Ketergantungan Impor Pangan Bikin Rakyat Tekor


Indonesia oh Indonesia. Negeri yang kaya dikenal sebagai zamrud katulistiwa. Hijau makmur subur muwur. Saking suburnya, batang ditancap tumbuh jadi tanaman.  Sungguh Indonesia memiliki hampir semua kekayaan alam baik dari gas alam, emas, permata, rempah rempah, tanah yang subur dan masih banyak lagi sampai tidak terhitung banyaknya.

Tapi ada yang aneh dengan Indonesia. Negeri yang sangat subur dan kaya raya akan barang tambang bahkan rempah, tapi suka sekali mengimpor bahan makanan? Akhir-akhir ini makanan yang dibilang merakyat bagi masyarakat yakni tahu tempe, sempat menghilang di pasar atau di beberapa wilayah mengalami kenaikan harga. Ada apa gerangan?

Merdeka.com, 3/1/2021 melansir, konsumen di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan hilangnya stok tahu dan tempe di lapak pedagang dalam dua hari terakhir. Kejadian ini imbas mogok produksi di kalangan perajin kedelai.

"Sudah sejak tahun baru ini saja saya enggak ketemu lagi tahu dan tempe di pasar. Saya juga baru tahu hari ini kalau ada mogok kerja dari yang bikin (produsen)," kata salah satu konsumen tahu dan tempe, Nurohatun Hasanah (48) dilansir dari Antara, Minggu (3/1).

Nurohatun selama ini membutuhkan 30 sampai dengan 40 kilogram tahu dan tempe untuk digoreng dan dijual di warteg kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Namun sejak komoditas berbahan baku kacang kedelai itu hilang dari pasaran, Nurohatun beralih menjual kentang goreng dan sayuran.

Dia berharap produsen kembali memasok tahu dan tempe sebab penggemar makanan tersebut cukup tinggi di warungnya. "Namanya orang Indonesia kan favoritnya tahu tempe. Seharusnya walaupun mahal harus diadain biarpun mahal," katanya.

Secara terpisah Sekretaris Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Handoko Mulyo mengatakan ketiadaan tahu dan tempe di pasaran merupakan imbas dari bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram (kg).

"Terhitung mulai 1 hingga 3 Januari 2021, kita setop produksi. Ada sekitar 5.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memproduksi tahu dan tempe, sepakat untuk mogok produksi," katanya.


Solusi Agar Tidak Ketergantungan Impor Pangan

Jadi sebab mogoknya para perajin tahu tempe itu disebabkan naiknya harga kedelai di pasaran akibat kelangkaan kedelai impor. Mengapa pemerintah tidak menstabilkan pasokan kedelai dalam negeri? Padahal kalau pemerintah serius menangani persoalan ini, Indonesia tidak akan ketergantungan impor bahan pangan. Sebab mayoritas rakyat Indonesia makan tahu tempe. 

Persoalan pangan adalah masalah krusial. Tidak bisa dianggap sepele. Dalam sistem Kapitalisme, persoalan pangan menjadi  ceruk bisnis bagi para pemodal besar. Sehingga tidak heran, terjadi monopoli pasar atau bahkan pengendalian harga dan stok oleh mafia pasar (kartel). 

Indonesia saat ini merupakan negara yang menganut ekonomi kapitalisme-liberalisme. Imbasnya, produk-produk luar negeri banyak membanjiri dalam negeri. Termasuk komoditas kedelai ini. Dengan dalih ketidakmampuan petani lokal memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, pemerintah mengimpor kedelai dari Amerika Serikat. Padahal kalau ditelisik lebih jauh, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar menjadi negeri penghasil kedelai. Selama ini, kedelai lokal kalah saing dengan kedelai impor. Sebab, tidak ditunjang oleh keberpihakan pemerintah terhadap petani lokal. Secara kualitas, kedelai lokal kalah saing dengan kedelai impor. Begitu pula dalam segi harga, kedelai lokal selisih lebih mahal.

Loyalitas Indonesia terhadap kapitalisme-liberalisme tak kan pernah mampu menjadikan rakyat sejahtera secara merata. Kesenjangan ekonomi nampak begitu menganga. Butuh solusi jitu untuk mengatasi berbagai persoalan yang melanda negeri ini, termasuk dalam perkara ketersediaan bahan pangan. Maka, sudah selayaknya kaum muslimin di negeri ini menyadari bahwa solusi satu-satunya agar hidup berkah dan sejahtera adalah dengan menerapkan Islam kaffah. Sebab, Islam memiliki seperangkat aturan yang solutif untuk kehidupan umat manusia. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Ummu Ahsan

Posting Komentar

0 Komentar