Demokrasi Akan Mati, Islamlah Solusi yang Hakiki


Jika kita merujuk pada kelahirannya, demokrasi tak bisa lepas dari ideologi kapitalisme. Demokrasi melegitimasi dirinya sebagai pandangan bahwa manusia berhak membuat undang-undang. Menurutnya, rakyat sebagai sumber kekuasaan dan membuat undang-undang serta yang menggaji kepala negara untuk menjalankan undang-undang yang telah dibuatnya. Rakyat berhak mencabut kekuasaan dari kepala negara, mengganti dan mengubah undang-undang sesuai kehendaknya.

Itu semua terjadi karena demokrasi adalah kontrak kerja antara rakyat dan kepala negara tersebut, yang digaji untuk menjalankan pemerintahan sesuai undang-undang yang dibuat rakyat. Namun, benarkah praktiknya sedemikian ideal? Nyatanya tidak! Sekalipun demokrasi lahir dari rahim kapitalisme, namun porsi idealismenya kurang terlihat dibandingkan sistem ekonomi dalam menjiwai ideologi kapitalisme tersebut.

Penerapan ideologi kapitalisme di negara-negara Barat sangat memengaruhi elite kekuasaan. Mereka tunduk kepada para kapitalis/pemodal. Di negara-negara penganut kapitalisme, para kapitalislah yang menjadi penguasa sesungguhnya. Demokrasi juga efektif sebagai sarana menghidupkan kembali ideologi sosialisme-komunisme. Faktanya, komunisme juga menyuarakan demokrasi dan menyatakan kekuasaan berada di tangan rakyat. 

Namun sangat mengejutkan, melalui buku How Democracies Die, para pakar demokrasi memprediksikan demokrasi akan mati. Ini sama saja mengukur pada usia berapa demokrasi mati. Tidakkah ini suatu sinyal kuat? Para penganut demokrasi pun meragukan masa depannya bagi kemaslahatan dunia. Ini membuktikan ketidaklayakan kapitalisme dan sosialisme-komunisme sebagai ideologi bagi dunia.

Ketidaklayakan tersebut dapat kita lihat dari kerusakan yang terjadi di berbagai bidang, di antaranya: Pertama, bidang politik. Muara dari politik kapitalisme adalah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Kalau pun ada agama hanya sebagai simbol untuk kepentingan politik. Ada tiga indikator yang memperkuat fenomena era demokrasi akan berakhir. Pertama: Semakin hegemoniknya pengaruh korporasi dalam proses pengambilan keputusan publik, baik di lingkungan eksekutif maupun legislatif. Kedua: semakin banyaknya politisi yang semakin memperkaya diri dan mementingkan kelompoknya. Ketiga: Kian menurunnya partisipasi masyarakat dalam pemilu sebagai wujud kekecewaan mereka terhadap demokrasi. 

Kedua, bidang ekonomi. Watak dasar kapitalisme adalah akumulasi keuntungan tanpa henti (endless accumulation) yang tercermin pada naluri primitif untuk mengakselerasi pertumbuhan. Menurut John McMurtty, The Cancer Stage of Capitalism, Pluto Press, 2009, hasrat mengakumulasi kapital yang tak bertepi dalam kapitalisme menjalar seperti kanker, yang terus tumbuh mengantarkan seseorang ke pintu kematian. Kapitalisme juga mendorong terjadinya eksploitasi kekayaan alam demi pemilik modal. Sebagai contoh, industri tambang merupakan bisnis yang sangat menguntungkan pemilik bagi kapitalisme. Dari situlah pundi-pundi uang mereka terus bertambah.

Kapitalisme juga menghitung ekonomi secara semu. Sebagai gambaran, baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 sebesar 2,97% year on year. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 merupakan terendah sejak 2001. (Kontan 05/05/20) 

Kondisi ini langsung disikapi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan mengungkapkan bahwa skenario terberat pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2020 akan berada di posisi 0,3 persen sehingga minus 2,6 persen. Bahkan ia menyebutkan kuartak kedua 2020 merupakan periode terberat untuk perekonomian Indonesia (Kompas, 15/04/2020). Fakta ini adalah sesuatu yang sangat membahayakan karena mengindikasikan ekonomi mengalami krisis bahkan menuju resesi. 

