Gus Tuhu: 'Silence is Golden' Itu Kebiasaan Orang Barat



TintaSiyasi.com-- Menyikapi ungkapan silence is golden (diam itu emas) yang menggabarkan situasi lebih baik diam daripada berbicara, Pengasuh Majelis Taklim Al Mustanir Probolinggo Gus Tuhu menilai hal itu berasal dari kebiasaan orang Barat bukan dari Islam.

“Dalam keseharian, kebiasaan orang-orang Barat ada ungkapan silence is golden kurang lebih artinya diam itu emas,” tuturnya dalam acara Kajian Islam Tematik Edisi #33: Tidak Selalu Diam itu Emas, Senin ( 25/1/2021) di kanal YouTube Bromo Bermartabat.

Menurutnya, bahwa ungkapan tersebut dari kebebasan individu berprilaku ideologi kapitalisme maka muncul sikap individualisme.

“Kebebasan individu berprilaku sehingga kemudian ada juga yang terkenal dengan istilah individualisme, maka individualisme itulah yang mereka anut,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Gus Tuhu menjelaskan diam merupakan sebuah sikap, yang berarti termasuk pilhan amal (perbuatan).”Jika diam adalah sebuah pilihan perbuatan, maka untuk menentukan sikap diam setiap Muslim (mukalaf) harus terikat dengan hukum syara’ (hukum Allah),” tandasnya.

Menurutnya, kewajiban kaum Muslimin menyerukan kebenaran dan tidak boleh diam.

 “Adapun untuk konteks hari ini, saat kejahilan merajalela, penerapan sistem kufur meliputi kehidupan kaum Muslimin dan kerusakan moral di mana-mana. Maka menyuarakan kebenaran, menyampaikan kalimat haq tentu menjadi kewajiban bagi kaum Muslimin dan tidak boleh mereka diam,” ujarnya.

Ia menegaskan, tidak selalu diam itu emas, seorang mukalaf wajib tahu dan paham kapan dia harus berkata dan kapan harus diam.[] Lukman Indra Bayu

Posting Komentar

0 Komentar