Dunia Gagal Tangani Pandemi, Saatnya Terapkan Solusi Islam



Saat tulisan ini di tulis, berdasarkan data dari situs covid19.go.id sudah ada 808.340 orang positif Covid-19 di Indonesia dan 86.436.449 orang di seluruh dunia. Sedangkan yang meninggal dunia ada 23.753 orang di Indonesia dan 1.884.341 orang di seluruh dunia. Sudah hampir satu tahun pandemi Covid-19 ini ada di Indonesia, tidak ada penurunan justru malah sebaliknya semakin hari semakin meningkat bahkan melonjak dengan sangat cepat masyarakat yang dinyatakan positif. 

Melihat fakta Covid-19 di Indonesia saat ini, sungguh sangat miris rasanya. Karena pemerintah tidak memberikan solusi yang benar-benar efektif untuk menghentikan pandemi ini. Selama ini hanya menerapkan PSBB saja. Bahkan di beritakan pada tanggal 11 Januari 2021 yang akan datang, Presiden Joko Widodo memberi perintah seluruh Gubernur harus menerapkan kembali PSBB di daerahnya masing-masing.

Padahal jika kita teliti kembali, PSBB sama sekali tidak memiliki dampak besar dalam penanganan Covid-19 ini. Buktinya seperti yang terlihat pada data, jumlah positif justru semakin hari semakin meningkat. Terlebih lagi baru-baru saja akhir 2020 lalu Indonesia mengadakan pilkada serentak seluruh Indonesia, yang mengharuskan masyarakat ke luar rumah dan mencoblos ke TPS, bertemu dengan orang-orang. Padahal sudah tahu sedang pandemi, tetapi pilkada tetap dilaksanakan. Alhasil, banyak panitia pilkada dan masyarakat yang positif Covid-19.

Yang lebih membuat kita sakit hati adalah, bukan hanya masyarakat biasa yang terkena Covid-19 ini. Tetapi juga para tenaga medis yang setiap hari berjuang di rumah sakit, menggunakan APD seharian, dan harus bekerja untuk membantu para pasien positif Covid-19 setiap hari. Menurut catatan LaporCOVID-19 hingga 28 Desember 2020, total ada 507 nakes dari 20 provinsi di Indonesia yang telah gugur karena Covid-19. Sebanyak 96 di antaranya meninggal dunia pada Desember 2020, dan merupakan angka kematian nakes tertinggi dalam sebulan selama pandemi berlangsung di Tanah Air. (kompas.com, 29/12/2020)

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan Kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Selain itu, Indonesia juga masuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan Kesehatan di seluruh dunia. “Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan Kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19,” ujar Adib. (kompas.com, 02/02/2021)

Sungguh sangat miris rasanya, semakin hari kita semakin merasa ketakutan rasanya. Disaat pandemi masih berkeliaran di negeri ini, tetapi kita hanya menerapkan protokol kesehatan saja, kemudian PSBB, tak ada solusi dari pemerintah yang benar-benar bisa mencabut masalah pandemi ini hingga ke akar-akarnya. Harusnya, saat pertama kali Covid-19 masuk ke Indonesia, maka saat itu pula harus diberlakukan lockdown di seluruh Indonesia. Tak boleh ada masyarakat yang keluar rumah hingga pandemi tersebut usai. Hal ini sudah pernah dicontohkan oleh Umar bin Khattab saat beliau menjadi seorang khalifah yang menangani permasalahan wabah.

Di dalam Islam, nyawa satu orang manusia itu sangat berharga. Bayangkan saja saat ini tidak hanya satu dua orang yang meninggal akibat Covid-19, tetapi sudah jutaan. Hanya karena tidak diterapkannya solusi yang tepat dalam penangan Covid-19 ini. Di sisi Allah subhanahu wata’ala, nyawa seorang muslim itu lebih berharga dibandingkan dengan dunia ini.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani)

Jika kita ingat kembali, asal mula virus ini adalah berasal dari pada binatang di Cina. Seperti yang kita ketahui, bahwa di negara Cina untuk urusan makan dan kehidupan mereka itu liberal, sangat bebas. Apa pun boleh di makan, tak ada larangan. Ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat yang akhirnya memperparah keadaan dan semakin menambah jumlah positif Covid-19.

