FPI Dibubarkan, Dakwah Harus Tetap Jalan



Pemerintah resmi membubarkan Front Pembela Islam (FPI) sebagai organisasi masyarakat dan melarang setiap aktivitas dan penggunaan atribut terkait dengan FPI. Keputusan ini diteken pada 30 Desember 2020, oleh enam pejabat Kementerian/Lembaga, yakni Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Komuniasi dan Informatika, Jaksa Agung, Kepala BIN, dan Kepala BNPT (metro.tempo.co).

Menurut kuasa hukum Habib Rizieq Shihab (HRS) Aziz Yanuar menyatakan, pembubaran Front Pembela Islam (FPI) hanya pengalihan kasus atas tewasnya enam orang pengawal HRS. Aziz menegaskan, pembubaran FPI bukan akhir dari perjuangan. Salah satu alasan pembubaran FPI karena organisasi ini tidak terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan. 

Padahal sesuai UU No 17 tahun 2013 tentang Ormas yang diubah dengan UU No 16 tahun 2017 tentang Penetapan Perppu No 2 tahun 2017 menjadi UU pada Pasal 9 dan 10 disebutkan bahwa Ormas bisa berbentuk badan hukum dan tidak berbadan hukum. Ormas juga boleh terdaftar dan boleh tidak terdaftar.


Sejarah FPI

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 yang dilakukan di Pondok Pesantren Al Um Ciputat oleh sejumlah habaib, ulama, mubaligh, dan aktivis muslim. FPI didirikan dengan tujuan sebagai wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar. 


FPI dikenal dengan aksi-aksinya sejak tahun 1998. FPI pernah terlibat aksi penutupan klub malam, tempat pelacuran, penggerebekan beberapa tempat seperti tempat pesta LGBT, pesta minuman keras, perjudian, acara kaum waria, dan tempat-tempat maksiat lainnya. FPI selalu terdepan turun memberi bantuan ke lokasi-lokasi bencana. 

FPI berperan aktif dalam aksi kemanusiaan seperti pengiriman relawan ke daerah bencana tsunami di Aceh, pengiriman relawan dan logistik saat bencana gempa di Padang, bencana tsunami di Palu Sulawesi Tengah, dan banyak posko bantuan dan aksi kemanusiaan lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

FPI memiliki basis masa yang signifikan dan menjadi motor di balik beberapa aksi pergerakan Islam di Indonesia, seperti Aksi 2 Desember pada 2016 atau yang dikenal Aksi 212 dan berbagai aksi memperjuangkan islam dan mencegah kemungkaran di berbagai daerah. Meskipun terkadang aksi yang dilakukan FPI dinilai kontroversial bagi beberapa pihak, terutama oleh penguasa, namun FPI merupakan ormas yang berbasis Islam dan selalu mengedepankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Dibubarkan, Bukan Berarti Berhenti Berdakwah

Pembubaran ormas Islam sudah beberapa kali dilakukan oleh pemerintah. Pada tahun 2017, pemerintah juga membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai tidak sejalan dengan pemerintah dan NKRI. Namun, pembubaran ormas islam ini tidak boleh dijadikan sebagai penghalang bagi umat islam untuk terus berdakwah dan berjuang menegakkan islam di muka bumi. Allah SWT berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah,…“. [Ali Imron :110]


FPI dan HTI merupakan organisasi masyarakat yang fokus kepada dakwah islam dan menasehati penguasa. Untuk itu, pembubaran organisasi sudah selayaknya tidak dijadikan hujah untuk menghentikan perjuangan dan dakwah Islam. 

Justru dengan adanya pembubaran ormas Islam ini, seharusnya umat semakin sadar bahwa negri ini sedang tidak baik-baik saja. Umat islam sudah selayaknya bersatu menghentikan kezaliman penguasa dan menjadikan dakwah sebagai jalan utama untuk memperbaiki keadaan umat dengan segenap problematika kehidupan.


Rasulullah juga pernah mengalami masa pemboikotan yang dilakukan oleh kafir Qurasy saat beliau berdakwah islam di Mekah. Dakwah islam tidak melulu mengalami jalan yang mulus dan lancar, adakalanya dalam dakwah ada goncangan, jalan yang terjal, angin topan, bahkan jalan buntu. Karena musuh-musuh islam bersekutu membungkam islam kaffah. 

Untuk itu, jangan berkecil hati wahai saudara kami FPI, jangan bersedih dan jangan berhenti berdakwah. Tetaplah menjadi Umar Bin Khattab yang garang dalam melawan kemaksiatan dan kedzaliman. Semakin pekat malam, semakin dekat fajar datang. Semoga kejayaan islam segera tegak, dan semoga kita menjadi bagian dari pejuang Islam. Allahu Akbar! Wallohu A’lam bisshowab.[]

Oleh: Hetik Yuliati, S.Pd (Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar