Duka Negeri Datang Bertubi-tubi, Mari Muhasabah Diri


Duka kembali menyelimuti negeri. Rentetan musibah melanda negeri Indonesia tercinta. Belum genap sebulan pesawat Sriwijaya SJ182 terjatuh di perairan Pulau Seribu yang hingga hari ini, tim SAR masih melakukan pencarian korban. Disusul banjir hebat yang melanda Kalimantan Selatan. Meninggalnya ulama penjaga alquran, Tanah longsor di Sumedang, gempa  berskala 6.2 SR terjadi di Sulawesi Barat, gempa di Lampung 5,4 SR, semburan panas awan semeru serta pandemi yang belum berakhir.

Sebagai manusia beriman tentu kita memahami bahwa segala musibah yang menimpa manusia adalah qadha atau ketetapan Allah Swt. Kita pun wajib menerima takdir Allah ini dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Kita harus tetap berusaha menerima takdir Allah ini dengan rela sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,

"Sesungguhnya besarnya pahala itu seiring dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Allah memberi cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang ridha (terhadap cobaan itu), maka dia mendapat ridha Allah. Barangsiapa yang murka, maka dia mendapat murka Allah." (HR. Tirmidzi, no.2396, hadis hasan).

Selain berusaha menerima ketetapan Allah atas musibah yang menimpa umat di berbagai wilayah. Sudah seharusnya kita memperhatikan apakah keadaan sekarang sudah sesuai dengan aturan Allah Swt? Ataukah justru merupakan akumulasi dari kemungkaran dan kemaksiatan diri dan umat?

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk Hari Esok (Akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan.” (QS al-Hasyr: 18)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengomentari ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab (oleh Allah Swt)".

Lalu apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadap Allah? Pernahkah kita menghitung berapa lama waktu yang sudah kita gunakan untuk bermaksiat? Dan berapa lama waktu telah kita gunakan untuk taat? Hasan Al bashri berkata, "Seorang Mukmin adalah orang yang mampu menguasai dan bermuhasabah terhadap dirinya."

Selain muhasabah atas amal-amal dan dosa pribadi, kaum muslim secara kolektif juga semestinya melakukan muhasabah total atas kondisi mereka. Setiap muslim wajib melakukan introspeksi atas keadaan umat pada hari ini, yang telah mengabaikan hukum-hukum Allah Swt secara keseluruhan.

Pada hari ini kita melihat darah umat begitu mudah ditumpahkan atas tuduhan radikal ataupun terorisme. Hukum-hukum Islam dicampakkan serta pengembannya dimusuhi, dikriminalisasi dan difitnah bertubi-tubi. Sebaliknya, pelaku kriminal diberi keringanan hukuman mulai dari pemberian grasi dan amnesti.

Jika seorang muslim bisa menangis ketika diingatkan dengan dosa-dosanya di masa lalu, semestinya ia juga bisa menangis melihat masih maraknya muamalah ribawi, hukum warisan penjajah diterapkan, apalagi sistem politik Islam dimusuhi dan dicampakkan.

Oleh karena itu, dengan mengingat kematian, kita jadikan sebagai bahan renungan untuk setiap manusia. Segeralah  berpaling dari apa yang tidak diridhoi oleh Allah Swt. Tinggalkanlah apapun yang tidak berasal dari Allah sebelum azab Allah yang pedih menimpa bumi ini. 

Lepaskan diri kalian dari jebakan sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan kita dari agama. Sistem kapitalisme adalah racun yang melemahkan pikiran kaum muslimin. Membuat kaum muslimin saat ini menjadi lupa akan syariat Islam. Tujuan hidupnya hanya untuk memenuhi segala keinginannya tanpa mengenal halal dan haram. 

Mumpung masih diberi kesempatan usia oleh Allah, maka pergunakannlah sisa waktu kita sebaik-baiknya sebelum datangnya ajal yang akan memutuskan semua harapan dan rencana kita. Kekayaan, kekuasaan, jabatan dan semuanya akan sirna saat panggilan itu datang tiba-tiba. Tentunya kita menginginkan kematian yang husnul khotimah, bukan?

Maka sangat penting melakukan muhasabah. Dengan muhasabah kita dapat merenungi dan menyadari dosa-dosa diri kita sehingga memunculkan keinginan untuk berubah dan bertobat kepada Allah Swt. Dengan bermuhasabah akan muncul rasa betapa lemah dan kecilnya kita sehingga ada rasa takut kepada Allah yang akan mencegah kita dari melakukan perbuatan yang melanggar syariat. 

Khalifah Umar sering menangis pada malam hari karena memikirkan nasib rakyatnya dan takut akan hisab di hadapan Allah Swt kelak. Bahkan rasa takutnya terhadap perkara hisab di hadapan Allah amatlah tampak dari ucapannya ketika menghadapi ajal, ketika dia berada di tempat putranya Abdullah. Dia mengatakan bahwa dirinya telah banyak berbuat zalim namun dia berusaha menjaga salat dan puasa.

Begitulah gambaran orang-orang yang mengharapkan derajat takwa, tentu akan selalu terbiasa melakukan muhasabah. Mengintrospeksi diri agar tidak merasa puas dengan amal yang ia kerjakan. Ia juga tidak meremehkan kemaksiatan. Ia akan begitu  berhati-hati dalam segala ucapan dan perbuatan demi menghindari kemurkaan Allah Swt.

Jika kita bisa melakukan muhasabah atas dosa-dosa pribadi, kita pun harus mulai menghitung besarnya dosa kolektif karena membiarkan aturan Allah yang agung ditelantarkan. Padahal menelantarkan hukum Allah adalah dosa besar.

Allah SWT berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Demi Tuhanmu. Mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’: 65).

Jadi segera buang jauh-jauh sistem kapitalisme busuk ini. Sebelum terlambat dan hanya menyisakan penyesalan. Mari kita  memberikan waktu dan harta yang terbaik untuk memperjuangkan agamaNya. Inilah waktu yang tepat untuk bergabung dan berjuang bersama dengan kelompok ideologis. Jadilah pejuang Islam yang menyebarkan ajaran Islam ke tengah-tengah umat.[]

Oleh: Nabila Zidane, Forum Muslimah Peduli Generasi dan Perubahan

Posting Komentar

0 Komentar