Jilbab Bukan Sekedar Kearifan Lokal Namun Perintah Sang Pencipta

Pekan ini jagat maya dihebohkan dengan ulah seorang pelajar non muslim dan orang tuanya dengan pihak sekolah di salah satu SMKN Padang.

Persoalan dipicu karena adanya peraturan mengenakan hijab bagi semua siswa perempuan muslim (muslimah). Bagi siswa perempuan non muslim ada yang memakai hijab karena kerelaan mereka saja dan tanpa paksaan.

Tak lama kemudian mantan wali kota Padang Fauzi Bahar menegaskan bahwa aturan yang mewajibkan siswi di sekolah negeri berpakaian muslimah bukan hal baru. Aturan berjilbab adalah sebuah kearifan lokal dan ini sudah dibuat lama sekali aturannya.

“Jauh sebelum republik ini ada, gadis Minang dulunya sudah berbaju kurung. Kita mengembalikan adat Minang berbaju kurung. Pasangan baju kurung adalah selendang. Agar tak diterbangkan angin, ada kain yang dililitkan ke leher, itulah yang namanya jilbab,” katanya.

Fauzi menegaskan, selain menjaga kaum perempuan, melalui kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk mengembalikan budaya Minang.

“Apa yang kita lakukan dulu dapat respons yang luar biasa. Buktinya, ini bukan hanya di Kota Padang saja, tapi juga menjalar ke seluruh Sumatera Barat, Sumatera dan Indonesia. Kalau ada yang protes satu atau 10 orang, kan hal biasa. Tujuan utama kita adalah melindungi perempuan, terutama kaum minoritas di tempat mayoritas,” katanya dilansir Detik.com.

Kita patut mengapresiasi semangat yang melandasi lahirnya perda tersebut yaitu untuk melindungi kaum wanita dari gangguan.

Mengangkat budaya pakaian adat berupa baju kurung dan jilbab menjadi kearifan lokal yang ada di tanah Minang mungkin bagi sebagian kalangan merasa ini kemajuan dan kebaikan buat ajaran Islam di negeri ini.

Disaat banyak sekali ajaran Islam yang mulai ditinggalkan atau bahkan dipersekusi. Seperti cadar, Islam kafah dilabeli Islam radikal, bahkan ajaran khilafah dianggap bertentangan dengan Pancasila.

Upaya untuk membudayakan pakaian yang menutup aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan jika hanya disandarkan pada kearifan lokal sungguh ini kurang sempurna, amat rapuh dan rentan hilang di masa yang akan datang dengan sendirinya.

Sebagai contoh kearifan lokal kebaya dan konde. Apakah betul dimasa lampau semua orang di Indonesia memakai kebaya dan konde?

Karena masih kita jumpai bukti-bukti sejarah beberapa pahlawan wanita maupun istri dari pendiri organisasi Islam Muhammadiyah. Istri dari Ahmad dahlan yang memakai hijab.

Maka tidak menutup kemungkinan ada banyak wanita yang menutup aurat layaknya beliau. Hanya saja hal ini tidak menjadi bagian syiar sejarah di negeri ini.

Sebagaimana model busana saat ini yang senantiasa berganti dari celana disetelkan baju kurung, kemudian rok dan atasan atau kulot dan atasan rompinya sampai trend gamis dan khimar syar'inya.

Namun jikalau dikemudian hari generasi yang akan bercerita adalah generasi yang sedikit iman di dalam dadanya. Boleh jadi dia akan mengangkat trend busana nenek moyang masyarakat Indonesia adalah bikini. Karena selama ini dia dan pergaulannya memakai pakaian bikini dalam kesehariannya.

Sebaliknya bila generasi yang bercerita di masa yang akan datang adalah generasi beriman maka boleh jadi dia akan berkisah bahwa nenek moyang masyarakat Indonesia memiliki pakaian adat hijab syar'i.

Dari sini kita hendaknya mengubah tumpuan dalam pembiasaan menutup aurat bukan pada kearifan lokal semata tapi karena perintah Allah SWT dan RasulNya wajib dilaksanakan oleh kita semua.

Sebaliknya semua laranganNya wajib kita tinggalkan. Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Tak sebatas pada kaum muslim saja, namun juga pada kaum non muslim, dan semua makhluk di muka bumi juga alam semesta.

Allah memerintahkan wanita untuk berhijab agar mereka tidak diganggu dan mudah dikenal. Seruan Allah ini tertuang dalam dua surat di dalam Al-Qur'an. Q.s Al ahzab ayat 59 dan Q.s An Nur ayat 31.

Di dalam Q.s Al ahzab 59 terdapat perintah wajibnya wanita mengenakan jilbab atau pakaian yang terjulur dari atas hingga bawah tanpa terputus (gamis).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَا جِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَا بِيْبِهِنَّ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59)

Seruan menutup aurat ini dilengkapi dengan kewajiban penutup kepala adalah khimar (kerudung) yang menutup hingga dada. Perintah ini tertuang di dalam Q.s An Nur ayat 31.

وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَا رِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَآئِهِنَّ اَوْ اٰبَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِ رْبَةِ مِنَ الرِّجَا لِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَ رْجُلِهِنَّ لِيُـعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ ۗ وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur 24: Ayat 31)

Di dalam q.s Al ahzab perintah jilbab ini hendaknya dikenakan saat keluar rumah. Artinya ketika wanita berada dikehidupan publik maka ada kewajiban baginya menutupkan jilbab(gamis) diluar pakaian kesehariannya. Dan khimar yaitu kerudung pada bagian kepala hingga dada.

Walaupun ada hikmah dari seruan ini agar wanita itu tidak diganggu namun bukan itu tujuan utama yang hendak diraih manusia. Tujuan utama dari semua pelaksanaan syariat Allah adalah agar umat manusia mendapatkan ridho Allah SWT.

Sepanjang peradaban khilafah pakaian wanita di publik adalah jilbab dan khimar. Baik muslim maupun non muslim. Bahkan sampai runtuhnya kekhilafahan terakhir Utsmani masih ada sebagian daerah, kaum non muslim masih menggunakan hijab yaitu jilbab dan khimar ketika diluar rumah.

Pada suku Koptik di Mesir misalnya, ketika mereka mulai meninggalkan hijabnya pada waktu keluar rumah justru para wanita dari suku merekalah yang kerap diganggu laki-laki di ranah publik.

Sungguh indahnya kehidupan yang di dalamnya diterapkan syariat Allah, ternyata selain meminimalisir angka kriminalitas juga mampu meraih ridho Allah saat perjumpaan manusia di akhirat nanti dengan RabbNya.

Harusnya bukan hanya masyarakat Padang yang mau menerapkan syariat hijab ini. Namun segenap masyarakat Indonesia hendaknya menerapkan syariat Islam secara keseluruhan agar Allah ridho atas kita di dunia dan di akhirat. Terjauh dari bencana alam maupun kerusakan generasi manusianya sungguh itu adalah cita cita bangsa ini yang sampai saat ini belum tercapai bahkan makin jauh dari harapan tercapai selama aturan di negeri ini bertumpu pada sekularisme.[]

Oleh: Heni Trinawati S,si.
(Pemerhati Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar