Harmonisasi Keragaman Masyarakat dalam Perspektif Islam


Fakta Kemajemukan Masyarakat di Sebuah Negara

Sebuah Negara meniscayakan adanya keragaman dalam kehidupan masyarakatnya. Seperti Indonesia. Letak wilayah Indonesia yang strategis pada posisi silang memungkinkan terjadinya kontak dengan bangsa-bangsa lain. Akibatnya pertemuan dengan pendatang menyebabkan tercipta proses asimilasi melalui perkawinan campuran sehingga terbentuk ras dan etnis. Perbedaan iklim juga merupakan faktor terjadinya kemajemukan masyarakat Indonesia.

Indonesia sendiri adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya yang berbeda-beda. Masyarakat multikultural di Indonesia terjadi karena kemajemukan suku bangsa, ras, agama, etnis dan lain-lain.

Dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia diisi oleh beragam suku bangsa. Ada kurang lebih 17.058 buah pulau besar dan kecil, dan 1.340 suku bangsa dengan corak kebudayaan yang berbeda. Kemajemukan juga bertambah bila dilihat dari banyaknya agama yang ada. Setidaknya, terdapat enam agama yang dipeluk mayoritas masyarakat. Jumlah itu, belum termasuk kepercayaan yang berkembang (sains.kompas.com).


Islam, Aturan Lengkap Kehidupan

Islam merupakan agama yang sempurna berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Sebagai petunjuk atau pegangan dalam hidupnya, sehingga dapat menjalani hidup dengan baik, teratur dan sejahtera, mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam Islam, prinsip utama dalam kehidupan umat manusia adalah Allah SWT, merupakan Zat Yang Maha Esa. Ia adalah satu-satunya Tuhan dan Pencipta seluruh alam semesta, sekaligus pemilik, Penguasa serta Pemelihara Tunggal hidup dan kehidupan seluruh makhluk yang tiada bandingan dan tandingan, baik di dunia maupun di akhirat. Ia adalah Subbuhun dan Quddusun, yakni bebas dari segala kekurangan, kesalahan, kelemahan dan berbagai kepincangan lainnya, serta suci dan bersih dalam segala hal.

Sementara itu, manusia merupakan makhluk Allah SWT yang diciptakan dalam bentuk yang paling baik sesuai dengan hakikat wujud manusia dalam kehidupan di dunia, yakni melaksanakan tugas kekhalifahan dalam kerangka pengabdian kepada Sang Maha Pencipta. Sebagai khalifahnya dimuka bumi, manusia diberi amanah untuk memberdayakan seisi alam raya dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan seluruh makhluk. Dengan demikian, sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia mempunyai kewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, begitu pula kehidupan masyarakatnya.

Untuk mencapai tujuan suci tersebut, Allah SWT menurunkan Al-Qur'an sebagai hidayah yang meliputi berbagai persoalan aqidah maupun syari’ah demi kebahagiaan hidup seluruh umat manusia di dunia dan akhirat. Jadi, selain sebagai Sang Pencipta (Al-Khaliq), Allah adalah Sang Pengatur (Al-Mudabbir) yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia.

Sebagai seorang individu manusia memiliki berbagai kefitrahan yang sangat kompleks, memiliki bermacam variasi kecenderungan, dan melekat padanya kelebihan serta kelemahan yang dapat menjadi keuntungan dan hambatan bagi manusia dalam mengarungi kehidupan. Karakteristik manusia itulah yang membutuhkan sebuah sistem yang sesuai dengan segala kefitrahan yang ada pada dirinya. Dan Islam memiliki jawaban untuk melakukan tugas itu. Islam tidak hanya memberikan arahan, aturan atau ketentuan bagi manusia sebagai individu, tapi Islam juga merangkai setiap individu dengan individu yang lain dalam sebuah sistem yang begitu harmoni dan indah.

Jadi Islam tidak hanya berfungsi untuk kesejahteraan hidup manusia tapi juga untuk kesejahteraan kehidupan mereka (interaksi antara manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lainnya, dan antara manusia dengan Penciptanya), karena Islam memiliki aturan lengkap seperti aturan dalam berekonomi, pendidikan, peradilan, pemerintahan, sosial dan lain-lain. 

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 48 yang artinya: ”Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan- Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Wajib atas setiap muslim untuk mengambil seluruh aturan dalam Islam, tidak sebagian-sebagian. Setiap Muslim diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 208 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”

Kaffah di sini artinya menyeluruh, meliputi seluruh aturan dalam Islam. Dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini diterjemahkan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya agar berpegang kepada tali Islam dan semua syariatnya serta mengamalkan semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya dengan segala kemampuan yang dimiliki.


Harmonisasi Kemajemukan Masyarakat dalam Islam

Terkait fakta keberagaman yang ada di Indonesia, memang ada yang menganggap bahwa hal ini mempunyai pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positifnya yakni Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang terjalin serasi dan harmonis sehingga terwujud integrasi bangsa. Sedangkan negatifnya, bisa memunculkan sikap primordial yang berlebihan. Primordial yakni sikap mempertahankan kebudayaan daerah, agama, dan kebiasaan di masa lalu. 

Di dalam kacamata Islam, kemajemukan adalah sebuah fakta yang merupakan qadla/keputusan dari Allah yang tidak bisa kita hindari. Islam menerima fakta keberagaman tersebut sebagai bukti kekuasaan Allah SWT. Selanjutnya, Islam menurunkan aturan-aturan yang bertujuan menciptakan keharmonisan dalam kemajemukan masyarakat tersebut; karena sejatinya Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Allah SWT berfirman:

 وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. al-Anbiya: 107)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia baik berbeda agama, ras, bahasa dan lain-lain. Bagi orang beriman, datangnya utusan Allah adalah sebuah rahmat yang nantinya akan membawa kepada cahaya keimanan, mendapatkan syafaat, kebahagiaan dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.

Islam rahmatan lil’alamin akan semakin terasa dan terlihat manakala aturan-aturanNya diaplikasikan dalam kehidupan nyata, tidak hanya termaktub di dalam buku/kitab yang hanya dipelajari dan dikaji tanpa diterapkan. Dengan penerapan aturan Islam ini, kehidupan masyarakat akan harmonis karena aturan tersebut berasal dari Sang Pencipta, bukan manusia yang punya banyak keterbatasan. Sang Pencipta, yaitu Allah SWT adalah Al-Khaliq sekaligus Al-Mudabbir (Sang Pengatur). Allah lah yang paling tahu seluk beluk ciptaanNya.

Secara fakta, sejarah juga mencatat keharmonisan umat manusia tatkala aturan Islam diterapkan. Di bawah naungan sistem Islam, kaum non-Muslim hidup sejahtera dan damai seperti yang diceritakan T.W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam. Selama 14 abad Islam diterapkan, orang-orang non-Muslim yang hidup di dalamnya menikmati kehidupan yang lebih baik, ketimbang saat mereka hidup di bawah sistem kufur.

Terdapat kisah bagaimana Khalifah Umar bin Khatthab menghentikan jizyah dari orang Yahudi yang sudah tua renta, saat dijumpainya sedang meminta-minta, kemudian hidupnya dijamin oleh negara. Kisah bagaimana orang Kristen Koptik diperintahkan Umar untuk meng-qishah putra Amru bin Ash, gubenur Mesir, di hadapan bapaknya karena kejahatan yang dilakukan terhadap dirinya.

Juga kisah, bagaimana Khalifah Ali bin Abi Thalib dikalahkan oleh Qadhi Syuraih dari orang Yahudi yang mencuri baju besinya, karena tuduhan sang Khalifah tidak didukung bukti di pengadilan. Selain itu, berkaitan jaminan pemenuhan kebutuhan hidup pun tidak hanya diberikan kepada kaum Muslim, tetapi juga kepada non-Muslim. Dalam hal ini, non-Muslim yang menjadi warga di dalam sistem Islam mempunyai hak yang sama dengan orang Muslim.

Semua itu bagian dari episode sejarah bagaimana peradaban Islam memperlakukan non-Muslim dengan baik dan adil di bawah naungan sistem Islam. Maka wajar, jika kemudian orang non-Muslim sendiri mengaku lebih bahagia hidup di bawah naungan Islam.

Banyak intelektual Barat yang mengakui hal tersebut, bahkan sampai dikenal oleh sejarahwan Barat, Spain in three Religion with Chalipate. Spanyol di bawah naungan Khilafah Islam hidup aman, damai dan sejahtera. Hal ini juga diakui secara jujur oleh sejarahwan Philip K. Hitti dalam History of Arab. Dia mengatakan, "The term Islam may be used in three sense: originally a religion, Islam later became a state, and finally a culture."

Hal senada juga disampaikan Carleton, Ceo Hewwlett Packard, Dia mengatakan: "Bahwa Peradaban Islam merupakan peradaban terbesar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya dunia (superstate) terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku."

Inilah bukti sejarah yang tidak dapat dipungkiri siapa pun yang memahami sejarah peradaban dunia. Walhasil, kemajemukan masyarakat (pluralitas) tidak menjadi persoalan selama sistem Islam kaffah yang dipakai untuk mengatur seluruh sendi kehidupan masyarakat. Gesekan-gesekan terkait hubungan Muslim dan non-Muslim yang terjadi selama ini adalah akibat tidak adanya penjagaan dari sistem Islam. Banyak pihak yang mengadu domba antar warga yang berbeda keyakinan karena faktor kepentingan/kedudukan. Wallahu a’lam bi shawwab.[]

Oleh: Noor Hidayah, MPA

Posting Komentar

0 Komentar