Imajinasi Garis Pembatas Part II



Peningkatan kemanan hampir di setiap negara hari ini menjadi kelaziman yang dibarengi dengan meningkatnya status bahaya dan kewaspadaan maksimum. Tidak hanya di Meksiko dan AS, seperti di kawasan Asia Selatan militer India juga membunuh lebih dari seribu warga Banglades. 

Dari semua persoalan perbatasan wilayah tersebut, yang paling disayangkan adalah konflik perbatasan di negeri-negeri muslim. Menengok kasus persengketaan Yaman dan Arab Saudi, India dan Pakistan, Pakistan dan Afganistan, tanah subur Timur Tengah yang dicaplok Israel yaitu Suriah dan Palestina. 

Reece Jones dengan radikal menyebut kekerasan perbatasan merupakan kekerasan struktural karena diterapkanya sistem hukum dan peraturan yang merenggut kesempatan seseorang melalui embel-embel perbatasan. Tindakan membangun perbatasan secara otomatis mengandung kekerasan, dimana hak untuk mengklaim bagian milik mengandalkan kekerasan apabila mencampuri bagian milik negara lain. Sedangkan petugas perbatasan adalah perpanjangan tangan dari kekerasan tersebut.

Kesalahan konsep perbatasan adalah berdirinya negara bangsa yang dianggap alami bagi mayoritas manusia. Ketidak sadaran perlakuan sistem telah menarik opini umum bahwa meningkatkan ketengangan adalah hal yang wajar di perbatasan, ditambah lagi nilai patriotisme yang mengakar akan meledakkan semangat kewilayahan sebagai abdi tertinggi.

Secara mendasar, sistem perbatasan telah mengelompokkan potensi SDA dan SDM dunia. Misi kolonialisasi nyatanya masih berlangsung sekalipun setiap wilayah telah mendapatkan peresmian damai dari PBB. Pada awalnya kolonialisme memuat penguasaan SDA, penguasaan dan perombakan sistem negara jajahan, misionarisme dan kekerasan fisik. Namun intimidasi tersebut telah berevolusi menjadi penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang mengeliminasi kekerasan fisik. 

Pada hari ini telah nampak berbagai kerusakan buah kegagalan kapitalisme global. Aturan yang dibuat oleh manusia tidak akan mampu mengakomodir berbagai kepentingan dan kebutuhan seluruh manusia. Hanya penderita yang kian menjadi-jadi bagi golongan lemah dan terpinggirkan. Terbukti bahwa negara bangsa justru membentuk perbedaan yang kian kentara dan rawan menimbulkan konflik horizontal.

Wahai kaum muslimin, kemerdekaan saat ini hanya seremonial belaka. Negara bangsa semakin menutupi kita dari fakta penjajahan Barat yang menindas dan mengadu domba negeri-negeri muslim atas dasar kewilayahan. 

Islam hadir tidak hanya menyejukkan manusia dalam aspek transendental, namun Islam berlaku untuk mengatur berbagai urusan manusia termasuk dalam menjaga keutuhan kaum muslimin dan keadilan manusia. Dalam Islam dikenal sistem pemerintahan baku yakni Khilafah yang akan menjadi institusi dominan untuk menegakkan hukum Allah. Tidak ada jaminan selain bukti sejarah dan stempel dari penguasa alam semesta yang memahami ciptaanNya. Sehingga Islam akan mampu menjawab problematika manusia yang tidak dapat terselesaikan dengan berbagai sistem buatan manusia.[]

Oleh: Nafisah Az-zahrah (Mahasiswi)

Posting Komentar

0 Komentar