Jeritan Alam dan Rakusnya Ambisi Manusia


Berbagai musibah dan bencana alam susul menyusul mengawali tahun 2021 di negeri ini. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 182 ke laut, banjir bandang di berbagai wilayah seperti Kalimantan Selatan, longsor Sumedang Jawa Barat, gempa Sulawesi Barat, banjir dan longsor di Sulawesi Selatan, erupsi gunung Semeru, dan yang terbaru bencana longsor akibat banjir bandang di Gunung Mas, Puncak Bogor. 

Semua bencana itu seakan menjadi pertanda jeritan alam yang luar biasa marah kepada umat manusia. Namun yang menarik perhatian adalah banjir bandang di wilayah Kalimantan Selatan, banjir yang begitu besar melanda seakan tanpa pertanda apapun. Karena tahun-tahun sebelumnya, wilayah kalsel masih dalam kondisi yang kondusif. 

Sebagai paru-paru dunia propinsi Kalimantan sudah menjadi perhatian dunia, hutannya yang masih terjaga dan alamnya yang melindungi konservasi hewan-hewan khas kalimantan menjadi harapan dunia kala itu. Tetapi sepertinya harapan itu harus ditepiskan, berdasarkan laporan Walhi Kalsel tahun 2020 sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah.
dari total luas wilayah 3,7 juta hektar hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit (suara.com, 15/1/2021).

Hidup dalam aturan sistem kapitalis akan terus terlihat masalah-masalah baru. Setiap kebijakan yang dihasilkan tidak membuat masalah menjadi tuntas. Revisi satu ke revisi berikutnya akan terus dilakukan dan disesuaikan atas kepentingan kapitalis global, khususnya melalui kebijakan baru dalam setiap pergantian penguasa. Hal ini berpotensi pada ketidakpastian setiap UU atau kebijakan yang berkaitan pada kelestarian lingkungan, karena terus berubah sesuai kepentingan.

Sebagaimana terjadinya banjir bandang di Kalimantan Selatan, dikarenakan rusaknya ekologi di tanah Borneo. Maraknya penggundulan, pembakaran dan pembukaan lahan bagi tambang, serta perkebunan sawit membuat kalimantan mengalami deforestisasi. Adanya peningkatan tajam perubahan konversi dari hutan menjadi lahan. Dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda melambatnya perubahan yang terjadi. 

Pemanfaatan lahan tanpa melihat dampak pada lingkungan, membuat bencana semakin dekat dengan alam. Rakusnya para kapitalis pengusaha global telah membuat rakyat harus menanggung akibat yang sangat mengerikan seperti saat ini. Manusia yang tidak amanah dan bertanggung jawab, dengan mudahnya menyengsarakan rakyat dengan bencana-bencana alam yang terjadi karena kerusakan ekologis akibat ulah tangan manusia. Mudahnya perizinan melalui kebijakan investasi yaitu dengan membuka lahan baru secara masif, membuat terancamnya ekosistem di kalimantan semakin terbuka lebar. Diduga, karena pembangunan eksploitatif sekuler kapitalistik. 


Islam adalah Solusi Permasalahan Lingkungan 

Dalam sistem Islam, Al-Quran menjelaskan bahwa manusia harus melestarikan alam dan lingkungan agar keberlangsungan hidupnya di bumi tidak terganggu oleh ulah sekelompok manusia yang merusak kelestarian alam. Islam telah mengajarkan bagaimana manusia memiliki etika dan adab terhadap lingkungan. Pengelolaan lingkungan yang baik adalah menyerasikan pembangunan dengan karakter alam dan tanggung jawab negara untuk melindungi rakyatnya dari bencana.  

Allah berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 20 yang artinya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.”

Bagaimana manusia hanya merupakan khalifah, yang menekankan bahwa manusia bukanlah penguasa alam, namun hanya memiliki posisi sebagai mandaris-Nya di muka bumi. Hal ini tentunya tidak memposisikan manusia sebagai penguasa atau pemilik alam ini. Manusia hanya sebagai pemangku mandat Allah dalam hal pemeliharaan dan pemanfaatan sebagaimana yang Allah atur dalam syariat. 
Sehingga dalam Islam, manusia diatur dalam syariatNya dengan mematuhi perimtah Allah dan bertanggung jawab, serta berkewajiban dalam memelihara lingkungan, antara lain:

Perintah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” [QS. 7: 56]

Larangan dalam merusak tanaman dan hewan ternak. “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” [QS. 2: 204]

Perintah untuk menjaga sumber daya air. “Hindarkanlah 3 perbuatan yang membawa kebencian manuasia: Membuang hajat di sumber air, di jalan dan di tempat berteduh/bernaung.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah].

Perintah untuk menjauhkan segala hal yang mendatangkan bahaya bagi manusia dan lingkungan. “Iman itu terdapat 70 atau 60 cabang. Cabang tertingi adalah bersyahadat Laa illa ha ilallaah, dan cabang terendah adalah menjauhkan sesuatu yang berbahaya di jalan.” [HR. Muslim].

Maka, saatnya bagi umat untuk kembali kepada aturan Allah, jika manusia menjalankan amanhnya di dunia sebagai pemelihara alam dan seisinya, maka manusia rakus seperti penguasa kapitalis tidak akan mampu melakukan tindak kezaliman kepada rakyat dan alam. Karena orang-orang seperti mereka tidak akan diberi tempat oleh Islam untuk menghancurkan, menguasai dan memanfaatkannya hanya demi keuntungan diri dan kelompk semata. Walahu a’lam bishawab.[]

Oleh: Desi Wulan Sari M.,Si.
(Pegiat Literasi Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar