Islam Berbicara Masalah Korupsi


Baru saja kita meninggalkan tahun 2020. Tahun yang mana membuat mayoritas masyakarat harus di rumah saja akibat pandemi Covid-19.

Selama tahun 2020, bukan hanya pandemi virus Corona yang datang, tetapi kasus-kasus korupsi juga semakin mengganas di tanah air. Korupsi adalah kejahatan luar biasa yang merusak sendi perekonomian suatu negara. Kejahatan korupsi yang terjadi secara masif dapat menghambat pertumbuhan ekonomi negara tersebut, bahkan tak jarang mengakibatkan masyarakat jatuh ke jurang kemiskinan.

Masih hangat di ingatan kita kasus-kasus korupsi yang menghiasi 2020:

Pertama, kasus korupsi Jiwasraya. Di tahun 2020 kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya di sebut sebagai kerugian besar bagi negara oleh Badan Pemeriksaan Keuangan ( BPK ) yang mencapai hingga belasan triliun.Dikutip Pikiran-rakyat.com dari Antara, Syahmirwan dinilai terbukti melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara senilai Rp16.807 triliun. Selain itu, kasus ini juga menyeret Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya 2008-2018, Hendrisman Rahim, ia dituntut 20 tahun penjara.

Kedua, kasus suap Jaksa Pinangki. Jaksa Pinangki Sirna Malasari adalah tersangka dalam kasus penyuapan uang 500.000 dolar As, sekitar 7,3 miliar dari buronan Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra aliar Djoko Tjandra.

Ketiga, kasus dugaan suap eksplor benih lobster Menteri KKP Edhi Prabowo. Mantan menteri kelautan dan perikanan, Edhi Prabowo di tangkap KPK bersama istri dan beberapa orang lainnya di Bandara Soekarno-Hatta sepulang dari Amerika serikat. Kasus yg menjeratnya terkait ekspor benih lobster atau benur. KPK menduga Edhi Prabowo menerima suap Rp 10,2 miliar.

Keempat, kasus dugaan suap Menteri Sosial Juliari Batubara. Pada 6 Desember 2020 lalu, KPK menetapkan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara sebagai tersangka kasus dugaan suap bantuan sosial Covid-19. KPK menduga Juliari menerima uang Rp 8,2 miliar.

Dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Sabtu, 5 Desember di beberapa tempat di Jakarta, petugas KPK mengamankan barang bukti uang dengan jumlah sekitar Rp14,5 miliar dalam berbagai pecahan mata uang yaitu sekitar Rp11, 9 miliar, sekitar 171,085 dolar AS (setara Rp2,420 miliar) dan sekitar 23.000 dolar Singapura (setara Rp243 juta).

Ketua KPK Firli Bahuri membeberkan secara lengkap konstruksi perkara dugaan suap yang menjerat Juliari Batubara. Atas kasus ini KPK menetapkan lima orang tersangka yaitu sebagai tersangka penerima suap Menteri Sosial Juliari Peter Batubara, Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono sedangkan tersangka pemberi adalah Ardian IM (AIM) dan Harry Sidabuke (HS).

Firli mengatakan tersangka Ardian IM dan Harry Sidabuke telah menyiapkan uang dugaan suap sebesar Rp14,5 miliar di sebuah apartemen daerah Jakarta dan Bandung sebelum ditangkap KPK. Uang Rp14,5 miliar tersebut disimpan di dalam tujuh koper, tiga ransel, serta amplop kecil.

Harta dan Kekuasaan Sumber Malapetaka
Allah SWT telah menciptakan pada diri manusia naluri mempertahankan diri. Salah satunya perwujudannya adalah kecintaan manusia pada harta dan kekuasaan. Allah SWT juga memperingatkan bahwa harta merupakan fitnah bagi manusia (QS Al Anfal [8]: 28). Hadist riwayat At-Tirmidzi, setiap orang akan di tanyai di akhirat atas harta yang didapatnya, dari mana diperoleh, dan untuk apa dibelanjakan.

Setiap Muslim harus mengendalikan cintanya pada hartanya. Cinta yang berlebihan terhadap harta bisa mendorong orang untuk memperoleh harta tanpa peduli halal dan haram. Maka jika demikian cinta harta bisa menjadi sumber bencana baik individu maupun masyarakat.

Apalagi jika harta itu diperoleh melalui jalan korupsi misalnya. Dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat luas. Bisa berupa pelayanan yang terhambat dan bantuan yang tersendat.


Islam Solusi Kaffah Memberantas Korupsi

Bebas dari korupsi sebenarnya hanya bisa terealisasi jika pemberantasannya tidak dilakukan menggunakan sistem yang ada, tetapi menggunakan sistem yang lain, sebab sistem yang ada justru menjadi faktor pemicu utama muncul dan budayanya korupsi di negeri ini.

Sistem yang lain yang bisa diharapkan itu tidak lain adalah sistem Khilafah Islamiyah yang menerapkan Syariah Islam secara kaffah. Mengapa Khilafah? Sebab:

Pertama, dasar akidah Islam mampu melahirkan kesadaran bahwa setiap aktifitas kita senantiasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga memunculkan ketakwaan pada diri setiap manusia

Kedua, sistem politik Islam termasuk dalam hal pemilihan pejabat dan kepala daerah, tidaklah mahal. Sehingga tidak akan muncul kong-kalikong untuk mengembalikan modal yang digunakan sewaktu mengikuti kampaye pemilihan umum.

Ketiga, politisi dan proses politik, kekuasaan dan pemerintahan tidak bergantung oleh kepentingan parpol, sehingga hukum tidak akan tersandera oleh kepentingan seperti dalam sistem demokrasi. Peran parpol dalam Islam adalah fokus dalam mendakwahkan Islam, amar makruf dan nahi mungkar atau mengoreksi dan mengontrol penguasa.

Keempat, struktur dalam sistem Islam semuanya berada dalam satu kepemimpinan Khalifah, sehingga ketidak Patihan antar instansi dan lembaga bisa diminimalisir bahkan tidak terjadi.

Kelima, sanksi bagi pelaku korupsi mampu memberikan efek cegah dan jera. Bentuk dan kadar sanksi atas tindak korupsi diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau qadhi, bisa disita seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab, atau tasyhîr (diekspos), penjara, hingga hukuman mati.

Itulah sebabnya mengapa umat harus mengambil sistem Islam sebagai satu-satunya sistem yang mengatur kehidupan. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta Kehidupan pasti akan membawa kebaikan bagi para pengikutnya. Maka mari satukan langkah, berantas korupsi dengan Islam. Wallahu'alam.[]

Oleh: F. Kurnia
(Praktisi Kesehatan) 

Posting Komentar

0 Komentar