Covid Varian Baru dan Sistem Khilafah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. Hal itu disebabkan karena munculnya Varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris diduga telah berada di Jerman sejak November dari pemeriksaan sampel pasien yang telah meninggal. 

Menurut laporan Die Welt pada Senin (28/12/2020), dokter Jerman mendeteksi  varian baru virus corona secara retrospektif terhadap sampel pasien yang lebih tua yang meninggal. (SindoNews.com, 27/12/2020)

Analisis awal terhadap sampel pasien Covid-19 menunjukkan gejala dari varian virus corona tersebut tidak lebih parah. Negara bagian Baden-Wuerttemberg Jerman mengatakan pada pekan lalu bahwa otoritas lokal telah mendeteksi varian baru virus corona juga telah menginfeksi orang yang terbang ke Frankfurt dari Inggris pada 20 Desember. 

Orang tersebut adalah pelancong yang ingin mengunjungi kerabat dan dinyatakan positif varian baru Covid-19 pada saat kedatangan. Orang tersebut dijemput dari bandara dengan mobil oleh anggota keluarga dan telah diisolasi di kediaman mereka sejak saat itu. (Kompas.com, 29/12/2020)

Pernyataan WHO adalah pengakuan kegagalan sistem sekuler menghentikan sebaran virus. Pasalnya pandemic ini sudah sangat lama menjangkit berbagai belahan dunia dan mengharuskan seluruh rakyat untuk melakukan social distancing. Tidak hanya itu, bahkan banyak program-program yang memang dikerahkan guna menghambat persebaran virus ini. Seperti contohnya kewajiban WFH dan pembelajaran daring untuk murid dan mahasiswa selama berbulan-bulan. 

Tapi nyatanya hal itu bukan menjadikan solusi. Malah semakin memperparah keadaan dan menjadikan munculnya virus baru. Hal ini menunjukkan buruknya sistem sekuler dalam menangani adanya wabah penyakit. Berbeda dengan sistem khilafah. 

Pada dasarnya sistem khilafah sudah memiliki cara untuk menghentikan penularan dan mutasi virus, sehingga sebuah wabah tidak akan menjadi pandemi. Dalam Negara Islam (Khilafah), Pemerintah akan selalu terikat dengan tuntunan syariah, termasuk dalam mengatasi wabah. 

Pemerintah akan bekerja keras dan serius untuk membatasi wabah penyakit di tempat kemunculannya sejak awal. Sehingga tidak akan ada muncul virus baru ataupun pandemi baru di suatu negara. Salah satunya dengan proses karantina wilayah terdampak. Dalam hal ini Nabi Saw. bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, jangan kalian tinggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari)

Rasul saw. pun bersabda:

الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

"Tha’un itu azab yang dikirimkan Allah kepada Bani Israel atau orang sebelum kalian. Jika kalian mendengar Tha’un menimpa suatu negeri, janganlah kalian mendatanginya. Jika Tha’un itu terjadi di negeri dan kalian ada di situ, janganlah kalian keluar lari darinya." (HR al-Bukhari)

Metode karantina di dalam negara Islam ini telah mendahului semua negara. Ini pula yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra. saat terjadi wabah Tha’un pada era kepemimpinannya. Inilah yang seharusnya diteladani oleh para pemimpin Muslim saat menghadapi wabah.

Ketika wabah telah menyebar dalam suatu wilayah, negara wajib menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan secara gratis untuk seluruh rakyat di wilayah wabah tersebut.  Negara harus mendirikan rumah sakit, laboratorium pengobatan dan fasilitas lainnya untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat agar wabah segera berakhir. Negara pun wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, khususnya kebutuhan pangan rakyat di wilayah wabah tersebut.

Adapun orang-orang sehat di luar wilayah yang dikarantina tetap melanjutkan kerja mereka sehingga kehidupan sosial dan ekonomi tetap berjalan.

Inilah langkah-langkah sahih yang akan dilakukan oleh negara yang menerapkan syariah  Islam secara kaffah. Oleh karena itu, tidak heran jika sistem Islam (khilafah) menjadi suatu sistem yang sangat dirindukan oleh ummat karena kecekatannya dalam menjalankan tugas untuk mengurusi urusan ummat khususnya pada saat terjadinya pandemi seperti saat ini.[]

Oleh: Himatul Hindam Madiana Arifin

Posting Komentar

0 Komentar