Derita Keluarga Tiada Henti di Sistem Sekuler

Publik kembali dihebohkan dengan kasus antara anak dan ibu. Sang anak yang tega memenjarakan ibu kandungnya. Di tengah kondisi pandemi, seharusnya semua orang dapat menahan diri dari segala perselisihan dan memberikan keamanan dalam keluarga, nyatanya rumah belum menjadi tempat nyaman dan menenangkan. Melupakan baktinya pada orang tua, anak memenjarakan ibu kandungnya muncul kembali di awal tahun ini. Yang lebih memprihatinkan, anak tersebut adalah seorang mahasiswa berumur 19 tahun. 

Gadis itu mengungkap bahwa ia ingin menegakkan keadilan. Sehingga keadilan itu bisa digunakan untuk intropeksi ibunya atas perlakuan kepadanya, ungkap gadis tersebut.
Lewat video yang beredar di media sosial, Senin 11 Januari 2021, si anak membela diri bahwa ia bukanlah anak durhaka yang tega memenjarakan ibu kandungnya sendiri tanpa alasan yang jelas. Ia hanya ingin keadilan itu terwujud. Maka ia tidak akan pernah mencabut laporan tersebut di polisi (Tribunnews.com/11/01/21).

Aksi nekat seorang anak memenjarakan ibu kandungnya lantaran 2 tahun terakhir hubungan ayah ibunya tak harmonis. Sehingga hubungan ibu dengan anaknya pun renggang. Apalagi saat ayahnya tak lagi tinggal bersama, dan anak gadisnya lebih memilih untuk ikut ayahnya. Suatu hari anaknya pulang ke rumah ibunya untuk mengambil beberapa pakaian. Disitulah mulai terjadinya cekcok. Sang anak gelap mata sehingga tega mendorong ibunya dan berakhir pada pelaporan penganiayaan terhadap anak. Luka gores di pelipis dan hidung itulah yang dijadikan bukti kuat atas kasus KDRT.

Fenomena anak gugat ibu kandungnya ke dalam penjara akibat ketidak harmonisan dalam keluarga merupakan bukti rusaknya sistem kehidupan yang diterapkan saat ini. Interaksi dalam keluarga tidak dibangun berdasarkan keimanan. Persoalan rumah tangga yang sering terjadi terutama sebagian besar karena masalah ekonomi dan tidak paham akan tanggung jawab anggota keluarga.

Anak yang sering melihat pertengkaran orangtua akan memiliki mental keras. Ditambah tayangan yang memperlihatkan kandal rumah tangga bertebaran. Sehingga anak mencari pelampiasan atau cara menyelesaikannya. Maka tak heran jika kasus ini dari tahun ketahun akan terus bermunculan dengan persoalan yang sama. 

Jika akar masalahnya tak mampu diselesaikan, maka tragedi memprihatinkan ini akan terulang kembali di sistem kehidupan rusak seperti hari ini. Penerapan sistem yang bukan berasal dari Islam nyata-nyatanya mampu mengubah penghormatan anak terhadap ibu. Akibatnya lahirlah generasi-generasi yang durhaka.

Padahal perjuangan ibu takala ia mengandung selama 9 bulan tentu sangatlah berat. Kemudian, ibu bertaruh nyawa untuk melahirkan, menyusui dan merawat anaknya hingga tumbuh besar. Dari situlah seorang anak seharusnya berkewajiban untuk berbakti kepada ibunya.

Tak dapat dipungkiri, fenomena anak gugat ibu kandungnya sendiri akibat penerapan sistem sekuler (pemisahan agama dengan kehidupan). Agama tak boleh mengatur masalah keluarga. Sehingga terciptalah gaya hidup liberal bebas. Anak menjadi berperilaku tanpa batas merasa memiliki hak kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginan. Saat orang tua mengarahkan kebaikan untuk anak, mereka akan merasa terkekang karena berlawanan dengan kemauannya. Ditambah tayangan yang menampilkan hedonisme amat banyak disekitar mereka.

Jika keadaan buruk ini dibiarkan begitu saja, maka bangunan keluarga akan rusak, karena sistem sekulerisme hari ini telah berhasil meliberalisasi keluarga muslim. Mulai dari anak yang tak mengindahkan orang tua, terlebih perintah Rabb-Nya. Orang tua yang belum paham syariat membebaskan anaknya untuk berperilaku sesuai kehendaknya sekalipun melawan aturan Allah Pencipta Alam. Oleh karena itu harus dikembalikan kepada aturan Allah untuk membangun keluarga yang kokoh aqidahnya.

Islam memberikan perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan memelihara kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran akibat sistem sekulerisme. Mengapa Islam begitu perhatian pada kehidupan keluarga? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah pondasi pertama untuk membangun masyarakat Muslim dan merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di muka bumi. 

Pondasi itu adalah aqidah Islam. Dalam keluarga, aqidah Islam itu harus mengakar kokoh untuk menopang bangunan di atasnya.
Maka tujuan keluarga dalam Islam haruslah jelas, seperti di dalam surat At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Keluarga yang memiliki tujuan jelas, akan menjadikan aqidah Islam sebagai asas kehidupannya. Setiap anggota keluarga paham tujuan penciptaannya serta saling mengingatkan ketika masing-masing anggota melakukan sesuatu yang salah. Standar perbuatan berdasarkan aturan Allah yaitu halal dan haram. Sehingga anak sadar bahwa surga berada di kaki ibunda mereka akan berbakti kepada orang tuanya. Sedangkan orang tua sadar bahwasannya anak adalah amanah dari Allah. Maka ia akan dididik, dibimbing untuk menjadi putra putri sholih yang kelak menjadi penolongnya. 

Inilah bangunan keluarga yang kokoh benteng imannya. Sehingga tak goyah jika dihadapkan dengan problem dunia.
Terwujudnya keluarga harmonis tak terlepas dari peran negara. Negara harus menegakkan sistem Islam yang mampu membangun keluarga yang bertakwa di tengah-tengah masyarakat. Negara itu adalah Khilafah Islam yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh) dan akan menjaga ketakwaan individu maupun keluarga.

Di bawah naungan khilafah Islam, rumah akan dijadikan sebagai wadah menyiapkan generasi tangguh, generasi pemimpin dan generasi khoiru ummah. Maka sebagai seorang muslim kita harus bersegera meninggalkan sistem rusak ini. Sudah begitu banyak permasalahan antara keluarga bahkan masyarakat yang tidak mampu diselesaikan oleh sekularisme. Solusi permasalahan manusia saat ini hanyalah kembali kepada aturan Allah, syariat Islam yang harus kita terapkan. Yang telah terbukti keberhasilannya sejak masa Rasulullah SAW. Wallahua'lam bish-showa'ab.[]

Oleh: Tri Wahyuni Purbawati, S.Pd
(Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar