Jilbab Dihebohkan, Aktivis Muslimah: Di Mana Intoleransi? Jika Seragam Asusila tak Dipersoalkan



TintaSiyasi.com-- Merespon kehebohan pejabat negara terkait aturan seragam jilbab di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Padang Sumatera Barat yang dianggap intoleransi, Aktivis Muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah mempertanyakan, di mana intoleransi di tempatkan, jika seragam yang melanggar agama (Islam) dan norma kesusilaan tidak dipersoalkan.

"Nah, sekarang saya juga ingin mengajak semua untuk mempertanyakan, di mana intoleransi itu ditempatkan? Enggak ada yang menyoal pakaian yang menunjukkan keberanian melanggar aturan agama, keberanian melanggar norma kesusilaan," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Selasa (26/01/2021).

Ia menyayangkan sikap pejabat publik, salah satunya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud) Nadiem Makarim yang ingin memberikan sanksi kepada pihak sekolah yang membuat aturan seragam berjilbab. "Kenapa kemudian sedikit kesalahan, ya mungkin cara mengkomunikasikan, mestinya persuasif, bukan pendekatan aturan atau pendekatan sanksi misalnya," ujarnya.

"Ya, ini saya kira adalah bahan bagi bangsa ini untuk berevaluasi mendasar, sebenarnya bangsa ini hendak menuju ke mana? Generasi kita arahkan ke mana? Kalau yang selalu disoal adalah isu-isu berkaitan dengan ketaatan terhadap ajaran agama Islam," tegasnya.

Menurutnya, hari ini pemikiran sudah terbolak-balik, pakaian umbar aurat tidak dipersoalkan, pakaian menutup aurat sesuai syariat dihebohkan. "Kita tahu ya, hari ini memang sudah banyak ya pikiran-pikiran yang terbolak-balik orang yang memakai pakaian yang membuka aurat, yang mendorong generasi kita, makin terjerumus pada gaya hidup atau pada pergaulan bebas, enggak ada yang menyoal itu," jelasnya. 

"Tapi, ketika ada pakaian yang menutup aurat, kemudian dipandang bahwa itu bagi pelakunya atau pemakainya sendiri non Muslimah, kenapa itu yang memicu kehebohan?" tandasnya.

Padahal menurutnya, mereka (non Muslimah) yang mengenakan seragam jilbab telah memberikan testimoni yaitu merasa nyaman dan tidak ada paksaan. "Mereka lebih bertestimoni adalah yang membuat mereka nyaman dan seterusnya," tambahnya. 

Ia menjelaskan, dari sisi fakta, aturan seragam sekolah di SMKN 2 Padang sudah berjalan sejak lima belas tahun terakhir. "Kemudian sepanjang waktu itu kan selalu ada siswi non Muslim, mereka tidak ada keberatan untuk memakainya dan bahkan di tahun ini," tambahnya.

Ia menambahkan, dalam kasus yang dipersoalkan tersebut, ada sekitar empat puluh siswi yang kemudian mereka memakai pakaian sesuai ketentuan seragam yang dibuat sekolah tadi, "hanya satu orang yang kemudian berkeberatan dan mendapatkan jawaban dari pihak sekolah ini adalah aturan, tentu saja pihak sekolah mengatakan ya aturan harus dipatuhi."

Menurutnya, karena ada satu yang keberatan, hal itu menjadi viral. Ia heran, hal tersebut langsung mendapat tanggapan yang cukup heboh dari banyak pejabat negara dan tokoh publik. "Pejabat-pejabat negara, dari tokoh-tokoh publik, ternyata semuanya bereaksi. Heboh begitu, bereaksi berlebihan. Dan kalau kita lihat seolah-olah semua yang terjadi ini kesalahan besar oleh pihak sekolah, kepala sekolahnya maupun atau pihak sekolah yang itu namanya adalah aturan," ujarnya.

Ia menduga hal ini dijadikan amunisi untuk mencuatkan kembali narasi intoleransi. "Kemudian ini menjadi amunisi bagi banyak pihak untuk menyoal kembali isu toleransi, mengangkat isu intoleransi, jadi mereka mengklaim bahwa peraturan sekolah yang menyeragamkan seragam pakaian Muslimah itu untuk anak-anak non Muslim ini adalah aturan seragam yang intoleransi dan bertentangan dengan regulasi yang ada," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas




Posting Komentar

0 Komentar