Kemurnian Agama Islam Terjaga dengan Khilafah


Baru-baru ini publik dikagetkan dengan pernyataan Menteri Agama yang baru saja menjabat, Yaqut Cholil Qoumas. Ia menyatakan bahwa, pihaknya akan mengafirmasi hak beragama warga Syiah dan Ahmadiyah serta memberikan perlindungan kepada kedua kelompok tersebut. 

Ia menyatakan tidak ingin kelompok minoritas Syiah dan Ahmadiyah terusir dari kampung mereka, karena perbedaan keyakinan. Menurutnya, mereka warga negara yang harus dilindungi (Tempo.com, 24/12/2020).

Akibat pernyataan ini, muncul banyak kecaman dari berbagai pihak seperti MUI. Bagaimana tidak, seperti yang kita ketahui bersama bahwa Syiah dan Ahmadiyah sebelumnya sudah jelas-jelas dinyatakan sebagai aliran sesat oleh MUI karena dapat membahayakan keyakinan umat Islam. 

Namun seperti biasa, setelah mendapat kecaman sehari setelahnya Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa tak pernah menyatakan akan memberikan perlindungan khusus kepada kelompok Syiah dan Ahmadiyah. "Tidak ada pernyataan saya melindungi organisasi atau kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Sikap saya sebagai menteri Agama melindungi mereka sebagai warga negara," katanya. (Tempo.com, 27/12/2020) 

Sekularisme Menumbuh Suburkan Pluralisme

Persoalan Syiah dan Ahmadiyah menjadi polemik yang tak ada habisnya di negeri ini. Dengan dalih toleransi dan HAM, pemerintah melindungi kelompok yang jelas menyebarkan pemahaman yang merusak aqidah Islam bagi setiap warganya. 

Pemerintah membuka peluang lebar ajaran Syiah dan Ahmadiyah masuk untuk mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain. Mereka menganggap semua agama adalah sama. Pemahaman ini lah yang justru akan membuat ajaran Islam semakin melenceng dari apa yang disampaikan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya.

Bahkan tidak ada pengawasan dari pemerintah untuk mengawasi aliran ini yang jelas merusak keyakinan atau aqidah Islam dianut setiap individunya. Pemerintah seolah lepas tangan dan membiarkan setiap warganya mendapat ajaran yang sesat. 

Seperti itulah dalam sistem demokrasi sekuler, sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan. Dengan ide kebebasan termasuk kebebasan beragama, pemerintah membiarkan setiap warga negaranya menyebarkan atau pun melakukan sesuatu sesuai keyakinannya. Tidak peduli apakah itu sesat atau tidak, dapat membahayakan umat atau tidak. Dari sini membuktikan bahwa negara tidak tegas dalam memberantas penyebaran aliran sesat, bahkan membiarkan terus menjamur. 

Dalam sistem demokrasi sekuler liberal, orang bebas melakukan apa saja atas nama HAM, termasuk bebas bergonta ganti agama atau membuat agama yang baru yang sesuai dengan nafsu mereka. Sehingga tak heran kalo saat ini banyak sekali aliran-aliran baru yang bermunculan. Mereka mengaku Islam, tapi perilaku mereka jauh dari ajaran Islam.

Islam Terjaga dengan Khilafah

Islam adalah agama yang paling toleran. Karena sejatinya, keragaman agama dalam Islam bukan sebuah masalah. Toleransi dalam Islam di sini dalam artian saling menghargai keragaman suku, agama dan bahasa. Namun, mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain dengan dalih toleransi adalah suatu kemungkaran. Islam juga menghargai dan melindungi entitas teologis dan sosiologis yang berbeda selama mereka mentaati aturan dalam negara Islam. 

Dalam Islam, umat Islam hidup rukun berdampingan dengan umat beragama lain atau kafir yang mendapat perlindungan dan melindungi keyakinan mereka. Islam juga memberikan hak yang sama dalam pemenuhan kebutuhan publik sebagai warga negara.

Islam tidak mempermasalahkan perbedaan berkaitan dengan pendapat atau paham yang masih dalam batas-batas yang dibolehkan, selama Islam tidak akan melarang pendapat tersebut, meskipun pendapat itu bertentangan dengan pendapat yang diadopsi oleh khilafah.

Namun, jika perbedaan yang berkaitan dengan aqidah, seperti Ahmadiyah dan Syiah yang secara nyata menyimpang dari Islam dan membahayakan pemahaman umat Islam, maka khalifah mencegahnya, memberikan sanksi kepada siapa saja yang menyebarkan dan menganutnya sesuai dengan hukum syariat. Karena ini bukan hanya menyangkut perbedaan pendapat, namun sudah ke ranah keyakinan yang dapat menyebabkan murtad. 

Ini terbukti saat Islam diterapkan selama 13 abad. Sejarah Islam terbukti mampu melindungi agama dan menghilangkan merebaknya aliran sesat. Dibawah kepemimpinan khalifah, umat Islam hidup berdampingan dengan non muslim atau yang dikenal dengan kafir dzimmi. Mereka hidup rukun dalam aturan Islam dan dilindungi daulah. Khalifah memberikan jaminan beragama dan beribadah sesuai agamanya kepada kaum dzimmi. Khalifah pun menjamin kebutuhan mereka seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan. 

Dalam memberantas menyebarnya aliran sesat, khilafah akan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku. Jika tidak mau bertobat, maka sanksinya adalah hukuman mati. Namun, jika bertobat, maka tetap diberikan sanksi sesuai yang ditetapkan oleh khalifah atau qadhi. 

Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw. Salah satu contohnya adalah kemunculan nabi palsu di bumi imamah. Di saat mendengar berita tersebut Nabi Muhammad tidak langsung mempercayainya, tetapi beliau mengirim utusan untuk memeriksa kebenarannya. Karena masalah penyimpangan agama adalah masalah yang sangat berat, sehingga dibutuhkan bukti yang benar.

Setelah melakukan klarifikasi kebenaran berita tersebut, beliau lalu melakukan mediasi atau pendekatan terhadap pelaku penyimpangan. Dengan tujuan agar meraka yang melakukan penyimpangan agama, mau bertaubat dan kembali kepada kebenaran yang sejati. Beliau juga melakukan diskusi dan adu argumentasi kepada pelaku penyimpangan agama, biar para pelaku bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. 

Sehingga mereka dengan rela dan yakin untuk kembali memeluk agama Islam yang benar. Dan setelah semua jalan telah di tempuh, dari mulai klarifikasi, mediasi dan argumentasi tetapi mereka tetap menyimpang, maka jalan terakhir adalah eksekusi, yaitu memerangi mereka untuk memberi efek jera. Karena penyimpangan agama ini sangat berbahaya maka harus ditangani dengan tepat, supaya tidak menyebar dan mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka.

Demikianlah cara negara khilafah dalam melindungi agama dan warga negara yang jauh berbeda dengan sistem demokrasi sekuler yang diterapkan saat ini. Wallahu 'alam bish-showwab.[]

Oleh: Zulaikha
(Mahasiswi IAIN Jember dan Aktivis Muslimah) 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. di mekkah juga sampai sekarang ga pake sistem khilafah lihatlah mereka betapa majunya peradaban dan juga kedamaian yang ada, toh juga apapun sistemnya mau demokrasi ataupun kerajaan selama tidak bertentangan dengan Islam itu tidak masalah.

    BalasHapus