Kembali Kepada Allah


Berlimpah sungguh nikmat yang kita terima
Semua terhampar indah, tak satupun cela
Langit curahkan rahmat-Nya, lautpun mutiara
Dunia teramat lezat, seakan di surga...

Namun sungguh malang, manusia merasa menang
Lupa akan kuasa Allah, kufuri nikmat-Nya
Semua kini penuh duri, terpasung nan perih
Itulah murkanya Allah, sungguh keras azabnya

Mungkin lirik di atas kurang lebih menggambarkan kondisi negeri ini. Tahun 2021 belum lama berjalan, namun negeri ini berturut-turut dilanda bencana. Pandemi corona yang tak menemui titik akhir, banjir, longsor dan berbagai macam musibah yang terjadi saat ini, bukanlah sekedar fenomena alam. Namun, juga ada ulah tangan manusia. Sebagaimana dalam firman Allah: "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [QA. ar-Rûm: 41]

Manusia dengan segala kenikmatan harta dan kekuasaan, menjadikannya kufur dan sombong.  Seolah-olah dengan banyaknya harta dan kekuasaan bisa menguasai dunia.
Mungkin kita lupa apa yang terjadi pada Fir'aun. Fir'aun dengan segala kekayaan dan kekuasaannya akhirnya dihancurkan Allah dengan sehancur-hancurnya. Begitu juga yang terjadi pada kaum Adh, Samut dan Luth, mereka juga dihancurkan Allah karena perbuatan dosa dan maksiat yang mereka perbuat. Seharusnya kisah-kisah itulah menjadi pelajaran untuk kita.

Hari ini banyak manusia menentang dan menantang perintah Allah. Banyak kemaksiatan dan kezaliman yang terjadi, seperti menghalalkan yang diharamkan Allah, menganti ayat-ayat Allah dengan konstitusi, mengkriminalisasi orang-orang shalih dan masih banyak kemaksiatan lainnya. 

Mungkin inilah yang menjadi titik awal kerusakan yang terjadi pada hidup dan kehidupan ini. Maka obat dari segala kerusakan ini adalah kembali pada Allah. Karena sejatinya mengembalikan semua urusan dan persoalan kepada Allah dan Rasul adalah kewajiban kita sebagai kaum mukmin. Dengan kembali pada Allah niscaya nikmat-Nya selalu kan turun selamanya. Wallahu'alam.[]

Oleh: Nurul Afifah

Posting Komentar

0 Komentar