Pelayanan Kesehatan dalam Sejarah Khilafah

Pelayanan kesehatan dalam sejarah khilafah Islam dibagi menjadi tiga aspek. Yang pertama, tentang pembudayaan hidup sehat. Kedua, tentang pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan. Kemudian yang ketiga adalah tentang penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan.

Pembudayaan Hidup Sehat

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam banyak sekali memberikan contoh kebiasan sehari-hari untuk mencegah berbagai jenis penyakit. Misalnya; menekankan kebersihan, makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah yang banyak tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengonsumsi madu, susu kambing atau habatussaudah, dan lain-lain.

Yang perlu kita sadar adalah, sehebat apapun penemuan dalam bidang teknologi kesehatan, hanya akan efektif memberikan kesehatan pada masyarakat bila mereka sadar hidup sehat, lalu menggerakkan penguasa untuk membangun infrastruktur pencegah penyakit dan juga fasilitas bagi yang sudah terlanjur sakit. Kemudian, penguasa juga wajib menyediakan para tenaga medis yang benar-benar ahli dan professional di bidangnya.

Pemajuan Ilmu dan Teknologi Kesehatan

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga menunjukkan persetujuannya pada beberapa Teknik pengobatan yang dikenal saat itu, seperti bekam atau meminumkan air kencing unta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam. Beliau juga menjadikan seorang dokter yang dihadiahkan oleh Raja Mesir kepada dirinya sebagai dokter publik. Dokter tersebut tentu masih non-Muslim saat belajar medis. Ada sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “Antum a’lamu bi umuri dunyakum (kalian lebih tahu urusan dunia kalian).”

Hadis ini, sekalipun munculnya terkait dengan teknik penyerbukan di dunia pertanian, dipahami oleh generasi Muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan. Itulah latar belakang sehingga dalam beberapa abad kaum Muslim benar-benar memimpin dunia di bidang kedokteran, baik secara preventif maupun kuratif, baik di teknologinya maupun manajemennya.


Penyediaan Infrastruktur dan Fasilitas Kesehatan

Pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar-Razi, ibn al-Jazzar dan al-Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan berakibat kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.

Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan. Meski demikian, negara membangun rumah sakit di hampir semua kota di Daulah Khilafah. Ini adalah rumah-rumah sakit dalam pengertian yang modern. Rumah sakit ini dibuat untuk mempercepat penyembuhan pasien di bawah pengawasan staf yang terlatih serta untuk mencegah penularan kepada masyarakat.

Pada zaman pertengahan, hampir semua kota besar di Khilafah Islamiyah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien pada saat itu. Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta riset. Rumah sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga yang sakit jiwa. Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan di ruqyah.

Semua rumah sakit di daulah Islamiyah dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu. Rumah-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di Daulah Khilafah bebas biaya. Namun, pada saat hari keempat, bila terbukti mereka tidak sakit, mereka akan disuruh pergi, karena kewajiban menjamu musafir hanya tiga hari saja.

Saatnya Terapkan Islam Kaffah

Sudah saatnya kita sebagai seorang muslim menyadari bahwa kita hidup penuh dalam kesusahan dalam naungan negara yang tidak menerapkan sistem Islam. Selain hidup susah, kitapun sulit untuk mendapatkan keberkahan, sudah pasti Allah sangat murka kepada kita karena sudah sangat sombong membuat aturan sendiri.

Agama kita, yaitu Islam sejatinya sudah memiliki aturan yang sangat sempurna bagi kehidupan kita. Islam bukan hanya sekedar mengatur ibadah shalat, zakat atau puasa dan naik haji saja, tetapi Islam itu sangat lengkap dan paripurna. Aturan-aturan di dalam Islam murni dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Tentunya berasal dari Allah subhanahu wata’ala yaitu Rabb semesta alam yang menciptakan kita. Dan Islam pun tidak dapat diterapkan dalam negara demokrasi, dalam negara kapitalis. Tetapi Islam hanya bisa diterapkan dalam naungan Khilafah. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang semasa hidup selalu berjuang untuk penegakkan Khilafah di muka bumi ini. Aamiin. Wallahu’alam bishshawwab.[]

Oleh: Widya Paramita (Komunitas Pena Banua)

Posting Komentar

0 Komentar