Generasi Unggul Dilelang Demi Korporasi: Model Peradaban Manakah yang Ingin Diciptakan?


Kemendikbud hingga Google mulai jaring 3.000 mahasiswa yang akan dibekali talenta digital. Sebagaimana yang diwartakan Kompas.com, Jumat (8/1/2021), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021.

Dunia pendidikan terus berusaha menyiapkan lulusan-lulusannya sebagai sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. Seakan tujuan daripada pendidikan tidak lebih sekedar sebagai jalan meraih pundi-pundi uang demi pemenuhan kebutuhan saat mereka harus lepas dari dunia pendidikan dan terjun ke masyarakat.

Begitu pula pada kurikulum SMK, kemendikbud telah melakukan perombakan dengan lima asoek perubahan. Dilansir dari detiknews.com, Sabtu (9/1/2021), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan penyesuaian kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match. Ada lima aspek perubahan yang dibuat untuk memajukan pendidikan vokasi tersebut.

Potensi unggul generasi seakan telah dilelang demi korporasi, kemendikbud mengarahkan mereka menjadi insan-insan yang siap memenuhi kepentingan para korporasi. Sesungguhnya, peradaban seperti apa yang ingin mereka ciptakan?


Sistem Kapitalistik Jadikan Dunia Pendidikan Lelang Generasi Demi Korporasi

Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) merupakan program pembinaan 3.000 talenta digital terampil guna menyiapkan sembilan juta talenta digital terampil pada tahun 2030. Progran Bangkit ini digadang Ditjen Dikti sebagai program yang ditawarkan kepada mahasiswa di semua perguruan tinggi Indonesia untuk dapat mengimplementasikan Kampus Merdeka melalui studi/proyek independen untuk mendapatkan kompetensi di bidang machine learning, mobile development, dan cloud computing.

Menurut laman resmi Bangkit 2021, pada akhir program, mahasiswa akan dibekali dengan keahlian teknologi dan soft skill yang dibutuhkan untuk sukses berpindah dari dunia akademis ke tempat kerja di perusahaan terkemuka.

Tak jauh beda, kurikulum SMK pun diracik sedemikian rupa agar dapat menciptakan lulusan akademis yang siap terjun ke dunia kerja. Setidaknya ada lima aspek perubahan yang dibuat untuk mewujudkan hal tersebut:

Pertama. Mata pelajaran yang bersifat akademik dan teori akan dikontekstualisasikan menjadi vokasional, misalnya matematika dan Bahasa Indonesia akan menjadi matematika terapan dan Bahasa Indonesia terapan.

Kedua. Magang atau praktik kerja industri (prakerin) minimal satu semester atau lebih.

Ketiga. Terdapat mata pelajaran project base learning dan ide kreatif kewirausahaan selama 3 semester.

Keempat. SMK akan menyediakan mata pelajaran pilihan selama 3 semester, misalnya siswa jurusan teknik mesin dapat mengambil mata pelajaran pilihan marketing.

Kelima. Terdapat co-curricular wajib di tiap semester, misalnya membangun desa dan pengabdian masyarakat.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto menyebut berbagai program yang telah diluncurkan oleh Ditjen Pendidikan Vokasi berdampak pada peningkatan pemahaman dan juga gairah dari satuan pendidikan vokasi maupun dunia usaha dan industri dalam enam bulan belakangan. Hal tersebut dibuktikan dengan berjalannya program "link and match" hasil kolaborasi satuan pendidikan vokasi dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI).

Ditjen Pendidikan Vokasi telah Menyusun roadmap untuk mengasah kualitas pendidikan vokasi dan meningkatkan serapan tenaga kerja bagi lulusan di industri. Langkah-langkah yang disiapkan tersebut antara lain:

Pertama. Menciptakan SDM lulusan yang kompeten, unggul, dan sesuai dengan kebutuhan industri skala nasional maupun global.

Kedua. Terjadi peningkatan produktivitas, inovasi, serta daya saing yang signifikan hingga memajukan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga. Meningkatkan kesejahteraan dan karir lulusan vokasi lebih baik.

Keempat. Menciptakan generasi wirausaha yang tangguh dan inovatif.

Kelima. Input peserta didik pendidikan vokasi harus passion dengan dunia vokasi.

Keenam. Keterlibatan dunia industri dan kerja semaksimal mungkin.

Ketujuh. Peningkatan soft skills dan karakter lulusan agar menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat.

Kedelapan. Mampu menjawab tantangan kebutuhan kompetensi masa kini dan mendatang.

Kesembilan. Riset terapan yang menghasilkan produk nyata yang dihilirkan ke pasar industri dan masyarakat.

Baik program Bangkit yang diperuntukkan mahasiswa semua jurusan maupun kurikulum SMK, telah jelas mengarah pada penciptaan akademis yang siap diterjunkan ke dunia kerja. Arah kebijakan pemberdayaan potensi generasi yang berbasis pelibatan korporasi, sama artinya dengan menyerahkan potensi unggul ke generasi pada korporasi. Inilah sistem pendidikan yang tercipta dari sistem kapitalistik yang menjadikan materialistik sebagai tujuan. Mereka menciptakan generasi yang siap menjadi pelayan korporasi.


Pendidikan dalam Sistem Kapitalistik Menghilangkan Potensi SDM untuk Keunggulan Bangsa

Dalam sistem kapitalistik, dunia pendidikan hanya menciptakan kaum intelektual yang menjadi budak-budak kapitalisme. Kemajuan teknologi tidak mampu menyelesaikan persoalan umat, namun hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan persaingan bisnis dan demi kepentingan para kapitalis.

Standar karakter generasi yang tercipta dari sistem ini pun lebih diarahkan pada gaya hidup sekuler, yang semakin menciptakan generasi individualis dan hedonis. Dan bahkan karakter materialistis semakin melekat pada generasi yang terlahir dari sistem kapitalistik.

Kemandulan negara memenuhi hajat hidup rakyatnya menjadi pendorong para generasi yang menempuh pendidikan hanya bertujuan untuk dapat memperoleh pekerjaan mapan setelah mereka lulus. Ini jauh dari tujuan pendidikan sesungguhnya yang bagaimana hasil pendidikan mampu bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban.

Sistem kapitalistik menjadi driver utama menciptakan pragmatisme berkembang dalam dunia pendidikan. Tercermin dari tujuan pendidikan yang terlampau materialistik yang hanya sekedar penyedia kebutuhan korporasi, menjadi budak dan pelayan kapitalis semata.

Keberlimpahan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, namun tidak mampu menjadi penyelesai problematika umat manusia. Terjadi banyak krisis di segala bidang, krisis kemanusian, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik dan krisis generasi. Dengan keberlimpahan ilmu pengetahuan tidak juga mampu menjadikan dunia lebih baik.

Sistem kapitalistik menjadikan negara ‘rela’ kehilangan SDM untuk keunggulan bangsa. Hilang kesempatan memiliki generasi unggul yang mampu menjadi penjawab dan penyelesai problematika umat seluruh manusia. Akibat manipulasi para korporasi yang bergandengan dengan kebijakan negara menjadikan harapan tercipta generasi dan peradaban emas semakin jauh dari genggaman.


Strategi Sistem Pendidikan Islam dalam Melahirkan Generasi untuk Keunggulan Bangsa

Tujuan mencari ilmu sudah seharusnya ditujukan untuk beribadah, maka pendidikan harus kembali didekatkan pada wahyu Allah Swt. Dr. Fika Komara dalam Konferensi Perempuan International dalam orasinya menyatakan bahwa pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan syariat Islam, yaitu:

Pertama. Membentuk manusia bertakwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam.

Kedua. Menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dna peradaban, serta akan membuat negara Islam menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat sehingga menjadikan Islam sebagai ideologi yang mendominasi di dunia.

Pendidikan memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Sebagaimana firman Allah Swt, "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang telah diberi ilmu." (Al-Mujadilah : 11)

Tujuan Pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islami (Shakhsiyyah Islamiyyah) yaitu membentuk pola pikir Islami dan pola sikap Islami. Serta menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli sebanyak mungkin yang dapat memberi manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan membangun peradaban Islam.

Tentu saja tujuan pendidikan ini tidak akan mampu terwujud bila ditopang oleh sistem Kapitalistik-sekuler. Hanya sistem Islam yang mampu dan sudah terbukti mampu mewujudkannya. Negara memberikan hak penuh tanpa pandang bulu bagi seluruh umat untuk dapat mengenyam pendidikan secara cuma-cuma. Segala penelitian, laboratorium, perpustakaan dan sarana yang dibutuhkan disiapkan negara. Karena tidak lain negara merupakan penanggung jawab penyelenggara pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin oleh negara dan sekali lagi negara wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat.

Ingatlah sabda Rasulullah Saw, "Imam itu adalah pemimpin dan ia akan iminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR al-Bukhari)

Islam mewajibkan negara menjamin terwujudnya generasi pembangun peradaban Islam. Generasi adalah anak-anak umat (abna’ul ummah) yang rasul banggakan karena jumlah dan kontribusinya bagi Islam. Dengan tujuan pendidikan Islam yang terlahir sesuai dengan syariat Islam dapat menghasilkan generasi yang bertakwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah. Bukan generasi yg miskin moral, lemah dan tidak memiliki ghirah Islam.[]

#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst

Oleh: Dewi Srimurtiningsih
(Analis Mutiara Umat & Dosol Uniol 4.0 Diponorogo)

Posting Komentar

0 Komentar