Kebiri Bukan Solusi Hentikan Predator Seksual


Kejahatan seksual pada anak semakin meningkat di Indonesia. Maraknya predator seksual cukup membuat masyarakat gelisah dan berharap ada hukuman yang berat agar memberi efek jera pada pelaku. Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak yang tertuang dalam Nomor 70 Tahun 2020 (Viva.co.id, 03/01/2021).

Peraturan tersebut dinilai sebagai sanksi tertinggi dan efektif untuk hentikan predator seksual. Bahkan, banyak negara-negara luar yang juga mengambil hukum kebiri untuk menghukum predator seksual, seperti Australia, Hungaria, Spanyol, Korea Selatan, Perancis, Rusia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat (CNN Indonesia, 29/08/2019).

Apabila menilik kasus ini lebih dalam akan ditemukan bahwa kejahatan ini terjadi bukan karena kesalahan dari pelaku itu sendiri, melainkan ada faktor lain yang juga memicu para pelaku ini bertindak. Maka, sangat tidak tepat jika pemerintah menjatuhi hukuman kebiri pada pelaku tapi mengabaikan faktor yang lain.

Pertama, kehidupan masyarakat saat ini sekuler. Bisa kita lihat bagaimana masyarakat hari ini sudah jauh dari agamanya. Mereka hanya menempatkan agama pada ruang ibadah, sementara dalam aktivitas harian mereka tak lagi terkait dengan agama. Dari sinilah akan muncul faktor yang kedua, yakni pemikiran liberal yang menghasilkan gaya hidup bebas dan tidak peduli satu sama lain (individualis). Melakukan apapun sesuai dengan hawa nafsunya sendiri. Faktor ketiga adalah mudahnya mengakses konten apapun di sosial media, termasuk konten pornografi. Inilah akibat dari tidak adanya peran pemerintah untuk mengawasi dan menyaring konten yang tak layak tonton. Alhasil, penonton terpengaruh untuk berbuat demikian.

Selain tiga faktor tersebut, lemahnya sanksi yang diberikan pemerintah juga menjadi salah satu faktornya. Sehingga, sangat jelas, tidak ada efek jera yang didapatkan para pelaku untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Beberapa faktor diatas ada karena sistem yang diterapkan hari ini adalah sistem yang rusak dan batil. Sistem kapitalis-sekuler yang berasal dari pemikiran terbatas manusia telah melahirkan manusia yang tak adil dan bermoral. Pun tak heran, ketika mengatasi satu masalah bukannya untuk menyelesaikannya justru malah membuat masalah baru. Inilah cacatnya sistem buatan manusia. 

Oleh karena itu, bukan solusi tambal sulam yang dibutuhkan, melainkan solusi yang komprehensif dan mengakar. Sebab, kejahatan predator seksual adalah buah dari sistem kapitalis-sekuler yang rusak. Maka solusinya adalah mengganti sistem rusak dengan sistem yang sempurna.

Ya, sistem itu adalah sistem yang berasal dari Sang Maha Sempurna, sistem Islam. Allah SWT telah menurunkan Islam pada Nabi Muhammad Saw. untuk menjadi pedoman hidup dan solusi problematika manusia sampai hari kiamat nanti.

Ini adalah waktu yang tepat untuk kembali pada sistem Islam, menjadikan syariat Allah tegak di bumi yang indah ini. Dan sudah menjadi kewajiban kita sebagai kaum muslim untuk mengembalikan sistem Islam dalam kehidupan. Terlebih lagi kita sebagai muslimah, kepedulian yang kita miliki semestinya ditindaklanjuti dengan menularkan kesadaran bahwa bangsa ini butuh penerapan sistem Islam. Sebab, fitrahnya seorang muslim adalah diatur dengan aturan Islam. Wallahua’lam bish shawwab.[]

Oleh: Alfianisa Permata Sari

Posting Komentar

0 Komentar