Indonesia Darurat Predator Anak


"Indonesia darurat predator" kalimat yang pantas disematkan untuk Indonesia saat ini. Sebab predator seksual kian gencar beraksi. Dan mirisnya, pelaku predator seksual biasanya adalah orang terdekat, seperti yang terjadi belum lama ini di daerah Serang Banten.

Seorang guru mengaji di Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang diamankan polisi, Jumat (18/12) pagi. Lelaki berinisial AG (26) itu dituduh telah mencabuli lima orang muridnya. Pencabulan itu terjadi sejak Mei 2019 hingga Oktober 2020. Perbuatan bejat itu dilakukan AG di rumahnya. (Radarbanten.com, 30/12/2020)

Tidak hanya itu, kasus serupa terjadi pula di Jakarta Barat. Seperti yang dilansir dari Kompas.com (15/12/2020), tiga orang anak diduga menjadi korban pelecehan seksual seorang pria di Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Ketiga anak tersebut kini didampingi unit pelayanan perempuan dan anak (PPA) Polres Jakarta Barat.

Kejadian tersebut bagaikan fenomena gunung es. Sebab, dua kasus tadi hanya kasus yang terlapor saja. Karena masih banyak kasus-kasus sama, yang keluarganya tidak berani untuk melaporkan.

Melihat dari terulangnya kasus yang sama, ini membuktikan bahwa hukum bagi predator seksual di negeri ini tidak membuat pelaku perbuatan bejat itu jera. Sekalipun ada hukuman 'kebiri' bagi predator seksual dirasa tidak akan mampu menjadi solusi untuk masalah ini. Walaupun kebiri kimia dianggap sanksi tertinggi dan dianggap efektif untuk menghentikan predator seksual.

Perlu diketahui bahwa kebiri kimia merupakan tindakan yang dilakukan untuk menurunkan kadar testosteron pria menggunakan obat. Testosteron adalah hormon yang memengaruhi libido atau nafsu seks pria. Namun hal tersebut menjadi kontradiktif, pasalnya kebiri kimia melanggar etika kedokteran.

Jika mencermati lebih dalam lagi, permasalahan dari kasus predator seksual ini dipicu banyak faktor diantaranya adalah.  Pertama, minimnya iman. Iman merupakan pengontrol segala perbuatan, ketika iman lemah maka sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kedua, life style sekuler. Gaya hidup yang sekuler, tidak menganggap bahwa agama adalah pengontrol dan pengatur. Mereka memandang agama hanya sebatas ritual saja. Untuk masalah perbuatan bukanlah ranah agama yang mengatur.

Ketiga, pemikiran liberal. Kebebasan berekspresi dalam faham liberal, menjadikan hidup bebas tanpa aturan. Menganggap bahwa aturan hanya akan mengekang manusia.

Keempat, ekonomi kapitalis. Banyak kasus pedofilia yang dikomersilkan. Menganggap bahwa itu adalah jalan untuk bisa mengais rizki. jadi tidak heran, ketika ada kasus penjualan anak pada pelaku predator seksual.

Kelima, fasilitas kelayakan tempat tinggal. Ada beberapa kasus pedofilia dikarenakan kondisi rumah yang tidak layak, seperti kasus seorang kakak memperkosa adiknya dikarenakan ruang tidur yang tidak terpisah. 

Keenam, sanksi ringan. Hukuman predator seksual di Indonesia minimal 5 tahun maksimal 15 tahun, hukuman yang tidak seimbang dengan perbuatan bejat yang dilakukan. Ringannya hukum inilah faktor terbesar para pelaku predator seksual.

Aturan-aturan yang pemerintah buat, seperti kebiri kimia dan pidana hanya 5 sampai 15 tahun, tidaklah tepat. Seperti halnya kebiri kimia, efek obat anti-libido akan hilang setelah menghentikan pemberian. Artinya hukuman kebiri kimia bersifat sementara. Dan ini berpotensi untuk kembali melakukan hal yang sama.

Dengan demikian, tak ada solusi lain kecuali kembali kepada solusi yang sudah Islam tetapkan. Islam mempunyai mekanisme dalam menangani masalah ini, baik bersifat preventif (mencegah) dan kuratif (menyembuhkan).

Untuk mencegah terjadinya predator seksual, secara sistemis Islam melarang keras rangsangan seksual dari publik seperti pornografi dan porno aksi. Kemudian secara internal keluarga, orang tua mempunyai tugas untuk memberi pemahaman kepada anak batasan-batasan aurat, yang boleh dan tidak dilihat atau dipegang oleh orang lain.

Dan hukuman yang bersifat menyembuhkan (kuratif) yaitu dengan memutus siklus dari masyarakat dengan menerapkan pidana mati bagi predator seksual atau sejenisnya. Karena kebiri saja tidak cukup.

Dengan demikian, predator seksual yang menjadi momok menakutkan bisa diatasi dengan menerapkan hukum syariat. Namun, itu semua butuh adanya sebuah institusi yang menegakkan hukum syariat ini. Dan institusi tersebut adalah negara, yang menerapkan seluruh aturan Islam secara total. Negara yang dimaksud adalah Khilafah Rasyidah Ala Minhajin Nubuwah. Wallahu a'lam bishowab.[]

Oleh: Yulia Putbuha, S.Pd.I

Posting Komentar

0 Komentar