Corona Virus Kian Masif dan Agresif, Islam sebagai Solusi



Indonesia kini tengah memasuki bulan ke sebelas yang sedang berperang melawan coronavirus. Bahkan memasuki awal Januari 2021, korban yang terpapar pun makin melonjak naik. 

Corona virus kian masif dan terus menyerang tidak peduli siapa pun. Tim medis sebagai pejuang di garda terdepan pun tak kalah banyaknya yang telah tumbang. Tercatat 504 tim nakes yang telah wafat. Sungguh sangat menyedihkan.

Korban dari tim medis Indonesia adalah paling tinggi se-Asia. Kekurangan APD (Alat Pelindung Diri), menjadi salah satu pemicu meningkatnya angka korban dari pihak tenaga kesehatan (nakes) Indonesia. Ironi sekali sebab anggaran yang dikeluarkan untuk penanganan covid-19 sangatlah besar. Namun, mengapa sampai saat ini APD para nakes masih minim dari standar yang seharusnya. Bahkan temuan studi FKUI, 2% nakes tidak mendapatkan APD (CNN.Indonesia, 04/09/20).

Dilansir dari kompas.com., jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Itu artiya, jika kehilangan 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak memiliki dokter ( 29/12/2020).

Sungguh malang nasib para nakes Indonesia. Mereka diharuskan berperang di garda terdepan, akan tetapi tidak dipersenjatai dengan lengkap. Pemerintah terkesan pelit untuk hal-hal yang demikian. Akan tetapi untuk hal lain seperti pembangunan infrastruktur begitu mudahnya menggelontorkan dana. 

Kapitalisme Mengungkung Indonesia

Setelah melewati berbulan-bulan menghadapi corona virus, korban yang terpapar bukannya berkurang. Malah semakin banyak. Rumah sakit di berbagai daerah penuh, bahkan bukan hanya rumah sakit saja yang penuh. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai cadangan pun sudah penuh. Para nakes pun mulai kewalahan, menghadapai pasien coronavirus yang membludak. 

Ketika nakes kewalahan dengan pasien yang membludak. Nakes berusaha keras untuk memberikan pelayanan terbaiknya, meskipun APD dan kelengkapan lainnya sangat minim. Namun jika demikian halnya sama saja dengan membunuh diri sendiri. Akhirnya korban pun tidak bisa terelakkan lagi dari kedua belah pihak, baik dari yang mengobati (nakes) atau pun dari para pasien. 

Dalam sistem kapitalisme, motif ekonomi lebih kental dibanding hal lainnya. Terbukti dengan ketidakpeduliannya pemerintah terhadap keselamatan nakes dengan tidak memberikan peralatan kesehatan yang seharusnya. 

Tidak hanya abai terhadap nyawa nakes. Namun, abai juga terhadap nyawa rakyat. Terlihat dari penangangan pandemi yang tidak serius. Mengakibatkan jumlah korban bertambah terus setiap harinya. 

Sistem saat ini yakni sistem kapitalisme hanya peduli dengan materi. Persoalan ekonomi juga kekuasaan lebih penting dari pada nyawa rakyat. Terbukti dengan tetap dibukanya sektor pariwisata untuk menambah pemasukan. Perhelatan pilkada serentak yang tetap digelar meski ditengah pandemi, tidak menyurutkan pemerintah untuk menunda sekalipun.

Pada akhirnya kerumunan pun terjadi di mana-mana dan mengakibatkan kluster baru terus bermunculan. Dampaknya adalah korban yang terpapar pun kian banyak. 

Sistem kapitalisme saat ini hanya memandang ekonomi sebagai ladang untuk memperkaya diri, dan jabatan sebagai bagian dari kekuasaan untuk mendulang manfaat semata dalam mencapai apa yang diinginkan. 

Kebijakan-kebijakan pemimpin pun sarat dengan kepentingan. Kolaborasi dengan para korporat menjadikan kekuasaan bukan untuk menjaga rakyat, melainkan mencari sebuah keuntungan. Rakyat hanya dijadikan korban keserakahan para penguasa dan para kapitalis. 

Islam Melindungi Nyawa Manusia

Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah, sebagai agama yang diridhoi-Nya, dan akan menyelamatkan manusia baik di dunia mau pun di akherat sangat memperhatikan sekali perlindungan nyawa manusia. Bahkan hewan dan tumbuhan sekali pun. 

Semisal burung yang berada dalam sangkar. Islam menganjurkan untuk melepaskannya, agar burung tersebut bisa bebas terbang menikmati hidupnya diangkasa sebagai fitrahnya. 

Dalam hal beperang sekali pun Islam sangat melindungi nyawa manusia. Semisal kaum perempuan, anak kecil, orang tua tidak diperkenankan untuk dibunuh. Bahkan menebang pepohonan pun sangat dilarang.

Begitu juga dengan tawanan perang. Harus diperlakukan drngan baik, tidak boleh menyakiti apalagi sampai menghilangkan nyawa seorang tawanan. Semua yang berada dalam naungan Islam, nyawa seseorang sangat dilindungi. Begitu berharganya sebuah nyawa, sebab dalam Islam hilangnya sebuah nyawa lebih berharga dari dunia dan seisinya. 

Seperti halnya hadits rosulullah saw. 
"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani)

Tidak jauh berbeda dalam hal kekuasaan. Islam memandang bahwa penguasa atau pemimpin sangat bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Kebijakan yang diambil berdasarkan aturan Islam yang telah digariskan. 

Kebijakan dalam menangani pandemi pun Islam telah mencontohkan bahwasannya perlindungan terhadap nyawa lebih penting dari apa pun. Kebijakan karantina wilayah atau lockdown adalah salah satu cara dalam memutus rantai penyebaran virus. 

Pemimpin dalam sistem Islam betul-betul memikirkan keselamatan yawa rakyat. Pandemi tidak akan dibiarkan berlarut-larut. Orang sakit dan sehat akan segera dipisahkan. Agar virus tidak menular kepada yang lainnya. Juga pembuatan vaksin dengan cepat, sebagai pengobatan secara medis. Pemerintah wajib mendukung tim kesehatan yang ahli dalam pembuatan vaksin dan memberikan dukung penuh dengan cara memberikan dana untuk penelitian dalam rangka menemukan vaksin.   

Tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah besar. Sehingga dalam pengambilan kebijakan pun jangan sampai salah. Sebab akan berdampak fatal. 

Maka dari itu, sudah seharusnya para pemimpin mengikuti cara-cara yang telah dianjurkan dalam Islam dalam pengambilan sebuah kebijakan apa pun. Termasuk kebijakan menangani pandemi. Pemimpin itu bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. 

"Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari)

Demikianlah Islam memandang seorang pemimpin dalam pengambilan sebuah keputusan. Tidak boleh sembarangan, sebab kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Begitu pun dengan rakyat, kelak akan meminta pertanggung-jawaban seorang pemimpin.

Maka untuk mengatasi coronavirus yang kian masif dan agresif adalah dengan menerapkan sistem Islam sebagai solutif atau jawaban dari permasalahan yang tengah terjadi saat ini. Wallahu'alam bishawab.[]


Oleh: Siti Ningrum, M.Pd. (Pegiat Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar