Keluarga Muslim Cinta Syariah, Isu Radikalisme Membuat Masalah


Persoalan keluarga hingga hari ini memang tidak ada habisnya. Di antara maraknya kasus perceraian, merebaknya kemiskinan dan pengangguran, dekadensi moral termasuk perselingkuhan pasangan menikah, free sex di kalangan remaja yang kian membudaya, LGBTQ dan kasus-kasus incest yang juga kian mencuat. Semuanya mengindikasikan ada yang salah dengan ketahanan keluarga kita.

Kondisi ini pun telah meresahkan sebagian besar keluarga muslim dan akhirnya mereka mulai menyadari bahwa solusi atas persoalan yang sedang mereka hadapi hanya ada pada Islam. Kesadaran ini pun terimplementasi dari keluarga muslim untuk mengenal kembali agamanya. Keluarga muslim mulai terpacu membangun keluarga yang cinta rasul cinta syariah. Bahkan tagar #IslamSolusiNegeri dan #IslamJagaPerempuan sempat bertengger di twitter hingga menjadi trending topic akhir tahun lalu. 

Namun miris, di tengah kondisi ini narasi kontra radikalisme justru bergulir di tengah-tengah masyarakat. Narasi ini telah menjadi penghalang tersendiri bagi keluarga muslim untuk mengenal Islam kaffah dan mengimlementasikan syariah dalam lingkup keluarga, masyarakat hingga bangsa. Pasalnya paham radikalisme seakan telah disematkan pada ajaran Islam dan umat Islam. Radikalisme dipandang sebagai cikal bakal terorIsme dan dianggap berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. 

Bahkan Sahabat Keluarga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menuliskan bahwa orang tua memiliki peran yang besar mencegah masuk dan berakarnya paham radikalisme dalam diri anak. salahsatunya adalah dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang bahaya gerakan radikalisme. (https://sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id/cara-menghindarkan-anak-dari-paham- radikal).

Pada saat yang sama dengan berdalih edukasi dan penjagaan keamanan, kalangan perempuan/ibu terus dimainkan dan diberi peran penting dalam menderaskan paham Islam moderat yang dilambangkan lebih ramah dan toleran. Padahal penderasan paham ini justru kian menjauhkan Islam dari hakikat sejatinya sebagai ajaran yang kaffah. 

Siapapun memahami narasi kontra radikalisme muncul dari penguasa. Yang diimplementasikan melalui kebijakan-kebijakannya dan merupakan bagian program deradikalisasi yang di jalankan dunia Barat hari ini. Ya, Barat telah melakukan strategi politik busuk dengan menyematkan kata radikal kepada Islam dan kaum muslimin yang berseberangan dengan ideologi kapitalisme-sekulerisme.

Sekulerisme oleh Barat dimaksudkan untuk memisahkan agama dari kehidupan. Maka siapa saja yang menjadikan agama sebagai dasar berfikir untuk kehidupan akan dicap sebagai kaum radikal yang wajib dimusuhi. Sebaliknya siapa saja yang berfikiran sekuler maka akan dijadikan temannya. Kaum sekuler oleh Barat lantas disebut moderat. 

Padahal Islam sesungguhnya tidak untuk ditimbang sebagai radikal atau moderat sebagaimana timbangan interpretasi Barat. Pun tentu tidak logis dan relevan, jika nilai dan persepsi Barat digunakan menimbang Islam. Kebenaran dan keunggulan ideologi dan peradaban, termasuk Islam seharusnya ditimbang berdasarkan rasionalitas dan kesesuaian aqidahnya dengan fitrah serta keandalan aturan/sistemnya sebagai solusi persoalan manusia.

Dan Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang berasal dari wahyu Allah nyata-nyata terbukti memenuhi kedua aspek tersebut. Barat juga sangat paham dahulu negara Islam yang menerapkan Islam secara kaffah–lah yang menyatukan umat Islam sedunia dan mampu menjadi negara adidaya yang sangat maju. 

Karena itu skenario demi skenario direkayasa Barat untuk melumpuhkan kebangkitan Islam yang kian kuat. Dan seperti yang terjadi hari ini, saat muncul fenomena “mempelajari Islam Kaffah” di tengah keluarga muslim saat ini, tentu menjadi ancaman tersendiri bagi mereka.

Oleh karena itu, dalam menghadapi arus kontra radikalisme seharusnya kaum muslim tidak terpengaruh. Keluarga muslim harus konsisten dan komitmen mempelajarinya hingga tuntas serta mengimplementasikan dalam kehidupan tanpa terkecuali. Sebab hanya Islam yang mampu mewujudkan ketahanan keluarga sekaligus bisa mengukuhkan bangunan masyarakat hingga negara. Hanya Islam satu-satunya solusi seluruh problematika kehidupan manusia yang dihasilkan oleh sistem kapitalisme sekuler. 

Sistem politik pemerintahan Islam tegak diatas paradigma sahih tentang kepemimpinan. Pemimpin dalam Islam berfungsi sebagai pengurus sekaligus perisai bagi umat. Ia tidak boleh abai atas kebutuhan dan keselamatan rakyatnya.  Caranya adalah dengan menerapkan seluruh hukum Allah secara murni dan konsekuen sebagaimana yang Allah perintahkan. 

Sistem ekonomi Islam dipastikan akan menjamin kesejahteraan orang per-orang. Karena sistem ini berangkat dari paradigma yang sahih tentang apa makna kebutuhan, potensi manusia dan bagaimana mengelola seluruh sumber daya yang Allah berikan sebagai jaminan rezeki bagi seluruh umat manusia. 

Begitupun dengan sistem sosial, Islam mengatur pergaulan masyarakat termasuk relasi laki-laki dan perempuan dengan tujuan yang mulia dan memuliakan, yakni melestarikan keturunan sekaligus mewujudkan generasi cemerlang pionir peradaban yang purna dalam keimanan. Keluargapun mendapat kedudukan penting dalam Islam. Selain sebagai tempat memenuhi naluri nau’ (melestarikan keturunan) dan sebagai tempat menebar rahmat juga memiliki posisi politis dan strategis sebagai madrasah, sebagai kamp perjuangan serta tempat mencetak generasi cemerlang. 

Dalam konteks seperti itulah maka Islam memberi aturan-aturan termasuk memberi tupoksi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan (suami-istri). Ayah sebagai nakhoda alias pemegang kendali kepemimpinan sekaligus pencari nafkah atau penjamin aspek finansial bagi keluarga. Sementara ibu sebagai guru atau madrasah ‘ula bagi anak-anaknya sekaligus sebagai manajer rumah tangga suaminya. 

Karena itu penerapan aturan Islam harus diyakini setiap keluarga muslim sebagai solusi tuntas bagi problem kehidupan. Dan perjuangan penerapannya-pun harus ditempuh sebagai metode dakwah Rasulullah SAW yakni melakukan dakwah pemikiran mencerdaskan umat dengan Islam Kaffah yang mengarah pada terwujudnya kekuatan politik Islam sebagai institusi penerapnya. 

Dengan tegaknya seluruh aturan Islam dalam kehidupan inilah, Insya Allah individu, keluarga, masyarakat bahkan negara akan kukuh terjaga. Kerahmatan pun akan melingkupi seluruh alam sebagaimana sejarah telah membuktikan. Keluarga muslim termasuk para ibu harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang kukuh yang siap melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertaqwa dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.
Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd

Posting Komentar

0 Komentar