Generasi Durhaka Buah Kapitalisme Sekuler


Belum genap sebulan Hari Ibu diperingati, publik kembali disuguhi berita anak mempolisikan ibunya. Gara-gara masalah baju, seorang ibu di Demak dilaporkan anak kandungnya setelah bertengkar sengit (detikcom, 9/1/2021). Tak sampai sepekan kemudian, masih di laman berita yang sama, dikabarkan seorang ibu di Malang sempat dianiaya anak kandungnya dan dicuri motornya demi judi online. Kasusnya pun sampai ke pihak yang berwajib. Meski kedua kasus di atas berakhir dengan perdamaian antara ibu dan anak, namun masih menyisakan catatan. 

Fakta pupusnya penghormatan pada ibu, tak bisa dipungkiri. Mudahnya anak marah hingga mencelakai ibunya gara-gara remahan dunia yang murah, benar-benar menunjukkan sang ibu tak lagi dihormati oleh si anak. 

Rupanya, selebrasi Hari Ibu dari yang mengharu biru hingga yang seru, tak berkorelasi dengan perlakuan nyata pada sosok ibu. Limpahan kasih sayang sehari itu akan menjadi kehangatan yang dirindukan dan diangankan kaum ibu, di hari-hari setelahnya.

Ya, di alam yang makin memberhalakan materi, kasih sayang ibu seringkali ditandingkan dengan sejumlah materi. Sebaliknya, bakti anak pun seakan lazim ditakar dengan seberapa besar materi yang diberikannya kepada orang tuanya. Alhasil hubungan ibu dan anak terjalin, semata demi manfaat materi. Tak lebih. Meski Islam mendudukkan pergaulan ibu dan anak sebagai bagian dari ibadah kepada Alloh. Ibu dan anak siap saling berkorban demi ridho Tuhannya. 

Semua pergeseran ini berjalan tanpa terbendung lagi. Dimulai dari bergesernya persepsi terhadap predikat ibu. Fungsi ibu tak lagi dipandang bergengsi, bahkan disamakan dengan pengangguran. Hal ini bisa kita rasakan dari ungkapan-ungkapan yang lazim di masyarakat. "Saya cuma seorang ibu rumah tangga" atau "Sayang lho Jeng, sudah sekolah tinggi-tinggi, kok sekarang cuma ngurus anak?" 

Bandingkan dengan Islam yang memuliakan kedudukan sebagai ibu. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda: "Surga itu di bawah telapak kaki ibu"

Belum lagi alam materialis saat ini yang tidak memberikan jaminan finansial bagi ibu. Sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, ancaman PHK, menurunnya nilai uang dan mahalnya kebutuhan pokok, yang dialami kepala keluarga pasti berdampak pada kaum ibu. Tak jarang para ibu harus membantu para bapak untuk bekerja menambah penghasilan. Bahkan sampai menjadi tulung punggung keluarga menggantikan suami yang sakit atau meninggal. 

Bertolak belakang dengan pengaturan Islam tentang tanggung jawab nafkah atas kaum ibu. Nafkah atas ibu menjadi tanggungan suaminya, bahkan saat sudah dicerai sekali pun, bila si ibu mengandung atau sedang menyusui bayinya. Bila suami tak mampu, tanggung jawab nafkah beralih pada walinya. Bila tak mampu  juga, akan ditanggung negara. Tak sekejap pun kaum ibu dibiarkan tanpa dicukupi kebutuhannya. 

Sementara itu, regulasi di dunia kerja terbilang tak ramah bagi peran ibu. Pekerja perempuan tak bisa penuh membersamai bayi yang baru saja dilahirkannya. Setidaknya hingga 6 bulan pemberian ASI ekslusif. Tiba-tiba ibu dan anak mulai berjarak di momen-momen emas pembentukan ikatan batin di antara keduanya. Ditambah rendahnya "skill" untuk mendidik anak, peran ibu dijalankan ala kadarnya. Kaum ibu makin terlena dengan dunia kerja, dan dipaksa mengabaikan kebutuhan naluriah anak. Terbukti, maraknya ibu stress selama mendampingi anak sekolah daring. 

Sementara, Islam justru memberikan rukhshah (keringanan) bagi ibu hamil dan menyusui dalam sebagian hukum ibadah. Bolehnya seorang ibu tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan mengganti puasanya pada bulan yang lain. Padahal, puasa Ramadhan adalah kewajiban tiap muslim. Ini menunjukkan betapa Islam memprioritaskan sempurnanya pelaksanaan fungsi ibu. 

Kehidupan kapitalisme liberal di negeri kita saat ini pun, tidak memandang "skill" ibu sebagai sebuah kecakapan penting bagi generasi. Hampir-hampir tak ada pendidikan formal untuk menyiapkan "skill" seorang ibu. Yang ada, hanyalah "skill" untuk bekerja. 

Kalaulah ada pendidikan atau pelatihan tugas-tugas kerumahtanggaan, tak lebih untuk menyiapkan tenaga kerja di sektor non formal. Jika pun ada lembaga formal yang menyelenggarakan pendidikan terkait tumbuh kembang anak dan pendidikan anak, maka fasilitas ini tak dijangkau semua calon ibu. Dan, sekali lagi, pendidikan ini diadakan karena kebutuhan kerja di sektor pendidikan.

Padahal Islam telah mengajarkan "al Umm madrosatul ula" yang maknanya ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anaknya. Maka bagaimana mungkin Islam membenarkan seorang ibu tak memiliki ilmu dan keahlian dalam mendidik anaknya. Pertanggungjawabannya bukan sekedar pada anak dan walinya, tapi pada Alloh Azza wa Jalla. 

Lengkap sudah tatanan hidup materialistik yang terus meminggirkan fungsi ibu. Disadari atau tidak, hal ini mengikis penghormatan pada sosok ibu. Meski Islam menjadi agama yang mayoritas dipeluk oleh penduduk negeri ini. Lebih-lebih jika kesadaran dan semangat sebagian keluarga muslim untuk memahami dan mengamalkan Islam selalu dipandang sebagai ancaman benih-benih radikalisme. 

Deislamisasi niscaya kian deras. Fenomena generasi durhaka hanya akan menjadi kewajaran karena saking seringnya mereka menghinakan ibu-ibu yang melahirkannya. Maka pilihannya kembali kepada kita. Akankah kita terus berharap pada peradaban kapitalistik liberal yang gagal menghadirkan tatanan yang memuliakan ibu atau terus menempuh jalan untuk membumikan Islam Kaffah, meski dihadang stigma radikal. Bukankah  Allah ﷻ Berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” [QS. Ali Imaran : 103].[]

Oleh: Hayatul Mardhiyyah

Posting Komentar

0 Komentar