Kapitalisme: Melahirkan Anak yang Memuliakan Materi daripada Orang Tua

Beberapa hari ini kita disuguhi beberapa kasus seorang anak nekat menggugat ayah kandungnya sendiri secara perdata senilai Rp 3 miliar. Gugatan itu dilakukan gegara masalah rumah (Detik News, 21/01/2021). Sementara itu di Semarang, Jawa Tengah,  seorang ibu yang digugat anak kandungnya, karena  mobil Fortuner (Kompas, 22/01/2021). Fenomena ini tentu menyayat hati, apapun alasannya, kasus gugatan anak terhadap orang tua tentu tidak dapat dibenarkan, apa lagi hanya karena alasan materi. Bagimana kita melihat ada pandangan lebih meninggikan kedudukan materi dari pada bakti kepada orang tua. Mengapa ini bisa terjadi?


Pengaruh Pandangan Kapitalis

Pertama, kita harus memahami umat Islam saat ini sedang hidup di dalam cengkraman pemahaman-pemahaman dan nilai-nilai ideologi kapitalis. Sadar atau tidak, ideologi kapitalis telah mendominasi  pemikiran masyarakat sehingga mempengaruhi tindakan dan tujuan yang akan menjadi capaian dalam kehidupan. Banyak orang menganggap kapitalisme hanya sekedar sistem ekonomi dari Barat, padahal lebih dari itu, kapitalis adalah sebuah hegemoni yang memiliki nilai-nilai dan pandangan terhadap kehidupan yang secara halus mempengaruhi tatanan kehidupan manusia. 

Salah satu ide kapitalis yang menyesatkan adalah ideologi ini memandang kebahagian hanya dinilai dari materi, bagaimana kehormatan seseorang juga hanya dinilai dari seberapa banyak materi asset yang dimiliki. Hal ini bisa kita lihat dari sebuah tag line yang sangat popular lahir dari pemikiran kapitalisme yaitu “time is money” (waktu adalah uang). Menjadikan waktu adalah  sesuatu yang dimanfaatkan dan dihabiskan untuk meraih materi sebanyak-banyaknya. Sebuah tag line yang yang hanya memiliki 3 kata, namun memiliki efek luar biasa mempengaruhi orientasi kehidupan manusia. 

Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa ide ini telah diterima secara umum oleh masyarakat dunia saat ini. Mantera menyesatkan inilah yang mendorong seseorag menuhankan materi diatas segalanya. Maka jika telah terpatri dalam pikiran bahwa materi adalah satu-satunya ukuran kebahagiaan, maka sungguh dapat “dimaklumi” jika ada seorang anak yang menggugat orang tuanya ke ranah hukum hanya karena  meraih apa yang dia inginkan.

Bahkan orang tua seolah menjadi  penghalang dan dianggap sebagai beban dalam meraih kebahagiaan. Naudzubillah Min Dzalik, sangat miris anak yang telah dibesarkan pada akhirnya malah menjadi musuh yang nyata bagi orang tua. 


Islam Mewajibkan Memuliakan Orang Tua

Dalam Islam posisi orang tua sangatlah dimuliakan bahkan mereka adalah orang yang harus di patuhi selagi mereka tidak megajak pada sesuatu hal yang dilarang Allah SWT. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa ayat menjelaskan bahwa kedudukan orang tua sangat lah tinggi dan sangat dimuliakan. 

Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman: “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. [Al-Israa’: 23-24] 

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36: “Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [1], dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [An-Nisaa’: 36] 

Dalam surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran: “Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabuut: 8] Lihat juga surat Luqman ayat 14-15.

Dari ayat-ayat diatas mejelaskan bahwa orang tua adalah orang yang harus kita hormati, muliakan, dan diperhatikan dalam kehidupan. Orang tua juga merupakan jalan kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam Islam  kebahagian adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada hambanya karena ketakwaan yang telah dia lakukan.

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. Maka dari itu, Islam mengajarkan posisi orang tua tentu tidak dapat ditukar dengan materi. Bagaimanapun materi berupa kemewahan tidak akan memberi kebhagiaan sejati. Alih-alih mendapatkan kebahagian malah dosa dan azab dunia dan akirat yang di dapat.

Jika ada seorang anak yang tega menggugat orang tua demi meraih materi dapat dipastikan tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Sebab kebahagiaan itu sendiri tidak dapat dibuat-buat dan diada-adakan sebab ia murni pemberian dari sang pencipta kebhagian. Hidup bahagia akan dicapai jika mendapat ridho dari Allah SWT. 

Hendaknya seorang anak membalas kebaikan yang telah diterimanya, meskipun tidak akan pernah cukup balasan apaun yang dia berikan  kepada orangtua. Ada kutipan dari seorang Ulama yang sangat mennyentuh hati dan semoga kita dapat renungkan, begitu besarnya harapan orang tua terhadap anak-anaknya sehingga banyak orang tua berkata “dimasa tuanya, orangtua lebih menginginkan anak yang memiliki akhlak yang baik daripada anak yang pintar“. Semoga kita termasuk orang yang menjadi anak yang berakhlak mulia mampu memuliakan orang tua dimasa tuanya.[]

Oleh: Khaiz Qarawiyyin 

Posting Komentar

0 Komentar