Ketiga, bidang sosial. Semua kekacauan yang terjadi bermuara pada prinsip dasar sekularisme yang mengusung ide-ide kebebasan. Ukuran kebahagiaan bersifat materi saja, sedangkan unsur spiritualitas sosial dalam penerapan kehidupan publik diabaikan yang berakibat penyakit-penyakit sosial semakin marak, kejahatan merajalela dan terus berulang tanpa solusi yang mendasar. Keberadaan agama hanya menjadi pengisi dahaga spiritualitas personal belaka. 

Negeri-negeri kaum Muslimin sebagai penghuni bumi dengan jumlah terbesar ini sepatutnya meraba diri. Ideologi apa yang tengah mereka jalani? Apakah ideologi tersebut sesuai fitrah kemanusiaannya? Karena banyak ketimpangan dan ketidaknormalan  dalam kehidupan ini. Belum ada satu pun negara di dunia mengambil Islam sebagai ideologi. 

Fitrah manusia pada dasarnya cenderung pada agama dan akan mencari jalan kembali pada fitrahnya tersebut. Ini naluriah manusia akan selalu mencari sesuatu yang jauh lebih sempurna dibandingkan dirinya untuk selalu diagungkan.

Sehingga jelas, ideologi kapitalisme dan sosialisme-komunisme bertentangan dengan fitrah manusia. Keyakinan pada Sang Pencipta berperan penting mengatasi permasalahan hidup manusia dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah Islam. Islam sesuai dengan fitrah manusia, pasti mudah diterima manusia. Ketika manusia tidak menjadikan Islam sebagai dasar, mereka akan keliru menerapkan Islam di tengah-tengah manusia lainnya. Maka, wajib menjadikan Islam sebagai ideologi dalam kehidupan.

Sebagai agama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW dan berlaku hingga akhir zaman, Islam dapat diterapkan kapan pun dan di mana pun. Sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh jika kaum Muslimin di seluruh dunia menghendaki tegaknya negara berideologi Islam. Tegaknya sistem khilafah adalah suatu kebutuhan mendesak di saat kaum Muslimin dan manusia seluruhnya terlalu lama hidup dengan aturan yang bertentangan dengan fitrah mereka.

Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin  yang berperan  penting untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Khilafah sebagai penjamin penerapan ideologi Islam secara sempurna dan menyeluruh, suatu kewajiban yang akan menopang tegaknya kewajiban-kewajiban lain yang ditetapkan hukum syariat yang mencakup seluruh aspek kehidupan, yakni sosial, ekonomi, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam, militer, politik, pemerintahan dan sebagainya. 

Keberhasilan penerapan ideologi Islam tercatat dalam sejarah, umat Islam pernah menjadi umat yang terdepan di dunia dalam berbagai bidang  seperti peradaban, tsaqafah dan ilmu pengetahuan. Khilafah Islamiyah telah  berjaya di dunia selama kurang lebih 13 abad, menjadi kebanggaan dunia.

Hendaknya kaum Muslimin mengambil Islam seutuhnya sebagai ideologi. Ideologi Islamlah variabel yang tepat menuju tegaknya Khilafah Islamiyah. Islam akan berlaku sebagai akidah yang di atasnya dibangun pandangan tentang kehidupan dan akan mengatur kehidupan yang bersumber dari akidah Islam. 

Tentunya, demokrasi akan mati, Islamlah solusi yang hakiki. Manusia dipastikan tidak menjadi sumber hukum dan undang-undang. Legalitas hukum terletak di tangan syariat. Standar kebahagiaan dalam kehidupan pun dikembalikan pada rida Allah SWT, yakni dengan senantiasa terikat pada aturan-Nya.[]

Oleh: Q.A.Chusna 
(Guru dan Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)

Posting Komentar

0 Komentar