Investasi Ala Kapitalis Berbuah Bencana, Selamatkan Indonesia dengan Khilafah

Belum genap sebulan berlalu Indonesia telah dirundung berbagai bencana dan musibah. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182,  banjir Kalimantan Selatan hingga gempa bumi di Sulawesi Barat. Bencana ini telah memakan banyak korban, kerusakan  rumah dan bangunan serta banyaknya rakyat yang terpaksa tinggal di pengungsian.

Secara keimanan sebagai seorang Muslim kita meyakini bahwa apapun yang terjadi memang telah Allah tetapkan. Allah SWT berfirman: bencana yang terjadi di bumi atau atas dirimu telah tertulis di dalam kitab sebelum kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal demikian mudah bagi Allah (QS. Al-Hadid: 22).

Dalam menyikapi bencana seorang muslim diperintahkan untuk ridha dan sabar. Karena pada hakikatnya manusia itu lemah dan Allah lah yang Maha Kuasa lagi Perkasa atas segala sesuatu. Lebih dari itu sabar itu akan menjadi kebaikan dan mendatangkan pahala di akhirat. Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wainna ilaihi raji'un'. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Hanya saja kita tidak boleh mencukupkan diri dengan ridha dan sabar saja. Justru di saat bencana dan musibah datang kita dituntut untuk terus merenung, berfikir dan introspeksi diri. Karena Allah telah mengabarkan bahwa kerusakan itu disebabkan oleh perbuatan manusia. Sebagaimana firmanNya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka. Semoga mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS.Ar-Ruum: 41).

Fakta menunjukkan bahwa musibah yang terjadi terutama masalah banjir disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air. Banyak lahan yang dibuka untuk perkebunan sawit dan pertambangan. Sehingga ketika air hujan turun tanah tidak mampu lagi menahan luapan air. Akhirnya banjir tidak bisa dihindari. Terpaksa rakyat harus menjadi korban.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di tanah Borneo. Ini merupakan yang terparah dalam sejarah.

Berdasarkan laporan tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah. Ini menunjukkan daya tampung daya dukung lingkungan di Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis.

Atas nama investasi negara telah memudahkan dan memuluskan korporasi untuk mengelola tambang yang notabene adalah milik rakyat. Berbagai macam kebijakan dan UU pun dibuat demi investasi. Terakhir adalah omnibus law yang semakin memanjakan investor. Keuntungannya tentu untuk korporasi. Rakyat hanya bisa gigit jari. Ditambah lagi ketika investasi berbuah bencana rakyat semakin sengsara. Sudah jatuh ditimpa tangga. 

Beginilah nasib rakyat dalam sistem kapitalis. Rakyat menjadi korban perselingkuhan antara korporasi dan penguasa. Tidak ada yang siap menanggung dan mengayomi rakyat dengan sebaik-baiknya kecuali khilafah. Karena khilafah bukanlah pebisnis layaknya korporasi. Khalifah juga bukan lah seperti penguasa-penguasa dalam sistem kapitalis yang sibuk dengan pencitraan dan mencari simpati.

Khilafah justru akan menyelamatkan kekayaan umat dari kerakusan korporasi berdalih investasi. Lebih dari itu khalifah akan menjadi perisai dan bagaikan penggembala bagi umat. Tidak ada penggembala yang memangsa gembalaannya. Tidak ada penggembala yang rela gembalaannya sakit dan kelaparan. Jika ada itu hanya dalam sistem kapitalis sekuler. Sudah saatnya umat bersatu menyongsong abad khilafah. Allahu Akbar.[]

Oleh: Khadijah Annajm
(Aktivis Muslimah Nganjuk) 

Posting Komentar

0 Komentar