Jaminan Keamanan Transportasi dalam Pandangan Islam


Maskapai penerbangan Indonesia kembali berduka. Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak diduga jatuh di kawasan perairan Kepulauan Seribu (kompas.com/9/1/2021). Pesawat yang telah berusia 26 tahun tersebut dianggap masih laik terbang. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Suryanto Cahyono. 

"Umur pesawat dibuat tahun 1994, jadi kurang lebih antara 25 sampai 26 tahun," kata Suryanto dalam konferensi pers dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (9/1/2021). Kendati demikian, Suryanto mengatakan, usia sejatinya tak berpengaruh pada kelaikan pesawat untuk terbang selama pesawat tersebut dirawat sesuai dengan aturan (kompas.com/10/01/2021).

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencabut aturan tentang pembatasan usia pesawat dan menggantinya dengan aturan baru yang mengembalikan batasan maksimal usia pesawat angkutan niaga sesuai aturan dari pabrikannya. Regulasi ini diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) No. 115/2020 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga. Regulasi ini melengkapi regulasi sebelumnya yakni Permenhub No. 27/2020 yang mencabut Permenhub No. 155/2016 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga (bisnis.com/10/07/2020).

Adanya pencabutan batas usia kendaraan layak jalan membuat peluang untuk tetap menggunakan kendaraan yang sejatinya tak layak jalan demi meraih keuntungan. Hal ini membuat para pemilik modal (kapitalis) dan para investor yang menjalani usaha kendaraan umum seakan mengabaikan keselamatan penumpang. 

Sebab, dalam sistem kapitalisme, segala bidang dalam kebutuhan masyarakat merupakan lahan bisnis yang sangat meggiurkan. Termasuk dalam bidang transportasi. Sehingga, sarana angkutan transportasi tidak lagi dijadikan sebagai bentuk pelayanan umum oleh negara bagi masyarakat. Melainkan sebagai ajang mencari keuntungan bagi pihak swasta. 

Lihat saja betapa banyak sarana layanan transportasi yang justru dikuasai swasta daripada negara. Bagi para kapitalis penganut sistem kapitalisme ini keselamatan penumpang dinomorduakan. Sedangkan keuntungan materi atau finansial justru menjadi prioritas. Padahal, tak dapat dipungkiri kasus dugaan kendaraan tak laik jalan menjadi salah satu penyebab tingkat kecelakaan lalu lintas yang ada di bumi pertiwi.

Hal yang berbeda ada didalam pandangan Islam. Islam memandang bahwa nyawa manusia sangatlah berharga. Allah SWT berfirman yang artinya, "barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (TQS. al- Maidah: 32). 

Dalam pandangan Islam pula, negara berfungsi sebagai penanggungjawab sekaligus pengurus urusan rakyat. Negara harus memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi seluruh warga negara didalam aktivitas kehidupan. Termasuk dalam berkendara. Negara harus memastikan bahwa semua kendaraan umum yang menjadi sarana transportasi masyarakat harus dalam kondisi layak jalan. 

Negara wajib menyediakan sarana transportasi umum sesuai kebutuhan masyarakat. Negara juga harus mengatur keberadaan kendaraan pribadi dan kendaraan yang menjadi milik swasta. Kebutuhan akan sarana transportasi ditentukan oleh kebutuhan wilayah dan juga kondisi suatu wilayah. Sehingga negara harus melakukan perencanaan yang baik guna mengurangi kebutuhan sarana transporatasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.  

Sistem pengelolaan kebutuhan sarana transportasi yang baik sejatinya pernah dilakukan oleh pemerintah dalam sistem pemerintahan Islam. Pengelolaan yang baik sangat memungkinkan masyarakat mendapatkan pelayanan gratis. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Kekhilafahan Ustmani. 

Pada tahun 1900 M, Sultan Abdul Hamid II mencanangkan proyek Hejaz Railway. Jalur kereta yang terbentang dari Istabul ibu kota Khilafah hingga Makkah, melewati Damaskus, Jerusalem dan Madinah. Di Damaskus jalus ini terhubung dengan  Baghdad Railway, yang rencananya akan terus ke timur menghubungkan seluruh negeri Islam lainnya. Proyek ini diumumkan ke seluruh dunia Islam, dan umat berduyun-duyun berwakaf.[]

Oleh: Firda Umayah, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar