Fluktuasi Harga Cabai Ditengah Sulitnya Ekonomi


Kebutuhan dasar (hajatul udhawiyah), dalam hal ini makan merupakan hal mendasar yang harus dipenuhi manusia. Nusantara memiliki ciri khas tersendiri untuk makanan lauk pauk yang rasanya dominan pedas. Rasa pedas cabai lekat sekali dengan bumbu dapur, si kecil primadona bagi para pecintanya.

Kini harga cabai mengusik kaum emak, tak sedikit keluhkan harga yang menjulang tinggi bikin ngelus dada. Terkadang estimasi uang yang dibawa ketika berbelanja dengan realitas harga tidak sepadan. Sehingga solusi akhir yang ditempuh  hutang kepada penjual warung atau mengurangi jumlah belanja.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mengeluhkan lonjakan harga cabai rawit merah dan daging sapi. Kini, harga cabai rawit merah sudah tembus Rp 100.000 per kilogram dan daging sapi Rp 126.000 per kilogram.

Ketua Bidang Infokom DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan mengatakan, kenaikan harga komoditas cabai sudah terjadi sejak sebulan terakhir (kompas.com 08/01). Diduga tingginya harga cabai yang meroket karena libur tahun baru dan natal. Kondisi ekonomi akibat pandemi yang serba sulit juga patut diduga memperkuat meledaknya harga cabai.

Akan menjadi masalah jika kondisi ini dibiarkan,  ada oknum penjualan yang mengecat cabai muda agar terlihat merah. Dikhawatirkan pedagang juga menimbun cabai dipasar, karena memanfaatkan kesempatan tingginya harga.

Memang kondisi saat ini memasuki musim penghujan, cabe langka juga bisa dari faktor musim pehujan yang menyebabkan cabai cepat membusuk. Pengolahan cabai bubuk bisa dikembangkan di masyarakat agar tidak kaget ketika harga cabai tinggi.

Sempat mengalami penurunan harga di tahun lalu, harga cabai terjun bebas, sehingga tidak sedikit  petani cabai yang merugi akibat rendahnya harga jual yang tidak menutup biaya pupuk dan perawatannya. Ketika turun harga, harusnya juga diperhatikan supaya pemerintah menjaga harga agar tetap stabil.
Sehingga tidak ada salah satu pihak yang dirugikan.

Jangan sepelekan masalah tingginya harga cabai ditengah sulitnya ekonomi saat ini, rakyat banyak yang terkena PHK kehilangan lapangan kerja. Bagi orang yang berada mungkin ini masalah kecil, tapi untuk rakyat kecil pengeluaran harus dihemat agar bisa tetap hidup dan memenuhi kehidupan yang lain.

Pemerintah seharusnya mampu  memprediksi bagaimana langkah preventif agar lonjakan harga itu tidak terjadi. Perlunya studi lapangan dan pengawasan harga pasar secara berkala. Berikut faktor yang mengakibatkan tingginya harga cabai:

Pertama, kebijakan negara tercengkeram sistem ekonomi Kapitalis. Dimana harga yang mengendalikan pasar, semakin banyak permintaan pasar maka semakin tinggi harga penjualan. Seharusnya peran negara dalam menjaga kestabilan harga, sehingga tidak ada salah satu pihak yang memonopoli harga. Momentum yang menjadi sebab kenaikan harga seperti hari raya ataupun tahun baru bisa diatasi.

Kedua, membuka cadangan lahan untuk penanaman cabai. Banyak lahan yang kurang dimanfaatkan, pemerintah bisa membuat regulasi tata kelola pangan, tidak hanya penanaman cabai saja, akan tetapi semua kebutuhan pangan rakyat.

Ketiga, menjamin ketersediaan pupuk bagi petani dengan harga yang murah. Petani banyak yang mengeluhkan tingginya harga pupuk sehingga mengurangi produksi.

Empat, mengembangkan dan memfasilitasi media penanganan alternatif, misalnya solusi jika lahan yang kita miliki sempit dengan menerapkan teknik hidroponik.

Menerapkan sistem ekonomi Islam dinilai lebih mudah dalam mengatasi sulitnya ekonomi. Aturan dari Allah SWT yang mengendalikan ketamakan sifat manusia dalam menyusun kebijakan dalam hal ini harga cabai, begitu pun dengan ketersediaan barang. Sistem ekonomi Islam hanya bisa terwujud dengan menerapkan Islam kaffah.[] 

Oleh: Munamah

Posting Komentar

0 Komentar