Kebijakan yang Membawa Petaka Penerbangan Negeri


Indonesia berduka, itulah ungkapan yang mungkin  mewakili  keadaan yang menyedihkan saat ini. Peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada Sabtu, 9 Januari 2021 jurusan  Jakarta Pontianak telah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan sanak saudara, juga rakyat Indonesia.

Kecelakaan naas tersebut juga telah menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak. Permasalahan yang muncul dipicu dari pernyataan bahwa kondisi awak pesawat yang usianya sudah tidak layak terbang. Yaitu 6 tahun lebih tua dari ketentuan. Namun  ada juga pendapat yang menyatakan bahwa usia pesawat tidak mempengaruhi kelaikan untuk terbang.  Dari pendapat yang kontroversi tersebut tentunya dengan dilandasi argument masing-masing.

Dilansir pada laman ekonomi.bisnis.com, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mencabut aturan tentang pembatasan usia pesawat dan menggantinya dengan aturan baru yang mengembalikan batasan maksimal usia pesawat angkutan niaga sesuai aturan dari pabrikannya. Regulasi ini diatur dalam keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) No. 115/2020 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan  untuk kegiatan angkutan udara niaga. Regulasi ini melengkapi regulasi sebelumnya yakni Permenhub No. 27/2020 yang mencabut Permenhub No. 155/2016 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga. Di sisi lain, regulasi yang baru ini akan mendorong iklim investasi yang lebih menguntungkan operator tanpa mengurangi factor keselamatan. Pasalnya, kondisi usia pesawat di Indonesia saat ini relative banyak yang di bawah ketentuan Kepmenhub No. 115/2020, sehingga kekhawatiran akan dampak terhadap factor keselamatan sangat kecil.

Merujuk Keputusan Menteri Perhubungan RI No. 115/2020 tentang Batas Usia Pesawat Udara  yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga, batas usia Sriwijaya SJ-182 lebih tua enam tahun dari batasan Kemenhub. Dengan alasan meningkatkan investasi di bidang penerbangan, PM 155/2020 dicabut melalui PM 27 Tahun 2020 yang ditandatangani pada 13 Mei 2020. "Dengan kata lain tidak ada lagi pembatasan batas usia pesawat untuk jenis transportasi penumpang atau niaga, padahal UU Penerbangan 2009 mengamanatkan adanya batas usia pesawat yang ditentukan Menteri agar dapat beroperasi di Indonesia,” terang Husendro Praktisi Hukum, yang dilansir pada laman (aksara.co, 10/01/2021).

Pertimbangan untung rugi seolah telah menjadi prioritas utama dalam kehidupan saat ini. Sistem Kapitalis sekuler telah berhasil merasuki  pemahaman masyarakat. Apapun kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah selalu berorientasi pada materi.  Masyarakatpun sering harus memaklumi  terhadap argument yang disampaikan oleh pemerintah. Seakan-akan rasa kemanusiaan sedikit demi sedikit tercabut dari hati manusia, dan digantikan dengan materi.

Ketika alat transpotasi penting yang menjadi sarana untuk melayani masyarakat luas lebih berorientasi pada kepentingan materi ketimbang nyawa manusia, maka hal ini telah menggeser posisi jiwa manusia berada di bawah materi. Dalih demi kepentingan investasi dan bisnis menjadikan pemerintah lalai akan tugas dan tanggungjawab utamanya untuk memberikan keamanan pada rakyatnya.

Terlepas pada peristiwa jatuhnya Sriwijaya Air adalah takdir dari Allah, akan tetapi menyediaan alat transportasi umum yang layak untuk masyarakat adalah wilayah yang bisa diupayakan oleh pemerintah. Ketika upaya maksimal tersebut tidak ditunaikan maka kesalahan akan menjadi tanggungjawab pemegang kekuasaan. Karena melalui para ahli di bidangnya  mestinya mampu mengupayakan fasilitas yang layak dan memadai kepada masyarakat. Dengan mempertimbangkan keselamatan jiwa sebagai priorotas utama dibandingkan aspek lainnya.

Namun  kita harus memahami, bahwasanya sistem kapitalis, tidak akan mungkin memprioritaskan kepentingan rakyatnya. Justru rakyatlah yang harus melayani penguasanya. Dengan slogan “Apa yang sudah kita berikan untuk Negara?” sudah cukup untuk membungkam keinginan rakyat mendapatkan kesejahteraan dan keadilan.

Hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Sistem Islam mengelola layanan umum  termasuk sarana dan alat transportasi semua merupakan tanggung jawab Negara dan tidak akan diserahkan kepada investor atau swasta. Maka dari itu tidak boleh dikelola dengan  tujuan bisnis dan mencari keuntungan. Tetapi  tujuan utamanya untuk melayani kebutuhan rakyat. Sehingga berbagai sarana akan dibangun secara merata dengan kualitas yang standart serta menggunakan tehnologi terbaik dan  terakhir yang dipunyai. Termasuk dalam penyediaan sarana transportasi udara atau pesawat terbang, maka diberikan yang terbaik yang bisa memberi rasa aman dan nyaman.

Demikian prinsip Islam dalam membangun layanan transportasi, tidak lepas dari ajaran Islam bahwa nyawa manusia harus di nomor satukan, karena harga jiwa manusia melebihi nilai bumi dan isinya. Rosul bersabda:
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Meskipun hidup dan mati manusia ada di tangan Allah, namun Negara dalam melayani kebutuhan masyarakat memberikan pelayanan yang terbaik yang memprioritaskan keselamatan jiwa manusia. Maka kalaupun terjadi ketetapan Allah misalnya kecelakaan yang membawa banyak korban, itu semua di luar kuasa manusia. Sehingga kebijakan negara tidak akan dituduh sebagai pihak yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Karena dalam ajaran Islam, manusia wajib berikhtiar pun pemegang kekuasaan dalam negara juga harus berikhtiar secara maksimal,  melakukan semua urusan dengan proses yang terbaik dan maksimal, dan masalah apa yang terjadi setelahnya adalah urusan Allah SWT. 

Demikianlah pengaturan Islam dalam melayani kebutuhan transportasi yang aman dan nyaman. Kondisi ini akan dirasakan masyarakat hanya ketika hukum Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Maka berjuang untuk menegakkan Islam kaffah dalam bingkai institusi khilafah adalah sebuah upaya mulia untuk merubah kondisi dan keadaan  yang rusak saat ini menjadi kondisi yang baik dan membawa kehidupan  penuh rahmat. Wallahu’alam bishowab.[]

Oleh: Sri Kayati, S.Pd.
(Komunitas Setajam Pena)

Posting Komentar

0 Komentar