Covid-19 Meningkat Lagi, Sudahkah Jadi Bahan Evaluasi?


Hampir setahun pandemi menimpa negeri. Bukan kebetulan jika Covid-19 tak juga beranjak pergi. Pasti ada tujuan dari penciptaan makhluk kecil ini. Siapa yang berani meremehkan kekuatan yang tersembunyi? Hampir seluruh dunia terkena imbas hingga kini. Paling dirasakan karena menimpa ekonomi. 

Kebijakan demi kebijakan sudah dicoba terapkan. Namun corona semakin melebarkan sasaran. Wilayah yang sudah merasa aman, kembali tercengang karena terjadi peningkatan. Selama hampir satu tahun terpapar, sudah ketemukah solusi yang benar? Sudahkah menjadi bahan muhasabah?

Seperti dilansir dari Sindonews.com, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa kenaikan kasus aktif Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren yang memburuk. Dia menyoroti bahwa peningkatan kasus aktif Covid-19 di Indonesia semakin cepat. Pada periode Maret hingga Juli, kasus aktif meningkat dari 1.107 kasus menjadi 37.342.
"Dan ini membutuhkan waktu empat bulan. Peningkatan kasus aktif ini juga diikuti peningkatan testing mingguan hingga 50%. Pada periode ini, peningkatan dibarengi dengan event libur panjang Idul Fitri pada tanggal 22 sampai 25 Mei 2020," katanya saat konferensi pers, Kamis (24/12/2020).

"Kenaikan tertinggi dalam waktu tersingkat terjadi pada periode bulan November hingga Desember ini. Kasus aktif meningkat dua kali lipat dari 54.804 menjadi 103.239 hanya dalam waktu satu bulan.
Hal ini dibarengi dengan peningkatan testing yang lebih rendah dari sebelumnya yakni 30%. "Sedangkan persentase daerah yang tidak patuh protokol kesehatan juga meningkat 48,01%. Pada periode ini kita sempat melewati event libur panjang 28 Oktober hingga 1 November 2020," lanjutnya.


Penyebab Korban Covid-19 Meningkat 

Sudah hampir satu tahun kondisi pandemi menimpa negeri ini. Sudah seharusnya para pemimpin negeri melakukan evaluasi. Kebijakan demi kebijakan dibuat untuk mengatasi. Namun tak ada perubahan berarti. Hingga umat bosan dan nekat keluar untuk mengais rezeki. Semakin banyak yang berani menerjang badai. Apalagi diterapkan new normal demi menyelamatkan sektor ekonomi.

Sungguh negara yang menerapkan sistem kapitalis hanya fokus sisi untung rugi. Lamanya pandemi dan pekerja melakukan WFH atau bekerja dari rumah, terjadilah kerugian perusahaan di berbagai lini. Berharap dengan new normal kerugian ekonomi bisa diselamatkan.

Benar-benar negara tak mempedulikan keselamatan umat. Suasana seakan normal, terjadi keramaian di sana sini. Nyawa umat bukan menjadi prioritas lagi. Korban berjatuhan tak terkendali. Apalagi jika kondisi terjadi libur panjang hingga dimanfaatkan berkumpul dengan keluarga dan handai taulan. Jadilah klaster keluarga menambah jumlah korban.

Penyebab lain yang disalahkan adalah tidak tertibnya umat menjalankan protokol kesehatan. Pemerintah mencanangkan setiap keluar rumah harus memakai masker, namun banyak umat yang kemana-mana tak mengenakan. Begitu pula adanya kerumunan di mana-mana. Hajat resepsi tak ada larangan, sehingga banyak yang mengadakan pesta pernikahan. 

Apalagi yang baru berlalu, pesta demokrasi dilakukan di berbagai wilayah seluruh negeri. Lha, bagaimana bisa, menyuruh umat taat jika pemerintah mengijinkan pesta demokrasi itu berlangsung? Jadilah klaster tak terkendalikan. Banyak kandidat dan pejabat menjadi korban Covid-19. Begitu pula para panitia penyelenggara pesta demokrasi pilkada tersebut.

Mengapa terjadi peningkatan? Karena tiada kesadaran menjalankan aturan yang dibuatnya sendiri. Jika harus menerapkan protokol kesehatan, pada saat ada umat melanggar. Siapapun itu haruslah ada sanksi agar jera. Baik itu terkait pemakaian masker yang tampak mata, juga hindari kerumunan. Harus ada tindakan tegas, jika itu memang berbahaya maka harus dilarang. Bukannya menegakkan sanksi justru dilanggar sendiri.

Maka dari itu jangan heran jika terjadi peningkatan jumlah korban corona di berbagai wilayah negeri ini? Apalagi tampak nyata, kalau negara tak serius mencari solusi membasmi virus ini. Solusi yang diprioritaskan adalah menyelamatkan faktor ekonomi yang terkoyak hingga rusak parah. 

Negara tak mengutamakan nyawa umat yang bisa terancam setiap saat karena serangan virus tanpa kompromi di mana tempat bisa jadi sasaran. Juga fasilitas pengobatan dan tenaga medis, para medis hanya diperhatikan sekedarnya. Lantas apakah berhasil solusi yang diambil negara untuk selamatkan ekonomi?

Sudah jatuh tertimpa tangga. Sektor ekonomi tetap hancur, nyawa umat melayang tak terkendalikan. Hingga berita terbaru, terjadi kenaikan kembali jumlah korban corona di negeri ini. Lantas sudah adakah solusi untuk mengatasi? Masihkah fokus atasi ekonomi dengan mengabaikan nyawa umat?


Bagaimana Islam Mengatasi Ujian Pandemi?

Saat terjadi pandemi menimpa negeri. Pemerintah Islam akan melakukan isolasi. Hanya daerah yang terkena wabah yang diisolasi. Sehingga daerah lain tetap beraktivitas seperti biasanya. Faktor ekonomi tetap berjalan hingga tidak akan terjadi defisit maupun inflasi.

Prinsipnya jika harus dipisahkan antara umat yang sehat dengan yang sakit. Jadi sejak awal langsung sigap dilakukan pemeriksaan. Umat sehat akan dikeluarkan dan bisa aktivitas biasa. Baik itu bekerja, sekolah, mengaji, dakwah dan segala aktivitas tetap berjalan. Hanya wilayah yang diisolasi yang dipantau negara untuk dijamin seluruh kebutuhannya. Umat yang sakit juga akan mendapat fasilitas pengobatan terbaik agar segera sehat.

Pemerintah Islam sangat memuliakan jiwa umatnya. Jangankan terjadi ribuan korban meninggal. Satu saja jiwa muslim jauh lebih berharga dibanding dunia seisinya. Maka tidak heran, jika pemerintah Islam akan mengutamakan sektor kesehatan karena menyangkut nyawa umat yang sangat berharga.

Demikian pedulinya pemerintah Islam dalam meriayah umatnya. Semua dilakukan karena menjalankan aturan dari Allah, bukan kemauan sendiri atau mengikuti hawa nafsu belaka. Jika fokus pelaksanaan  adalah penerapan aturan Allah maka Allah akan memberikan kebekahan.

Bagaimana dengan negeri yang mengabaikan aturan Allah? Tidakkah peningkatan jumlah korban yang semakin meningkat ini jadi bahan evaluasi? Adakah karena banyaknya pelanggaran yang dijalani? Bisa saja pandemi menjadi wasilah, karena Allah menginginkan penduduk negeri kembali ke jalan ketaatan. Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh: Lilik Yani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar