 14 januari 2021 banjir melanda hampir seluruh bagian Kalimantan Selatan setelah insentitas hujan tinggi mengguyur daerah itu, tercatat sebanyak 27.111 rumah terendam banjir dan 112.709 warga di Kalimantan Selatan mengungsi akibat banjir yang terjadi sejak Selasa (12/1/2021) hingga ahad (17/1/2021).

Sedangkan wilayah Sulbar juga digunjang gempa pada kamis (14/01/21), dengan magnitudo 5,9 dan di hari jumat ((15/01/21) dengan magnitudo 6,2. Kepala Subseksi Siaga dan Operasi Badan SAR Nasional Sulawesi Barat Muhammad Fathur mengatakan, hingga Rabu (20/1/2021) tercatat 111 korban gempa Sulawesi Barat. 90 korban meninggal dunia, 18 orang selamat, dan tiga dinyatakan hilang (Kompas.com, 20/01/21).

Abu vulkanik gunung Semeru menghujani sebanyak lima kecamatan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl itu erupsi dan meluncurkan awan panas sejauh empat kilometer.Pada hari yang sama sembilan kecamatan di manado disapu banjir dan tanah longsor (Pikiran rakyat.com, 17/01/21).

Pada hari yang sama, dilansir dari kumparanNews, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, menuturkan setidaknya 9 kecamatan dan 33 kelurahan di Kota Manado terdampak banjir dan tanah longsor. Kerugian materiil akibat bencana ini adalah dua unit rumah yang rusak berat dan 10 unit rumah rusak sedang. Akibatnya, 500 jiwa harus mengungsi dan terdapat enam orang yang dinyatakan meninggal dunia (Kumparan.com, 21/01/21)

Inilah rentetan musibah yang terjadi setelah beberapa pekan memasuki tahun 2021 di negeri ini. Parahnya lagi, semua ini terjadi di saat pandemi Covid-19 masih belum usai bahkan kasusnya kian memuncak tiap harinya. 

Pihak BMKG sendiri menyebut bahwa kondisi cuaca yang menyebabkan bencana di awal tahun ini sebenarnya belum seberapa, karena puncak cuaca ekstrem justru akan terjadi sekitar bulan Februari dan Maret yang akan datang.

Artinya, kehidupan masyarakat Indonesia masih dibayang-bayangi oleh bencana yang lebih besar baik itu berupa banjir, longsor, puting beliung, atau yang lainnya. Sehingga siapa pun tentu harus waspada, karena bencana bisa menimpa siapa saja dan di mana saja.


Mengapa Bencana Seolah Menggilir Daerah di Bumi Pertiwi?

Semua bencana ini merupakan qadha dari Allah SWT yang tak mungkin ditolak atau dicegah. Namun, sebagai seorang muslim tentulah harus disikapi secara tepat.

Bencana sejatinya hadir sebagai warning bagi manusia bahwa ada yang hal yang perlu dibenahi dengan cara kita menjalani kehidupan di bumi dan berinteraksi dengan alam. Bukan hanya pemimpin dan jajarannya, tapi juga rakyatnya dan seperangkat sistem hidup yang diterapkan.

Allah SWT berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya). Pada hari itu mereka terpisah-pisah.” (QS. Ar Rum: 41-43)

Betapa kepedulian menjaga alam mulai luput dari perhatian masyarakat. Sampah dengan mudahnya ditemukan di tempat yang tak semestinya seperti dii saluran air, sungai-sungai bahkan di lautan. Kontrol sosial nyaris hilang hingga perilaku rusak dan merusak kian menjangkiti dan menjadi kebiasaan.

Bahkan bencana yang datang silih berganti dengan ragam wujudnya tak jadi pelajaran. Terkadang bencana malah menjadi ajang untuk saling menyerang dan menyalahkan sehingga jangankan menjadi wasilah pertobatan untuk perenungan pun nampaknya jauh dari bayangan.

Di sisi lain negara pun abai. Upaya serius untuk menuntaskan problem ini hingga ke akar tak terlihat. Jika dikatakan tak mampu, maka ini adalah hal yang irasional karena bukankah penguasa punya segalanya? Termasuk aturan dan segala bentuk media untuk mengedukasi masyarakat agar punya kebiasaan hidup yang baik. 

Negara juga bisa mengatur berbagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan umat. Di antaranya perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menciptakan teknologi serta melakukan berbagai riset yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat, bukan malah sebaliknya membiarkan perguruan tinggi mengabdi pada kepentingan kapitalis.

Tak perlu heran jika negara abai, karena memang sistem kapitalisme korporatokrasi yang diterapkan hari ini telah didesain agar penguasa lepas tangan dari tanggung jawabnya mengurusi rakyat. Bahkan, negara cenderung menjadi akar kezaliman dan kerusakan. Melalui  kebijakan yang diterapkan, termasuk investasi telah menjadi jalan bagi pejabat mencari keuntungan, sekaligus menjadi pintu penjajahan asing.

Kita lihat betapa kebijakan pembangunan yang diadopsi oleh negara memang sama sekali tak ramah lingkungan. Jauh pertimbangan keseimbangan ekosistem. Banjir misalnya. Banjir adalah bencana yang sebagian faktor risikonya bisa dikendalikan manusia dalam hal ini menyangkut kebijakan penguasa terkait pemanfaatan lahan dan perencanaan pembangunan dikaitkan pengelolan tata ruang kawasan.

Namun, sistem sekular kapitalistik telah melegalkan eksploitasi sumber daya alam secara serakah. Alih fungsi lahan dan pembangunan infrastruktur atas nama menggenjot investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Penebangan hutan dan alih fungsi lahan di dataran tinggi telah menyebabkan tanah tidak mampu menahan erosi sehingga laju sedimentasi tinggi dan berujung longsor. Begitu pula dengan gempa harusnya bisa diantisipasi dengan kontruksi bangunan tahan gempa dan berbagai riset geologi. Bahkan, di antara para ahli konstruksi berpendapat  gempa 7 SR sekalipun seharusnya tidak mencelakakan. Namun hal ini lagi-lagi diabaikan penguasa. 

Sementara di pihak lain, penguasa malah sibuk memberi previlage pada para kaum berduit untuk menikmati keindahan pantai dan proyek reklamasi serta menikmati keuntungan investasi tak berkesudahan. Jika muncul permasalahan, satu sama lain sibuk saling menyalahkan. Berdalih pagar otonomi daerah dan adu tawar dari berbagai macam kepentingan.

Inilah bentuk kelalaian pemerintah yang seharusnya bertanggungjawab dalam pencegahan dan penangulangan segala sesuatu yang berbahaya bagi masyarakat. Kelalaian ini adalah bagian dari kemaksiatan. Maka tak heran, jika bencana terus menghampiri negeri ini.


Realisasi Islam Paripurna: Solusi Redam Bencana

Islam sejak belasan abad telah mengingatkan bahwa manusia diciptakan bukanlah untuk membuat kerusakan, tetapi untuk bersahabat dengan alam dan memeliharanya. Manusia pun diciptakan untuk menjadi khalifah sekaligus sebagai hamba pemilik bumi yaitu hamba Allah SWT.

Tujuan ini tentu akan terwujud melalui tegaknya risalah Islam yang segala aturannya memang hanya diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam bukan untuk mengadopsi atau melanggengkan sistem sekular yang rusak dan merusak.

Sungguh, bencana dunia tak seberapa dibandingkan dengan bencana akhirat yang disiapkan bagi para penentang syariat Allah. Akan tetapi tak cukupkah kehinaan yang saat ini mereka rasakan akibat dosa menolak syariat Allah?

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha: 124)

Oleh karena itu, satu-satunya cara mengakhiri ragam bencana ini tidak lain bersegera bertaubat kepada Allah SWT. Tobat yang dilakukan oleh segenap komponen bangsa terkhusus para penguasa dan pejabat negara. Tobat dari dosa dan maksiat serta ragam kedzaliman yang telah diperbuat karena kedzaliman terbesar adalah saat manusia terutama penguasa tidak berhukum dengan hukum Allah SWT.

Tobat tentu harus dibuktikan dengan kesediaan penguasa untuk mengamalkan dan memberlakukan syariat Allah secara kaffah dalam semua aspek kehidupan yakni pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya. Jika syariah Islam diterapkan secara kaffah tentu keberkahan akan berlimpah ruah memenuhi bumi. Inilah wujud hakiki ketakwaan, sebagaimana firman-nya dalam Surah Al-A’raf ayat 96:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Wallaahu a’lam bi ash-Shawwab.[]

Oleh: Jumarni Dalle
(Anggota Komunitas Cinta Al-Qur’an)

Posting Komentar

0 Komentar