Kecelakaan Lagi, Direktur Elsad: Pengelolaan Penerbangan Indonesia Mirip Angkot Kejar Setoran


TintaSiyasi.com-- Terkait musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/01/2021) lalu,  Muhammad Ismail Direktur Lembaga Studi dan Demokrasi (Elsad) memberikan tanggapannya. “Penyelenggaraan pengelolaan penerbangan Indonesia mirip angkot yang mengejar setoran," ujarnya dalam Kabar Malam, Senin (11/01/2021) di YouTube Khilafah Channel.

"Untuk mengejar setoran itu, kemudian bisa mengabaikan, bahkan kurang memperhatikan keselamatan penumpang," imbuhnya.

Menurutnya, karena itu, pemeliharaan pesawat tentu jadi kurang diutamakan. "Lihat saja di Indonesia, pesawat itu selalu terbang, pagi, siang, malam, laksana angkot, sehingga perawatan itu menjadi kendala, dan mengakibatkan kegagalan mekanik saat terbang," ujarnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, bagi maskapai yang kurang finasial, tentu tidak bisa memberikan pelayanan terbaiknya. Menurutnya, hal inilah yang menjadi masalah di negara yang berlandaskan sistemkapitalisme. Katanya, penyelenggaraan pelayanan publik diselenggarakan dalam perspektif bisnis bukan servis. 

"Jadi dengan perspektif bisnis itu, maka kualitas penerbangan di Indonesia, menempati posisi paling berbahaya di dunia. Dalam hal ini Amerika Serikat pernah melarang maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang di wilayahnya sejak tahun 2007-2016. Kemudian diikuti oleh Uni Eropa, yang melakukan pelarangan serupa sejak tahun 2007-2018," paparnya.

Menurutnya, hal itu menunjukkan regulasi penerbangan di Indonesia menjadi perhatian dunia, yaitu penyelenggaraan pelayanan  penerbangan Indonesia dianggap berbahaya.

Membangun Sistem Transportasi yang Ideal

Menurutnya, permasalahan penerbangan di negeri ini haruslah dituntaskan secara benar dan diurus (riayah) dengan perspektif Islam. Yaitu, ia jelaskan, pengelolaan transportasi harus dikelola negara untuk kepentingan rakyat.

"Pengelolaan transportasi yang baik itu, harus ditangani oleh negara, maka negara dengan segala potensi yang dimilikinya, akan memberikan layanan terbaiknya," tegasnya.

Ia mencontohkan, yang bisa dilakukan negara yaitu, pertama, pelatihan pilot dan mekanik. Kedua, mengusahakan menyediakan pesawat dengan teknologi terkini, sehingga terlatih untuk memberikan perawatan yang baik dan pelayanan terbaik ketika mengudara.

Lebih lanjut ia menguraikan, dengan menggunakan prinsip riayah (mengurusi urusan umat), masyarakat akan memberikan support  (dukungan) terbaiknya. "Ketika disentuh sisi ruhiyah-nya (keimanannya) akan muncul kepedulian yang tinggi, dengan spontan, menginfakkan dan mewakafkan harta terbaiknya," tandasnya.

Karena menurutnya, negara bisa mendorong masyarakat, untuk berkontribusi menyediakan sarana umum yang digunakan sepanjang masa, dan bisa menjadi merupakan amal jariah yang pahalanya mengalir terus menerus. Inilah yang kemudian, katanya, mampu menjadi salah satu sumber dana dan pembiayaan pelayanan publik yang tidak terbatas. 

"Begitu pun transportasi udara yang memerlukan banyak dana. Maka negara tidak perlu mengambil utang sebagaimana yang dilakukan oleh negara kapitalis saat ini," pungkasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar