Ketaatan, Bukti Cinta Kepada Allah dan Rasulullah


Cinta adalah Taat

Seseorang bisa saja dengan mudah mengatakan bahwa ia mencintai Allah dan Rasulullah. Namun, kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW bukanlah perkara ringan. Pengakuan cinta seseorang terhadap Allah dan Rasulullah memiliki sebuah konsekuensi terhadap segala perbuatannya. Ia tak bisa berbuat sesuka hatinya, jika sungguh mencintai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. 

Dalam buku Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, Syekh Taqiyyudin an Nabhani mengutip penjelasan para ulama tentang definisi mencintai Allah dan Rasul-Nya. Al-Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya”. Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat”. Al-Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan terhadap segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW”. 

Demikianlah para ulama terdahulu mendefinisikan cinta seorang hamba terhadap penciptanya, yaitu dengan ketaatan. Kecintaan terhadap Allah SWT membuat seorang hamba tunduk dan patuh terhadap apa yang Allah telah tetapkan bagi dirinya. Tidak ada kecintaan tanpa ketaatan.

Demikian halnya dengan mencintai Rasulullah. Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah telah berjuang mendakwahkan agama Allah dengan tidak mudah. Rasulullah SAW telah dicaci, dihina, difitnah, bahkan direncanakan akan dibunuh oleh kaum kafir karena mendakwahkan Islam agama Allah. Melalui Rasulullah, kita bisa mengenal agama Islam. Satu-satunya agama yang Allah SWT ridhoi. Atas segala yang telah dilakukan Rasulullah SAW, sudah sepantasnya umat Islam mencintainya dan mengikuti setiap tuntunannya. 


Peringatan Terhadap Kecintaan Kepada Selain Allah dan Rasulullah

Bila merujuk pada definisi cinta pada Allah SWT dan Rasul-Nya yang telah dijelaskan sebelumnya, maka sebagai umat muslim kita patut bermuhasabah diri. Benarkah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya? Faktanya, banyak dari umat muslim saat ini hanya mengaku cinta dengan lisannya saja. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya terpinggirkan oleh cinta terhadap segala sesuatu yang menjadi tandingan Allah. Allah SWT telah memperingatkan manusia akan hal ini. Dalam Surat at-Taubah, Allah SWT berfirman,

“Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S at-Taubah : 24)

Allah SWT mengancam pada siapa saja yang mencintai selain-Nya. “maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Padahal sesungguhnya, segala hal yang dimiliki manusia saat ini adalah pemberian Allah. Bagaimana bisa pemberian Allah menjadi tandingan-Nya? 

Rasulullah SAW juga menyampaikan peringatan kepada manusia, segala sesuatu yang mungkin dicintai manusia melebihi cintanya pada Rasulullah SAW. Dari Anas RA, ia berkata ; telah bersabda Rasulullah SAW: “Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya.” (Mutafaq’alaih)


Ketaatan dalam Keseharian

Umat muslim yang mengaku mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya haruslah disertai dengan ketaatan terhadap ajaran Allah, yaitu Islam. Tugas manusia sebagai hamba Allah adalah mentaatinya. Jika sungguh mencintai Allah dan Rasulullah, ketaatan itu muncul tidak hanya dalam menjalankan ibadah ruhiyah, tapi juga dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam setiap langkahnya, umat muslim harus senantiasa bertanya pada dirinya, sudahkah sesuai apa yang saya lakukan dengan kehendak, aturan dan ketetapan Allah dan Rasul-Nya? Karena umat muslim, harus menjalani perintah Allah secara keseluruhan (kaffah).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Tidak ada yang lebih penting bagi seoang hamba selain keridhoan-Nya. Mari wujudkan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya dengan berislam kaffah. Wallahu'alam bishawab.[]

Oleh: Tita Rahayu Sulaeman
(Pengemban Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar