Karebet Wijayakusuma: Perspektif Kapitalis-Sekuler, Pengusaha Kaya Tanpa Riba Dimustahilkan


TintaSiyasi.com-- Menanggapi banyaknya pengusaha Muslim masih banyak bergelut dengan utang ribawi, Konsultan Bisnis dan Ekonomi Syariah Muhammad Karebet Wijayakusuma mengatakan, akibat perspektif kapitalis-sekuler menjadi pengusaha kaya raya tanpa riba seperti dimustahilkan hari ini.

“Itulah perspektif mindset (pemikiran) kapitalis-sekuler. Ya, hal itu memang dimustahilkan. Karena semacam apa ya? Kalimat-kalimat yang menyesatkan begitu," tuturnya dalam acara yang bertajuk  Podcast Pengusaha: Menjadi Pengusaha Pejuang, Senin (04/01/2020) di YouTube Sultan Channel.

Menurutnya, pengusaha seolah didorong melakukan utang ribawi. Ia mengungkap, hal tersebut bukan persoalan satu, dua, atau tiga orang pengusaha saja, melainkan systemic (tersistem). "Seolah-olah pengusaha harus berutang. Bukan pengusaha kalau tidak berhutang. Dan kalau berutang itu harus riba. Kalau enggak pakai riba, ya enggak berutang," ujarnya.

Ia menambahkan, kemustahilan menjadi kaya raya tanpa riba adalah idiom-idiom yang disampaikan kepada masyarakat, dan butuh proses lama. Ia mencontohkan, bagaimana para penawar riba masuk ke masyarakat, bahkan melalui proses online. Ia katakan, seperti tawaran pinjaman melalui SMS (Short Massage Service) yang terus beredar di handphone dan tawaran tersebut, bukan hanya bank melainkan lembaga keuangan lainnya.

“Idiom-idiom itu disampaikan ke masyarakat butuh waktu lama. Bukan proses pendek. Biasanya memang dari perbankan. Coba cek handpone-handpone kita. Mohon izin saya dari, begitu kan? Dari lembaga keuangan lainnya juga, jadi bukan hanya bank," tambahnya. 

Ia mengatakan, proses seperti itu menjadi tantangan bagi pengusaha Muslim. Bahkan jelasnya, tantangan tawaran-tawaran itu bagian dari godaan. Dan menurutnya, godaan ribawi yang sistematis.

“Jadi bayangkan tantangannya seperti itu. Tantangan itu ada godaan. Dan godaan itu ada yang disistemastisasikan. Sehingga kemudian tidak disebut pengusaha kalau tidak melakukan ini, ini, dan sebagainya. Di situ ternyata harus ada riba," tandasnya.

Ia menyayangkan, banyak pengusaha Muslim uangnya banyak, utangnya banyak. Menurutnya, hal itu sangat mengerikan dan banyak menimpa saudara-saudara sesama Muslim. "Saya punya beberapa kawan di Jakarta, mereka yang bercerita. Sepertinya memang kaya, ternyata tidak punya apa-apa. Karena bermain di bursa saham, dana sahamnya anjlok. Berarti kan minus. Utang banyak, banyak riba. Kalau utang besar menyangkut bank, apa sih namanya kalau enggak riba? Dan itu diakui oleh yang bersangkutan," pungkasnya.[] Siregar

Posting Komentar

0 Komentar